:::

RTI Radio Taiwan InternationalRTI Radio Taiwan InternationalManusia & Teknologi - 2022-08-04

  • 04 August, 2022

Bitcoin anjlok, El Savador cemas.  Nayib Bukele akan mempertaruhkan masa depan negara ini?

El Savador adalah negara pertama di dunia yang mengadopsi sistem pembayaran mata uang virtual sebagai alat pembayaran yang sah secara nasional. baru saja metode pembayaran ini berjalan selama kurang lebih 1 tahun, kini harus di hadapi dengan nilai Crypto yang jatuh. hal ini menyebabkan cadangan kas negara menyusut secara signifikan, hingga saat ini sudah hampir menyentuh miliaran dollar NT Taiwan. akan tetapi Presiden El Savador berkata lain, dari keputusan yang di ambil bahwa bencana ini masih dapat di tanggulangi bahkan menganjurkan warganya untuk membeli mata uang Cyrpto lebih banyak lagi. nampaknya runtuhnya pasar Bitcoin membawa beberapa hal yang baru bagi El Savador. di lain sisi, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor keuangan misal perusahaan penyedia jasa penukaran mata uang konvensional ke Crypto yang terpaksa gulung tikar alias bangkrut satu per satu, hal ini dapat di kategorikan sebagai " Level Krisis tingkatan Lehman".

dengan kondisi pasar Crypto yang semakin memburuk ini, Presiden El Savador yang berkuasa pada saat ini, Nayib Bukele dengan dalih membelanjakan uangnya sendiri untuk membeli Bitcoin, walau akhirnya hal ini berujung kepada pembelian Bitcoin secara besar-besaran yang mengatas-namakan kas negara. 30 Juni 2022, Bukele via akun Twitter miliknya mencuitkan bahwa telah membeli 80 Bitcoin dengan Harga 1.5 Juta US Dollar ( setara dengan 44.681.250 NT Dollar ). sekaligus memajang foto dirinya yang sembari mengedipkan mata seraya menyerukan bahwa " Bitcoin adalah masa depan, harga ini terlalu murah". ketika pasar Crypto jatuh dan para investor sudah mulai menderita kerugian yang besar, Nayib Bukele masih optimis terhadap masa depan Bitcoin. lalu pada pertengahan di bulan Juni, dirinya juga kembali mencuit via laman Twitter mengajak warga El Savador untuk bersabar dengan Bitcoin.

Terhitung semenjak September 2021, El Savador menjadi negara pertama di dunia yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah secara nasional. dengan penggelontoran dana kas negara sebanyak 105 US juta dollar ( setara 3.129 Milliar NT Dollar ), hingga saat ini sudah membeli sebanyak 2300 keping Koin Bitcoin. namun di karenakan jatuhnya pasar Bitcoin belakangan ini, nilai kepemilikan Bitcoin di El Savador telah menyusut sebanyak 60%, artinya nilai menguap sebanyak 61 Juta US Dollar ( Setara 1.8 Milliar NT Dollar).

Alejandro Zelaya, Menteri Keuangan El Savador menjabarkan situasi terkini dalam sebuah wawancara televisi lokal. bahwasannya El Savador tidak mengalami kerugian secara nyata, hal ini di sebabkan bahwa Negara tidak menjual Bitcoin. sekaligus mempertegas bahwa adopsi dari penggunaan sistem Bitcoin dengan skala nasional yang hanya menghabiskan 0.5% dari anggaran negara. " saya bermimpi dengan menggunakan Bitcoin untuk meningkatkan perekonomian negara. Bukele berharap agar dapat menggunakan Bitcoin sebagai batu loncatan demi meningkatkan ekonomi renda di negara Amerika Tengah, dan telah menggelontorkan anggaran sebesar 200 Juta US Dollar ( setara 5.9 Milliar NT Dollar ) pada september 2021. ragam sosialisasi serta edukasi kepada warga agar dapat mendorong para pengguna secara nasional untuk mengunduh aplikasi via smartphone sebuah pembayaran E-Wallet yang di rilis oleh pemerintah. setiap pengguna dapat menerima Bitcoin senilai 30 US Dollar ( setara 893 NT dollar ) untuk pengajuan perdana. dengan E-Wallet Bitcoin yang bernama Chivo Wallet, dimana dalam bahasa gaul Salvador yang berarti Keren. selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan 200 ATM Bitcoin yang tersebar di seluruh negeri, dengan tujuan sekaligus mempromosikan tempat wisata dengan konsumsi Bitcoin sebagai nilai jual utama.

El Zonte, sebuah resor yang kerap di datangi oleh para peselancar yang lebih di kenal sebagai Pantai Bitcoin dan Chivo Pets, yaitu adalah rumah sakit khusus binatang peliharaan. tujuannya adalah menarik perhatian turis mancanegara untuk tetap menggunakan Bitcoin. di percaya metode ini akan menarik investasi besar dari perusahaan asing yang mampu mendongkrak pembangunan ekonomi nasional serta menciptakan lapangan kerja yang baru. dengan sosialisasi yang terus di dukung oleh pemerintah, puluhan ribu warga telah mengunduh E-Wallet. Menteri Pariwisata El Savador Morena Valdez menjabarkan bahwa Bitcoin telah membawa peluang baru, jelas terlihat setelah adopsi Bitcoin, arus serta pangsa pasar wisatawan dalam negeri telah meningkat sebanyak 30% di tahun 2021.

hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di tahun 2022, dimana penggunaan E-Wallet telah turun secara signifikan. berdasarkan dari survei oleh Biro Riset Ekonomi Nasional - Amerika Serikat, hanya tersisa sebanyak 10% pengguna yang terus menggunakan E-wallet resmi, terhitung dari aktivasi akun perdana, mendapatkan insentif sebanyak 30 US Dollar hingga hari ini. dimana di awal tahun 2022, sejauh ini tidak ada warga yang mengunduh aplikasi E-wallet lagi.

Asosiasi Dagang El Salvador telah melakukan sebuah survei dengan menyebarkan kuesioner semenjak bulan Maret 2022 dan menemukan data bahwa semenjak pemerintah meluncurkan program Bitcoin, dari 10% perusahaan menggunakan Bitcoin dalam pelbagai transaksi, dimana hanya terdapat 3% yang percaya bahwa Bitcoin memiliki nilai komersil.

Pengamat Ekonomi dari University of Chicago - Fernando Alvarez menilai bahwa pemerintah telah berusaha dengan gigih untuk mendorong kebijakan ini, namun tetap gagal. hal ini di nilai bahwa majoritas warga tidak mengetahui terkait apa itu Bitcoin. secara fakta dimana El Savador memiliki 1/4 populasi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, dari jumlah tersebut terdapat 70% populasi yang tidak memiliki rekening di bank. setelah Bitcoin menjadi alat pembayaran yang sah secara nasional, akan timpang secara umum, dimana masyarakat pada umumnya lebih memilih uang tunai sebagai alat pembayaran. seorang pemudah yang berusia 32 tahun, dengan profesinya sebagai penjaga keamanan di pantai Bitcoin, Ismael Lopez mengatakan bahwa majoritas warga tidak menggunakan Bitcoin, karena majoritas pengunjung tidak mengetahui tentang Bitcoin, hanya sejumlah turis yang menggunakan Bitcoin.

Enrique Dans, seorang professor di sistem informasi dari IE Business School - Spanyol mengatakan, bahwa Bitcoin masih dalam tahap awal ekplorasi, nilai dari Bitcoin akan sangat bergantung kepada tingkat adopsinya oleh masyarakat. dimana mata uang Crypto adalah mata uang masa depan, apakah akan menjadi alat pembayaran yang dapat di terima oleh khalayak ramai, dirasa masih membutuhkan sedikit waktu karena di nilai belum cukup stabil. Dans juga percaya bahwa penduduk lokal yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki kendala tinggi untuk mengakses Bitcoin, ditambah dengan perusahaan serta badan usaha lainnya yang memang lebih condong untuk memakai uang tunai ketimbang harus belajar ulang terkait paham teknologi serta risiko dari Bitcoin. pemerintah harus turut mempertimbangkan ada berapa banyak orang yang dapat dan terbiasa mengakses media digital.

sebuah studi yang di buat oleh National Institute of Economic Research juga menunjukkan bahwa terlepas dari berbagai kebijakan Bitcoin oleh pemerintah, mata uang Crypto masih belum di anggap sebagai alat tukar bagi sebagaian besar masyarakat.

Apakah Bitcoin adalah alih-alih untuk menutupi permasalahan pengelolaan negara?

 

Beberapa Kritikus percaya bahwa kebijakan pemerintah dalam menggunakan Bitcoin di El Savador tidak pro rakyat, dimana kebijakan ini hanya regulasi sepihak yang hanya menguntungkan para pengguna Bitcoin di dalam istana presiden. dimana para pengguna dengan perlakuan istimewa majoritas adalah orang asing, tiba di El Savador dengan menggunakan Helikopter dan mendarat di istana Presiden untuk melakukan beberapa kegiatan rekreasi dan di jamu langsung oleh kepala negara. kritikus menunjuk bahwa Bitcoin menjadi gimmick dari Presiden Bukele, dengan gimmick ini yang juga turut berkontribusi menarik perhatian media dari segala penjuru.

 

Wartawan El Savador, Nelson Rauda Zablah yang menuliskan salah satu rubrik di laman New York Times membeberkan bahwa Presiden Bukele berulang kali mempromosikan Bitcoin di tanah El Savador via Medsos, dimana pencitraan ini nampaknya menimbulkan wajah baru untuk El Savador, namun tidak sesuai dengan fakta di negara itu.

 

El Savador terjerumus dalam kekangan serta pelbagai permasalahan antar geng dalam kurun waktu yang sangat lama, pada akhir bulan Maret di tahun ini, Presiden Bukele memerintahkan sejumlah aparat negara dan mengambil tindakan Keadaan darurat selama 30 hari demi menindak-lanjuti serta program sapu bersih dalam melawan geng lokal. lebih dari 40.000 orang sudah di tangkap dan terdapat beberapa diantara terdakwa yang masih di bawah umur.

 

Para pengamat dan aktivitis dari kelompok Hak Asasi Manusia telah mengamati tindakan dari pemerintah dalam program penangkapan anggota geng, dimana insiden salah tangkap kerap terjadi, orang-orang yang terlihat seperti preman namun bukan preman. yang di khawatirkan adalah ketika penerapan kondisi darurat negara akan membuka pintu bagi pelanggaran Hak asasi manusia, sekaligus mengatas-namakan program sapu bersih sebagai dalih untuk bertindak sebagai pemimpin otoriter.

 

Hal ini mulai terlihat dari beberapa pengakuan media dan jurnalis independen di El Savador yang menyampaikan rasa kekecewaan akibat dari pelanggaran kebebasan pers serta sensor media secara serempak. disaat media yang merasa curiga terhadap oknum tertentu, maka tindakan tegas dari pemerintah dengan pasal mempengaruhi keamanan Nasional akan segera di tindak.dimana tindakan seperti ini lebih mirip dengan pembungkaman terhadap media. uniknya, pemerintah El Savador telah merevisi hukum pidana.

Masa depan negara di pertaruhkan ?

 

Masa depan El Savador sepenuhnya menjadi taruhan besar di mata dunia, tidak sedikit yang pesimis bahkan banyak yang percaya bahwa mata uang Cyrpto akan membawa masa depan negara ini menuju jurang kebangkrutan, terkecuali Presiden Bukele mendapatkan lampu hijau dan kesepakatan baru dari IMF sebagai solusi.

 

Beberapa pakar ekonomi dalam negeri juga menunjuk bahwa arus curam kemerosotan Bitcoin punya kontribusi tinggi bagi inflasi dalam negeri, dimana hingga saat ini subsidi pemerintah terhadap bahan pangan serta bahan bakar masih tetap berlangsung. bak hidup di ujung bambu runcing, belum lagi sebuah hutang obligasi yang jatuh tempo pada tahun 2023 sebanyak 800 Juta US Dollar ( setara dengan 23.8 Milliar NT Dollar ) dengan kondisi saat ini, pelunasan hutang obligasi di tahun mendatang menjadi sebuah impian tanpa eksekusi.

Frank Muci, seorang peneliti kebijakan publik dari London School of Economic - Inggris, menambahkan bahwa " Presiden Bukele lebih perduli akan citra publiknya ketimbang kesehatan ekonomi dalam negeri, pada akhirnya dirinya akan menanggung semua akibatnya, Negara akan membayar harga yang sangat mahal terkait keputusan ini ".

 

simak terus yows. 

Penyiar

Komentar