Demam Berdarah dan Pertumbuhan Sebuah Kota

  • 15 October, 2015
  • Narso Sunarsono
颱風後嘉縣環境消毒

Berdasarkan informasi dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) tanggal 12 Oktober 2015, data terakhir penderita penyakit Demam Berdarah di Taiwan telah mencapai 23,110 kasus, dimana diantaranya terbagi atas Tainan 19,204 kasus, Kaohsiung 3,519 kasus, Pingtung 92 kasus dan sisanya tersebar di berbagai daerah di Taiwan. Untuk saat ini, sudah ada 89 orang yang meninggal akibat Demam Berdarah. Walaupun angka kematian belum sampai 1%, namun hal ini sudah selayaknya bagi kita untuk dijadikan perhatian, karena jika tidak, akan ada kemungkinan dikemudian hari jumlah kasus akan bertambah banyak atau bahkan bertambah parah.

Apakah mungkin kita membiarkannya begitu saja? Perlu kita ketahui, dalam 10 tahun terakhir ini, kasus Demam Berdarah di seluruh dunia meningkat sangat drastis. Global Warming/Pemanasan Global serta Urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota), merupakan salah satu dari aspek utama meningkatnya penyakit ini. Meskipun jenis penyakit ini tidak menyebabkan angka kematian yang tinggi, namun penyakit ini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perekonomian sebuah negara.

Berdasarkan informasi dari kantor berita di Amerika Serikat, CNN, negara-negara yang mengalami epidemi demam berdarah pada jaman dulu, sangat lah sedikit. Namun beberapa tahun belakangan ini, angka tersebut telah lebih dari 100 negara yang mengalami epidemi ini.

Pusat penelitian penyakit demam berdarah yang telah melakukan penelitian selama kurang lebih 45 tahun sampai saat ini, Duke University bersama dengan seorang Profesor Duane Gubler dari Director of the Program on Emerging Infectious Diseases, Duke University-National University of Singapore Graduate Medical School in Singapore mengatakan, urbanisasi merupakan daerah favorit nyamuk  untuk berkembang. Semakin banyak atau ramai penduduk sebuah kota, maka nyamuk-nyamuk betina yang sedang mengandung, akan semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan darah yang segar, karena inilah sumber makanan bagi telur nyamuk. Menurut Duane Gubler, nyamuk penyebab demam berdarah Aedes Aegypti dan yang bercorak/loreng putih, sangat mudah beradaptasi pada daerah urban. Selain itu yang menjadi masalah besar saat ini adalah, sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin yang dapat menyembuhkan penyaki demam berdarah ini. Satu-satunya cara yang sudah ada saat ini yaitu dengan melakukan penyemprotan obat/insektisida berskala besar untuk melakukan pengontrolan terhadap jentik-jentik atau bibit bibit nyamuk aedes aegypti.

Pertumbuhan penyakit Demam Berdarah sudah bergerak dari daerah panas/tropis, menuju ke bagian Utara Bumi. Contoh yang terjadi pada Jepang sejak tahun 2014 lalu.
Data CDC juga menunjukkan bahwa jumlah penderita Demam Berdarah dari seluruh dunia bertambah banyak. Terlihat dari data yang terkumpul hingga bulan September dengan data sebagai berikut:
1. Vietnam 30 ribu kasus
2. Malaysia 80 ribu kasus
3. Thailand dan Filipina 55 ribu kasus
4. Indonesia 3,900 kasus
5. Singapura 6,500 kasus
6. Brasil 846 ribu kasus
 

Komentar