close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

(Bag. 1) Merekatkan Sosial Masyarakat, Kuliner Prancis dan Tunisia Disertakan Dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

  • 03 February, 2023
Perspektif
Merekatkan Sosial Masyarakat, Kuliner Prancis dan Tunisia Disertakan Dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

(Taiwan, ROC) —- Setiap tahunnya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) akan menambah daftar warisan budaya takbenda mereka. Kuliner khas Prancis - roti baguette dan makanan Tunisia – Harissa disertakan ke dalam daftar UNESCO pada akhir tahun 2022.

Keunikan kedua makanan tersebut mendapat banyak pujian dari banyak peniikmat kuliner dunia.

Roti baguette asal Prancis memiliki karakter khas, renyah di luar dan lembut di dalam. Sedangkan harissa asal Tunisia memiliki rasa pedas yang khas. Keduanya akhirnya terdaftar ke dalam daftar warisan budaya takbenda milik UNESCO pada akhir tahun 2022.

Apa yang menjadi daya tarik dari kedua kuliner ini? Dan mengapa keduanya sangat populer di dunia?

 

Kuliner Prancis Roti Baguette

Setiap tahunnya, organisasi PBB, UNESCO akan menambah daftar warisan budaya takbenda mereka. Ini bisa berupa cerita rakyat, kebudayaan, pengetahuan, serta termasuk kuliner. Tujuannya adalah untuk melindungi dan meningkatkan kesadaran individu dan masyarakat dunia akan “harta karun tak ternilai”.

Melalui kerja keras yang terus diupayakan selama bertahun-tahun, keinginan Prancis untuk mendapatkan pengakuan dunia akhirnya tercapai pada tahun 2022 lalu. Kebudayaan kuliner roti baguette berhasil disertakan ke dalam warisan budaya takbenda UNESCO.

Alasan mengapa Prancis terpilih ternyata memiliki keterkaitan langsung dengan epidemi COVID-19. Disebutkan, makanan khas Negeri Mode tersebut berhasil merekatkan ikatan sosial masyarakatnya.

 

Waktu Membeli Roti Menjadi Momen Penrting untuk Bersosial

Bahan untuk membuat roti baguette sangatlah sederhana. Dan karena alasan inilah, mengapa roti tersebut sulit untuk tetap segar pada suhu ruangan. Jika ingin menikmati rasa terbaik dari roti ini, maka warga lokal harus mendatangi toko roti setempat, guna membelinya sehari sekali atau dua hari sekali.

Kebiasaan di atas sudah menjadi hal yang lumrah bagi mayoritas keluarga di Prancis.

Saat wabah COVID-19 memanas, warga setempat tidak dapat beraktivitas di luar ruangan dengan leluasa. Hal tersebut serta merta menghentikan seluruh aktivitas atau interaksi sosial antar warga Prancis. Satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan sesama, adalah saat mereka pergi ke toko roti untuk membeli baguette, yang mana di kala tersebut dilakukan selama 3 hari sekali.

Saat mengetahui bahwa baguette telah disertakan ke dalam daftar warisan budaya takbenda milik UNESCO, Presiden Emmanuel Macron tidak bisa menutup rasa senangnya. Dalam sebuah konferensi pers, sambil memegang roti baguette Presiden Emmanuel Macron menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pembuat roti Prancis.

Ia menekankan, budaya yang terdapat dalam roti ini sangat tidak ternilai harganya, bahkan melampaui makna dari sekedar santapan pengisi rasa lapar.

Presiden Emmanuel Macron mengatakan, “Semangat warga Prancis tercermin dalam pengerajaan roti ini, yang diturunkan selama beberapa genarasi. Meski memiliki panjang beberapa centimeter, tetapi ini sangat otentik dan tidak dapat ditiru. Mungkin ini terlihat hanya seperti kuliner biasa, tetapi sebenarnya ia memiliki makna yang mendalam.”

Penyiar

Komentar