:::

(Part 1) Warga Rusia Melarikan Diri di Bawah Perintah Mobilisasi Militer Vladimir Putin

  • 14 October, 2022
Perspektif
(Part 1) Warga Rusia Melarikan Diri di Bawah Perintah Mobilisasi Militer Vladimir Putin

(Taiwan, ROC) --- Presiden Rusia, Vladimir Putin belakangan merilis perintah mobilisasi parsial untuk merekrut tentara. Begitu perintah tersebut dirilis, banyak warga Rusia memilih untuk melarikan diri keluar negeri. Uni Eropa di lain pihak berada dalam dilema untuk memutuskan apakah mereka akan menerima warga-warga Rusia tersebut.

Perintah mobilisasi parsial tersebut dirilis oleh Presiden Vladimir Putin pada tanggal 22 September 2022 lalu. Dalam perintah tersebut disebutkan bahwa otoritas Moskow akan merekrut sekitar 300.000 orang untuk bergabung dalam perang di Ukraina. Begitu perintah tersebut dirilis, banyak pria Rusia bergegas menuju negara-negara tetangga untuk menghindari panggilan militer.

Menanggapi gelombang “migrasi dadakan” tersebut, pihak Uni Eropa terpecah dengan pendapat yang berbeda-beda. Beberapa negara menganjurkan untuk menerima warga Rusia yang melarikan diri, sementara lainnya percaya bahwa tindakan tegas harus diambil, yaitu menolak kedatangan mereka.

 

Perbatasan Finlandia – Rusia Menjadi Tujuan Utama

Pada awal bulan September, militer Ukraina melancarkan serangan balasan di kawasan timur laut Ukraina dan berhasil merebut kembali sebagian besar tanah yang hilang hanya dalam kurun satu minggu. Keberhasilan tentara Ukraina jelas membuat agresi tentara Rusia menjadi frustasi.

Pada tanggal 22 September 2022, Presiden Vladimir Putin mengumumkan perintah mobilisasi parsial, yang rencananya akan merekrut 300.000 tentara tambahan yang akan ditempatkan dalam perang Ukraina.

Meski hanya mencakup sebagian dari pasukan cadangan Rusia, tetapi perintah ini telah menyebabkan banyak pria awam Rusia melarikan diri keluar negeri, karena alasan takut direkrut ke dalam medan peperangan.

Di bawah sanksi negara-negara barat, jalur transportasi udara dan kereta api dari Rusia ke Uni Eropa telah terputus, sehingga banyak orang memilih untuk melarikan diri ke Asia Tengah dan Timur Tengah. Beberapa dari mereka juga mencoba pergi meninggalkan Rusia melalui jalur darat. Setelah perintah mobilisasi parsial dirilis, terlihat ada banyak antrean mobil warga di kawasan perbatasan Rusia.

Finlandia yang berbagi wilayah perbatasan dengan Rusia sepanjang 1.300 KM, harus menghadapi gelombang migrasi dalam jumlah yang signifikan. Banyak warga Rusia langsung menyerbu kawasan perbatasan dengan Finlandia, begitu perintah mobilisasi dirlis.

Meski jumlah warga yang mencari suaka di Finlandia terbilang sangat minim, tetapi Finlandia telah mengurangi jumlah visa yang dikeluarkan untuk warga Rusia, bahkan Finlandia berniat untuk mengambil langkah lebih jauh, yaitu menutup perbatasan darat antar kedua negara.

 

Keputusan Jerman Membuka Pintu Bagi Suaka Warga Rusia

Imigrasi selalu menjadi salah satu masalah paling sensitif di Uni Eropa, dengan ketidakkonsistenan yang jelas antar pemerintah, apalagi perang di Ukraina telah membuat persoalan kian kompleks.

Menanggapi perintah mobilisasi Presiden Vladimir Putin, beberapa menteri di pemerintahan Jerman, yang memang lebih terbuka bagi persoalan migrasi dan suaka, mereka menyampaikan akan menyambut warga Rusia yang melarikan diri dari perang Ukraina.

“Siapapun yang membenci rezim Putin dan mencintai paham demokrasi liberal, maka dipersilakan untuk bergabung dengan kami di Jerman,” cuit Menteri Kehakiman Jerman, Marco Bushmann di akun twitter.

Penyiar

Komentar