(Taiwan, ROC) --- Banyak lembaga keuangan internasional juga telah merevisi perkiraan pertumbuhan PDB RRT untuk tahun 2022, yang diprediksi akan bertumbuh negatif dengan kisaran 3,5% hingga 4,3%. Di samping itu, kemungkinan untuk bangkit kembali pada tahun 2023 juga semakin menipis.
Ding Shuang, seorang Kepala Ekonom untuk RRT dan Asia Timur di lembaga keuangan publik, Standard Chartered, mengatakan kepada media CNBC bahwa, pertumbuhan ekonomi RRT pada tahun ini hanya berkisar 2,5%. Jika ingin mencapai target yang pernah ditetapkan pada awal tahun, yakni 5,5%, maka angka yang harus dikejar pada semester kedua tahun ini berkisar 8%.
Dan untuk menggapai tujuan itu, dibutuhkan stimulus ekonomi yang kuat, dan jika tercapai, maka akan sulit untuk dipertahankan.
Ledakan Krisis Real Estate
Dua masalah utama yang dihadapi oleh ekonomi RRT saat ini. Pertama, langkah-langkah kebijakan pengendalian epidemi yang terlampau ketat, sehingga mengganggu aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat. Di samping itu, gejolak di bidang real estate juga memiliki dampak besar.
Semenjak krisis utang Evergrande Group pecah pada tahun 2020, hal ini telah memicu gejolak dari banyak perusahaan real estate secara kolektif. Ada lebih dari 100 pihak pembeli rumah yang tersebar di 15 provinsi, menolak untuk membayar pinjaman mereka. Dan hal ini telah memberikan dampak besar bagi krisis keuangan RRT.
Rob Subbaraman, Kepala Riset Pasar Global di Nomura Holdings mengatakan kepada media Reuters bahwa, RRT tengah menghadapi krisis kepercayaan.
"Banyak warga yang memilih untuk tidak berbelanja, karena takut akan ada kebijakan lockdown berikutnya. Pihak pembeli rumah juga mulai kehilangan kepercayaan kepada pihak developer yang bermasalah secara finansial."
Kepada media CNBC, Ding Shuang menyampaikan, "Jika masalah ini tidak ditangani dengan benar, maka hal tersebut akan berdampak besar bagi perekonomian, termasuk neraca pemerintahan, bank dan rumah tangga."
Ding Shuang melanjutkan, permasalahan di sektor real estate akan membahayakan fondasi perekonomian, karena akan meruntuhkan kepercayaan pasar.
Krisis Real Estate Meluas, Sulit Membangun Kembali Kepercayaan
Hung Tran, peneliti senior di wadah pemikir Amerika Serikat, The Atlantic Council mencatat, perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat terlihat telah menyebar dari awalnya kerugian real estate, kini telah merambah ke sektor perbankan, Kerugian tersebut kian terasa terutama di bank-bank yang berada di provinsi kecil atau menengah.
Hingga saat ini, tingkat kerugian masih dapat dikendalikan. Namun, kelanjutan dai pertumbuhan ekonomi yang melambat akan mengakibatkan gelombang kerugian yang lebih besar, terutama di sektor ekonomi, bank dan perusahaan swasta. Jika hal ini terus terjadi, maka akan meningkatkan kemungkinan terjadinya risiko krisis keuangan atau resesi.
Sandra Chow Ketua Penelitian Asia Pasifik di perusahaan riset CreditSights menyampaikan kepada media CNBC, meski otoritas Beijing tengah berupaya untuk menangani krisis real estate dengan maksimal, tetapi persoalan Evergrande masih tidak dapat terselesaikan dalam waktu singkat, atau mungkin tidak dapat tertuntaskan sama sekali.
Sandra Chow menuturkan, terlepas dari semua pelonggaran yang kini mulai diterapkan oleh pemerintah, pasar properti RRT masih bermasalah dan nilai aset terus memperlihatkan angka yang menurun. Bagi para investor, ini akan menjadi jalan panjang untuk membangun kembali kepercayaan mereka, tidak hanya bagi kasus Evergrande, tetapi merata di seluruh sektor real estate RRT.
Ancaman Resesi Di Depan Mata
Banyak investor dan ekonom mulai mengaitkan penyebab dari kelesuan ekonomi dengan kebijakan dari Pemimpin Xi Jin Ping. Salah satunya adalah "kekeuh" membersihkan virus, yang mana ini berdampak negatif bagi sektor teknologi, pendidikan dan industri lainnya.
Pesimisme di sektor swasta memperkuat seruan dari beberapa ekonom terkemuka RRT, agar negara tidak terlalu menggenggam erat tangannya.
Pada pertengahan bulan Juli, Dekan National School of Development Beijing University, 姚洋 mengatakan, "Saya tidak tahu apakah regulator dan pembuat kebijakan ini telah mendengar suara dari perusahaan-perusahaan swasta ini. Mereka telah mengganggu roda perekonomian. Bagaimana pengusaha bisa kembali memiliki kepercayaan diri mereka?"
Pakar di American Enterprise Institute (AEI), Derek Scissors mengatakan kepada media Reuters, legitimasi yang diterapkan oleh Pemimpin Xi dapat mengancam perekonomian setempat dalam jangka panjang.
Masalah demi masalah akan meningkat selama 5 tahun ke depan. Apa yang dapat dicapai oleh pemerintahan setempat, guna menghadapi permasalahan yang terus berkembang saat ini? Banyak pakar mengaku pesimis menanggapi rentetan kejadian yang terjadi belakangan ini.