:::

RTI Radio Taiwan InternationalRTI Radio Taiwan InternationalPart 2. Diet dan Kesehatan, Apakah Manusia Perlu Makan 3 Kali dalam Sehari?

  • 01 July, 2022
Perspektif
Part 2. Diet dan Kesehatan, Apakah Manusia Perlu Makan 3 Kali dalam Sehari?

(Taiwa, ROC) --- Beberapa ahli percaya, kebiasaan makan sekali dalam sehari adalah cara terbaik. Pendapat serupa pernah diutarakan oleh pakar-pakar kesehatan dunia, salah satunya adalah David Levitsky, seorang professor di Cornell University's College of Human Ecology, New York.

Ia mengatakan, “Ada banyak data yang memperlihatkan bahwa jika Anda melihat gambar sebuah makanan, maka kemungkinan Anda untuk menyantap makanan terkait akan semakin tinggi. Semakin sering makanan dihidangkan ke hadapan Anda, maka semakin sering pula Anda menyantapnya.”

Sebelum manusia mengenal adanya kulkas dan supermarket, maka mereka hanya makan ketika hidangan tersaji di depan mata. “Dalam sejarah, manusia pernah melewati periode “makan satu kali sehari”, termasuk pada era Romawi Kuno,” ungkap sejarawan makanan, Seren Charrington-Hollins.

Bukankah makan satu kali sehari hanya akan membuat kita merasa lapar? David Levitsky menyampaikan bahwa rasa lapar biasanya datang dari perasaan psikologis manusia.

“Saat jam menunjukkan pukul 12:00 siang, maka kita akan memiliki perasaan ingin makan, atau Anda akan menyantap sarapan di pagi hari. Namun, data penelitian memperlihatkan bahwa jumlah kalori yang diasup manusia akan lebih sedikit, jika Anda melewati menu sarapan.”

David Levitsky menambahkan, fisiologi manusia dibangun untuk makan dan puasa. Namun, metode puasa tidak dianjurkan bagi mereka penderita diabetes.

Namun, Emily Manoogian tidak menyarankan untuk makan hanya satu kali dalam sehari, karena berpuasa dicemaskan dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah, atau dikenal dengan istilah “Fasting Plasma Glucose”. Tingginya kadar gula yang terjadi dalam puasa jangka panjang merupakan faktor risiko diabetes tipe dua.

Emily Manoogian menyampaikan, dibutuhkan makan dua kali dalama sehari untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Hal tersebut dapat mencegah tubuh manusia untuk berpikir lapar, dan pada akhirnya akan melepas lebih banyak glukosa saat makan.

Yang terbaik adalah makan sebanyak dua hingga tiga kali dalam sehari, dengan porsi sarapan yang lebih banyak di pagi hari. Makan di larut malam hanya akan meningkatkan kemungkinan tubuh terserang penyakit kardiometabolik, termasuk diabetes dan jantung.

Emily Manoogian mengatakan, “Jika sebagian besar makanan disantap pada pagi hari, maka tubuh Anda akan menggunakan sebagian besar energi itu untuk beraktivitas, ketimbang disimpan menjadi lemak di dalam tubuh.”

Namun, bagi mereka yang menerapkan Intermittent Fasting, tidak dianjurkan untuk makan terlalu pagi. Makan terlalu pagi setelah bangun tidur disinyalir dapat mengganggu ritme sirkadian, yakni siklus alami tidur dan bangun makhluk biologis.

Para ahli berpendapat bahwa ritme sirkadian dapat menentukan bagaimana tubuh memproses makanan sepanjang hari.

Tubuh manusia melepas senyawa melatonin pada malam hari, yang dapat membantu kita untuk tertidur. Namun, melatonin disinyalir dapat menunda produksi insulin yang berfungsi sebagai wadah penyimpanan glukosa dalam tubuh.

Melatonin dilepaskan saat tertidur, serta berfungsi untuk memastikan bahwa tubuh manusia tidak terlalu banyak melepas glukosa saat tidak makan dan tidur.

“Jika tubuh Anda menyerap kalori saat kadar melatonin tinggi, maka bisa membuat glukosa meningkat. Makan dalam porsi besar pada malam hari akan membuat beban tubuh bertambah, karena jika insulin di dalam tubuh ditekan, maka daya penyimpanan glukosa dalam tubuh tidak dapat berfungsi maksimal”

Kita semua paham jika kadar glukosa yang terlampau tinggi dan berkepanjangan, maka dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Survei memperlihatkan bahwa tubuh manusia harus menunggu satu hingga dua jam setelah terbangun dari tidur, sebelum menyantap sarapan. Dan menurut penemuan yang ada, manusia menyantap sarapan adalah gaya hidup yang relatif baru.

Konsep sarapan pagi pertama kali dilakoni oleh masyarakat Yunani Kuno, dengan menyantap roti yang telah direndam dalam minuman anggur. Setelah itu, mereka akan menikmati menu makan siang yang lebih sedikit dan makan malam yang lebih beragam.

Sejarahwan Seren Charrington-Hollins menuturkan, menu sarapan awalnya hanya mampu disantap oleh mereka yang berada di golongan aristokrat dan pertama kali populer pada abad 17. Pada zaman itu, sarapan adalah suatu kemewahan bagi mereka yang mampu menikmati ragam menu dan menyantapnya dengan santai.

Seren Charrington-Hollins melanjutkan, “Selama Revolusi Industri dan masyarakat mulai diperkenalkan dengan mekanisme jam kerja di abad 19, maka sarapan pun menjadi hal yang biasa. Masyarakat kelas bawah akan melewati menu sarapan mereka, dengan menyantap satu potong roti yang dibeli di jalanan."

Namun, setelah perang berakhir, saat pasokan persediaan makanan semakin berkurang, membuat gagasan untuk menikmati menu sarapan lengkap menjadi tidak mungkin, sehingga banyak orang memutuskan untuk melewatkannya.

Seren Charrington-Hollins bahkan beranggapan bahwa gagasan “makan tiga kali sehari” sudah semakin ketinggalan zaman.

Ilmuwan sains menyarankan, metode makan yang paling tepat adalah 2 hingga 3 kali dalam sehari, dengan menjalankan puasa pada malam hari. Pakar juga tidak menyarankan untuk makan pada malam atau dini hari, dan tidak menyantap terlalu banyak kalori pada pagi hari.

Emily Manoogian menyampaikan, sebaiknya jangan mengatur waktu makan optimal, karena hal tersebut hanya akan menyulitkan mereka yang terbiasa hidup dalam ritme tertentu, atau mereka yang bekerja pada shift malam.

 

Penyiar

Komentar