close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

(Part 2) Krisis Ukraina – Rusia, Menjadi Pemantik dari Tidak Stabilnya Situasi Indo - Pasifik

  • 25 March, 2022
Perspektif
(Part 2) Krisis Ukraina – Rusia, Menjadi Pemantik dari Tidak Stabilnya Situasi Indo - Pasifik

(Taiwan, ROC) --- Seorang profesor di Pusat Studi Strategis dan Pertahanan Universitas Nasional Australia - John Blaxland mengatakan kepada media Radio Free Asia (RFA), bertindak sebagai sekutu, maka Presiden Xi Jin-ping mengamati dengan cermat seluruh tindakan yang dilancarkan oleh Vladimir Putin.

John Blaxland melanjutkan, hal ini akan merusak stabilitas dan independensi Taiwan sebagai pemimpin ekonomi regional dan penganut paham demokrasi yang dinamis.

Mantan kolonel Korps Marinir AS yang juga adalah analisis politik - Grant Newsham mengatakan kepada media RFA, jika AS atau bangsa barat bersikap lemah dan tidak efektif menanggapi situasi perang Rusia – Ukraina, atau bahkan menerima invasi kependudukan Rusia di Ukraina, maka ini akan mendorong RRT untuk mengambil tindakan yang lebih nyata.

Grant Newsham percaya, selama periode ini RRT masih akan terus menekan Taiwan dengan memperketat kontrol mereka atas wilayah perairan Tiongkok Selatan dan pada saat yang sama meningkatkan pengawasan di perairan Tiongkok Timur, yang mana hal tersebut tentu akan membuat Jepang gerah.

Grant Newsham tidak menutup kemungkinan, jika hal tersebut terjadi, maka ini adalah situasi internasional paling berbahaya semenjak era Perang Dunia II.

Yun Sun yang adalah seorang analisis di Stimson Center menuturkan, RRT terus mengamati bagaimana Negeri Paman Sam menanggapi krisis Ukraina untuk menguji seberapa besar tekad dan kemauan AS terlibat dalam operasi militer di sana.

Yun Sun menambahkan, meski Beijing tidak suka membandingkan situasi Ukraina dengan Taiwan, tetapi tanggapan AS terhadap invasi Rusia ke Ukraina dapat digunakan oleh RRT sebagai titik acuan.

 

AS Terus Mengamati

Jika AS mengalihkan perhatiannya dari strategi Indo-Pasifik dikarenakan krisis Ukraina, maka hal tersebut tentu saja akan merusak kredibilitas AS.

Kepala Institut Penelitian Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan di Pusat Studi Amerika di Universitas Sydney - Ashley Townshend mengatakan kepada media Financial Times, negara-negara di Asia telah memiliki pengalaman menanggapi permasalahan ini, sehingga tidak akan mempengaruhi perkembangan apa pun, meski AS disibukkan dengan konflik Eropa maupun Timur Tengah.

Wartawan Financial Times yang ditempatkan di Taiwan - Kathrin Hille menganalisis, pejabat pemerintahan di beberapa negara Asia percaya bahwa krisis Ukraina akan menghadirkan dilema bagi AS. Di satu sisi, jika terlampau terlibat dalam konflik Ukraina, maka perhatian Washington akan teralihkan.

Di sisi lain, jika gagal membantu Ukraina dalam melindungi kedaulatan wilayah mereka dari invasi Rusia, maka akan merusak reputasi negara adidaya AS yang selama ini dipercaya dapat melindungi tatanan dunia internasional.

 

 

Penyiar

Komentar