:::

Part 3. COVID-19 Memperburuk Fenomena Pernikahan Anak-Anak di Benua Asia

  • 25 February, 2022
Perspektif
Part 3. COVID-19 Memperburuk Fenomena Pernikahan Anak-Anak di Benua Asia

(Taiwan, ROC) --- Kian sulitnya upaya organisasi kemanusiaan untuk menjamah kawasan Afghanistan disinyalir akan semakin mempersulit warga setempat memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang mana ini akan berbuntut pada meningkatnya jumlah pernikahan anak-anak.

Kepada media Jepang – Nikkei Asia, Anggota Komite Hak Anak CRC - Mikiko Otani menyampaikan, jika anak perempuan tidak diberi kesempatan untuk pergi ke sekolah, maka dampaknya akan sama dengan hantaman COVID-19.

Mikiko Otani membeberkan bahwa Taliban telah membatasi hak kaum perempuan, serta merampas mereka yang bernasib kurang beruntun, baik secara sosial maupun ekonomi. Yang mana membuat mereka terpaksa tidak mempunyai pilihan untuk tetap bertahan hidup, selain menikah secepatnya.

 

Pernikahan Anak-Anak Setara Dengan Pelanggaran HAM Terburuk

Psikolog senior dari Pusat Kesehatan Mental dan Konseling Nepal - Pashupati Mahat mengatakan kepada media NPR bahwa selain membuat jurang kemiskinan kian dalam, fenomena pernikahan di bawah umur juga memiliki dampak psikologi yang kuat.

Dirinya mengamati bahwa anak laki-laki yang dipaksa menikah memiliki tingkat kecemasan, rasa kesepian dan bahkan kecenderungan untuk bunuh diri lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

Antropolog dan advokat hak anak-anak Islamabad - Samar Minallah Khan menuturkan bahwa praktik pernikahan anak adalah bagian dari pelanggaran HAM terburuk. Anak-anak yang menikah akan dirampas hak kebebasan, pendidikan dan peluang bermain mereka di masa-masa remaja.

“Mereka tidak akan pernah menjadi anak yang semestinya,” lanjut Samar Minallah Khan.

Selain tradisi dan gejolak perpolitikan, kondisi pandemi telah menjadi faktor utama mengapa angka pernikahan anak kian memprihatinkan. Hal ini dicemaskan akan menghambat visi PBB untuk mengakhiri fenomena ini pada tahun 2030 mendatang.

 

Penyiar

Komentar