:::

RTI Radio Taiwan InternationalRTI Radio Taiwan InternationalPart 1. Hadiah Nobel Perdamaian yang Tidak Luput dari Kontoversial

  • 22 October, 2021
Perspektif
Part 1. Hadiah Nobel Perdamaian yang Tidak Luput dari Kontoversial

(Taiwan, ROC) --- Hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan setiap tahun kerap-kali menimbulkan beberapa cerita yang terkadang harus berujung pada kontroversi.

Nobel Perdamaian dianggap sebagai salah satu penghargaan paling bergensi di dunia. Mendiang ilmuwan, pengusaha dan filantropis asal Swedia – Alfred Nobel adalah tokoh pionir yang memberikan gagasan utama atas penghargaan ini.

Uniknya, Nobel yang selalu sarat dengan ‘politik’ ini, sering kali menimbulkan kontroversi dibandingkan dengan penghargaan lainnya.

Berikut adalah daftar pemenang Nobel Perdamaian yang paling kontroversial, tidak sedikit pihak yang menilainya sebagai suatu kelalaian.

 

Barack Obama

Ketika mantan Presiden Amerika Serikat – Barack Obama memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2009, banyak orang dibuat bingung, termasuk pemenangnya sendiri.

Barack Obama menulis dalam memoarnya di tahun 2020, bahwa reaksi pertama terhadap berita kemenangan itu adalah, “Mengapa bisa begini?”

Pada saat penghargaan Nobel diberikan, Barack Obama baru 9 bulan menjabat posisi Presiden Anerika Serikat. Para kritikus mengomentari bahwa keputusan pemberian penghargaan kepada Barack Obama terlampau dini.

Faktanya, Barack Obama mendapat nominasi Nobel Perdamaian lebih awal dari pemberian penghargaan itu sendiri, karena batas waktu nominasi pemilihan tersebut adalah 12 hari setelah Obama menjabat.

Pada tahun 2015, mantan Kepala Institut Nobel - Geir Lundestad mengatakan kepada media BBC bahwa komite yang menentukan penghargaan ini tidak menyesali keputusan ini.

Ironinya, selama dua periode pemerintahan mantan Presiden Barack Obama, Amerika Serikat telah bertempur di 3 medan, yakni Afghanistan, Irak dan Suriah.

 

Yasser Arafat

Hadiah Nobel Perdamaian untuk periode tahun 1994 diberikan kepada mantan Pemimpin Palestina Yasser Arafat, mantan Perdana Menteri Israel - Yitzhak Rabin dan mantan Menteri Luar Negeri Israel – Simon Perez, atas kontribusi mereka dalam penandatanganan Perjanjian Perdamaian Oslo. Penandatanganan tersebut membawa harapan bagi penyelesaian konflik Palestina – Israel pada era tahun 1990-an.

Namun sayangnya, anugerah Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Yasser Arafat dikecam pihak Israel dan banyak negara, karena keterlibatan dirinya dalam kegiatan militer di medan peperangan.

Apalagi, pencalonan Yasser Arafat juga telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan anggota komite Nobel Perdamaian.

Salah satu anggota Komite Nobel Perdamaian di kala itu yang mengecam keras adalah politisi asal Norwegia, yang akhirnya mengundurkan diri dari keanggotaan sebagai bentuk protes keras.

 

Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991, karena memimpin perjuangan melawan otoriter militer Myanmar, tanpa menggunakan langkah kekerasan.

20 tahun kemudian, Aung San Suu Kyi dikecam keras karena gagal memberikan tanggapan keberatannya terhadap aksi pembunuhan massal terhadap kaum Muslim Rohingya, dan dirinya dikritik telah melanggar HAM di Myamnar. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kejadian pembunuhan kaum Muslin Rohingya dengan istilah “genosida”.

Beberapa orang menyerukan agar Hadiah Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi segera dibatalkan. Namun, menilik peraturan yang berlaku, ‘membatalkan’ bukanlah langkah yang diperbolehkan dalam penghargaan Nobel.

Penyiar

Komentar