:::

RTI Radio Taiwan InternationalRTI Radio Taiwan InternationalPart 1. Legalitas Poliandri di Afrika Selatan: Bentuk Penolakan Feminisme Terhadap Patriarki

  • 08 October, 2021
Perspektif
Legalitas Poliandri di Afrika Selatan: Bentuk Penolakan Feminisme Terhadap Patriarki

(Taiwan, ROC) —- Semasa kecil, Muvumbi Ndzalama kerap-kali mempertanyakan tradisi monogami. Ia pun bertanya kepada kedua orang tuanya, apakah mereka akan hidup hingga malaikat maut datang?

 

“Saya merasa bahwa setiap kehidupan yang dijalankan oleh manusia akan selalu bertahap,” jelasnya kepada media BBC.

“Orang-orang yang berada di sekitar saya mengajarkan dan mempraktikkan monogami. Jujur, secara pribadi, saya tidak pernah dapat memahami konsep pernikahan ini.”

Muvumbi Ndzalama yang tahun ini genap berusia 30 tahun mengidentifikasi dirinya sebagai wanita yang sangat mengedepankan paham poliamori (berkencan atau memiliki pasangan lain meskipun orang tersebut telah menikah dan memiliki anak) dan panseksualisme (ketertarikan kepada orang lain tanpa memandang identitas gender atau jenis kelamin)

Kini Muvumbi bekerja sebagai pihak yang memberikan pelayanan kepada pasangan-pasangan di Afrika Selatan yang sepaham dengannya, untuk memperoleh rasa aman.

“Saya memiliki pasangan tetap, telah bertunangan dan dikaruniai satu anak. Pasangan saya sangat bahagia dengan hubungan yang kami bina selama ini,” lanjut Muvumbi.

“Dia (pasangan Muvumbi) tidak ingin menikah. Dan pada masa mendatang, saya telah membayangkan akan menikah dengan lebih dari satu orang. Sebagai seorang panseksual, saya akan tertarik pada banyak orang, terlepas dari gender mereka.”

 

Legalitas Poliandri

Afrika Selatan adalah salah satu negara yang menganut paham liberal di dunia. Keterbukaan otoritas setempat terhadap pernikahan sesama jenis atau poligami pada kaum pria sangat-lah terbuka.

Lembaga legislatif Afrika Selatan tengah mempertimbangkan untuk mengamandemen undang-undang pernikahan mereka. Salah satu poin yang paling menarik perhatian adalah tentang diizinkannya praktik pernikahan poliandri pada kaum wanita, yakni memiliki lebih dari satu suami dalam waktu bersamaan.

Wacana untuk menambahkan poin tersebut pun mendatangkan respons yang cukup besar di tengah masyarakat setempat, terutama kelompok konservatif.

“Ini akan menghancurkan kebudayaan Afrika. Bagaimana dengan anak-anak mereka mengetahui identitas mereka pribadi?

Pendapat berbeda pun datang dari berbagai pihak, misalnya adalah Pendeta Reverend Kenneth Meshoe dari Partai Demokrat Kristen Afrika menyampaikan bahwa ini akan menghancurkan masyarakat.

Ia bahkan mengatakan, "Suatu hari akan ada pria yang berkata, bahwa istrinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan pria lain, dibandingkan dengan dirinya."

 

Nilai Keagamaan yang Mulai Tergoncang

Muvumbi Ndzalama menyadari jika legalitas dari hubungan yang tengah diperjuangkannya akan menjadi momen kritis bagi kaum perempuan.

"Hal ini akan mengguncang keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai moral dalam agama," lanjut Muvumbi Ndzalama.

"Dari generasi ke generasi, kaum lelaki secara terang-terangan mempraktikkan poligami, tetapi kaum wanita selalu malu akan hal ini. Perlu banyak waktu dan keberanian untuk mematahkan perspektif usang ini," ungkap Muvumbi Ndzalama.

Di lain pihak, Muvumbi Ndzalama pribadi telah menjalankan hubungan dengan beberapa lelaki secara terbuka selama lebih dari 1 dekade, atau yang lebih dikenal dengan istilah poliamori.

Poliamori merupakan istilah berkencan atau memiliki pasangan lain meskipun orang tersebut telah menikah dan memiliki anak. Berbeda dengan poligami, dalam poliamori tidak mensyaratkan pernikahan sebagai ikatan.

Penyiar

Komentar