:::

RTI Radio Taiwan InternationalRTI Radio Taiwan International(Part 3) The Economist : The Most Dangerous Place on Earth

  • 11 June, 2021
Perspektif
(Part 3) The Economist : The Most Dangerous Place on Earth

(Taiwan, ROC) --- Di lain pihak, RRT beranggapan AS sangat berharap jika krisis di Selat Taiwan akan memanas atau bahkan mungkin menginginkan terjadinya peperangan, dengan alih-alih hendak mematikan kebangkitan RRT. Kawasan terumbu karang di Laut Tiongkok Selatan yang terkenal tandus, kini perlahan-lahan telah berubah menjadi pangkalan militer.

Meski RRT menjadi kian otoriter dan nasionalis, tetapi anggapan seperti demikian terdengar sangat pesimis. Dan tidak menutup kemungkinan, jika pemikiran tersebut muncul karena rasa permusuhan terhadap RRT telah menjadi hal yang wajar bagi AS pribadi.

Penguasa RRT, Xi Jin-ping belum mengeluarkan perintah untuk memulai peperangan, yang mana hal tersebut tentu dapat berimbas buruk terhadap perekonomian mereka.

Pada peringatan 100 tahun berdirinya Partai Komunis Tiongkok, Xi Jin-ping menekankan akan pentingnya kemakmuran, stabilitas dan peran mereka di panggung dunia internasional. Tentu saja, jika peperangan terjadi, maka hal tersebut akan membuyarkan impian-impian Xi Jin-ping.

Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh peperangan, tidak hanya menjadi problematik bagi Taiwan semata.

Di tengah semerawutnya kondisi Selat Taiwan, setidaknya ada sedikit hal yang melegakan. Tidak ada seorang pun di AS yang tahu dengan pemikiran Penguasa Xi Jin-ping saat ini, maupun di masa mendatang. Ketidak-sabaran RRT mungkin akan meningkat dari hari ke hari. Nafsu Penguasa Xi Jin-ping untuk mereunifikasi Taiwan juga akan kian tinggi, apalagi isu Taiwan merupakan pencapaian politik tertinggi bagi tubuh pemerintahan RRT.

Guna memastikan bahwa Selat Taiwan bukanlah ajang “taruhan” yang dimanfaatkan oleh RRT, maka AS dan Taiwan harus memiliki persiapan yang matang di masa mendatang. Apalagi untuk memulihkan stabilitas di Selat Taiwan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Taiwan harus mulai mengerahkan sumber daya untuk membeli sistem persenjataan yang lebih lengkap dan mahal. Yang mana hal ini dilakukan guna memperkuat strategi dan potensi teknologi, guna menghadapi hantaman agresi yang sifatnya akan sangat merusak.

Negeri Paman Sam membutuhkan persenjataan lengkap untuk mencegah RRT melancarkan agresi militer mereka. Pada saat yang sama, AS bersama dengan sekutu Korea Selatan dan Jepang, bersiap-siap untuk “mengkomunikasikan” dengan RRT bahwasannya strategi AS tidak dapat dilemahkan. Tetapi langkah ini dinilai sulit untuk dicapai. Apalagi “komunikasi” tersebut mungkin saja akan disalahartikan, yang malah akan berdampak buruk.

Terlepas dari strategi yang diterapkan, Amerika Serikat jelas membutuhkan jalur komunikasi yang lebih “lembut”.

RRT harus merelakan upaya militernya, guna mengubah status-quo Taiwan saat ini. Pada saat yang sama, Amerika Serikat juga harus memberikan jaminan mereka untuk tidak mendukung Taiwan mengumumkan deklarasi kemerdekaan.

Mempertahankan kondisi “abu-abu” seperti saat ini bukanlah perkara mudah. Para pemangku kepentingan di Washington dan Beijing akan beradu pendapat, bahwa di sinilah letak kelemahannya. Selain itu, kapal-kapal AS yang mulai berlabuh di Taiwan, akan ditafsirkan secara berbahaya oleh pihak Beijing.

Langkah terbaik adalah mengesampingkan semua perselisihan yang ada. Hal-hal yang hanya bisa diselesaikan dengan peperangan, selalu dapat ditunda. Mendiang Pemimpin Deng Xiao-ping (鄧小平) pernah berkata, “Biarkan generasi mendatang yang lebih cerdas menyelesaikan permasalahan yang ada”.

Meski terletak di posisi geografis yang “berbahaya”, tetapi hanya di tempat inilah para politisi dapat melatih dan mengasah kemampuan perpolitikan mereka.

 

(Part 1) The Economist : The Most Dangerous Place on Earth

(Part 2) The Economist : The Most Dangerous Place on Earth

Penyiar

Komentar