RTI Radio Taiwan InternationalRTI Radio Taiwan International(Part 2) The Economist : The Most Dangerous Place on Earth

  • 04 June, 2021
Perspektif
(Part 2) The Economist : The Most Dangerous Place on Earth

(Taiwan, ROC) --- Di samping itu, pihak sekutu juga kian menyadari bahwa mereka tidak dapat terus mengandalkan Amerika Serikat.

Sebelum membahas akan isu konflik di Selat Taiwan, ada baiknya bagi kita untuk terlebih dahulu memahami kontradiksi yang telah terjadi selama puluhan tahun, guna menjaga status perdamaian itu sendiri.

Sedari dahulu, otoritas Beijing bersikukuh mereka memiliki tanggung jawab untuk mendorong wacana reunifikasi, meski upaya militer terpaksa harus dikerahkan. Pada masa lampau, Taiwan setuju bahwa mereka adalah bagian dari Tiongkok, tetapi pada akhirnya Taiwan pun berpindah tangan ke dalam pemerintahan yang dipilih secara demokratis. Yang mana hal tersebut juga memberikan kesan bahwa Taiwan memang berbeda dengan RRT.

Tetapi di satu pihak, Taiwan hingga hari ini tidak pernah benar-benar mendeklarasikan kemerdekaannya. Amerika Serikat di lain pihak menjadi “malaikat pelindung” bagi Taiwan dari ancaman serangan invasi RRT, dan pada saat yang sama mereka mengakui legalitas pemerintahan RRT.

Selama berpuluh-puluh tahun, tubuh pemerintahan Amerika Serikat mewarisi pemikiran diplomatik di atas, terlepas siapa pemimpinnya. Pemikiran yang penuh kontradiksi ini terus di temurunkan antar generasi. Mereka menyebutnya sebagai “Status Quo”. Faktanya, paham demikian bagai bom waktu yang penuh keraguan dan ketegangan.

Fakta yang berubah belakangan ini adalah, Amerika Serikat telah menyadari bahwa RRT terus menerus mengembangkan kekuatan armada militer mereka dalam kurun 25 tahun terakhir.

Dan dalam lima tahun ini, Angkatan Laut RRT telah memperbanyak armada 90 kapal induk dan kapal selam mereka. Angka tersebut diketahui lebih banyak empat hingga lima kali lipat dari jumlah armada Amerika Serikat yang berada di kawasan perairan Pasifik barat.

Setiap tahun, RRT membangun lebih dari 100 pesawat tempur mutakhir, meletakkan unit persenjataan di luar angkasa dan memperbanyak rudal presisi. Persenjataan yang dimiliki Negeri Tirai Bambu tersebut tentu menjadi ancaman bagi Taiwan serta pangkalan militer AS yang berada di Jepang, Korea Selatan dan Guam.

Dalam sebuah simulasi serangan yang digelar RRT, dapat terlihat jika militer Amerika Serikat telah ketinggalan satu langkah.

Beberapa pakar AS menyimpulkan, superioritas di sektor persediaan senjata militer akan membuat RRT menggunakan kekuatan tempur mereka saat harus berhadapan dengan Taiwan. Dan ini bukan menjadi langkah akhir yang akan digunakan mereka. Hanya saja, RRT memang memiliki kemampuan seperti demikian, jika mereka mau melakukan hal tersebut.

 

Bersambung Part 3 (Akhir)

Penyiar

Komentar