George Floyd: Aksi Rasial yang Membuka Persoalan Kelam AS

  • 30 April, 2021
George Floyd: Aksi Rasial yang Membuka Persoalan Kelam AS

(Taiwan, ROC) --- Vonis terhadap seorang polisi kulit putih yang menekan dan akhirnya menewaskan warga Afrika-Amerika, George Floyd diumumkan pada pekan kemarin.

Polisi kulit putih tersebut dijerat hukuman dengan dakwaan telah melancarkan tindakan pembunuhan. Dengan ditetapkannya vonis oleh pihak peradilan kemarin, setidaknya membuat komunitas Afrika-Amerika puas terhadap rasa keadilan yang selama ini mereka perjuangkan.

Kasus tewasnya warga Afrika – Amerika di tangan aparat kepolisian kulit putih di Amerika Serikat, santer terdengar. Tindakan personil keamanan setempat dianggap terlampau berlebihan, sehingga terkadang harus membuat nyawa warga Afrika – Amerika tewas sia-sia.

Di samping itu, insiden diskriminasi secara verbal atau kekerasan juga kerap kali dialami warga Asia di sana. Terutama di masa pandemi COVID-19, situasi pun kian bertambah runyam.

Peristiwa diskriminasi atau pelecehan di atas, telah menjadi kasus usang yang kerap kali kembali mewarnai kehidupan sosial masyarakat Amerika Serikat.

George Floyd adalah warga Afrika – Amerika yang mendapat perlakuan tidak pantas oleh aparat kepolisian kulit putih setempat. Ia pun tewas setelah lehernya ditekan oleh personil kepolisian, dengan alasan ingin mengamankan dirinya.

Peristiwa tersebut sontak saja mendatangkan gelombang demonstrasi besar-besaran di seluruh AS pada musim panas tahun lalu.

Vonis pengadilan terhadap mantan polisi tersebut pun dirilis pada tanggal 20 April 2021 pekan lalu. Tim juri dalam pengadilan pekan lalu memutuskan bahwa mantan polisi Minnesota – Derek Chauvin dihukum atas tiga dakwaan, dan salah satunya adalah pembunuhan.

Setelah vonis diumumkan oleh hakim, tangisan keluarga mendiang George Floyd pun pecah.

Kasus ini menjadi wadah “introspeksi” bagi warga setempat terhadap isu diskriminasi yang telah mengakar sejak lama di AS. Setelah peristiwa George Floyd pecah, kasus warga Afrika Amerika yang tewas di tangan aparat kepolisian menjadi santer terdengar.

Personil keamanan kulit putih dianggap telah berlebihan dalam bertindak, terutama saat dihadapkan dengan warga Afrika – Amerika. Tidak hanya itu, aksi rasial pun menyebar dan warga keturunan Asia pun menjadi korban berikutnya.

Apalagi semenjak wabah pandemi COVID-19 merebak, kejadian kekerasan yang menimpa warga Asia kian bertambah banyak.

Gerakan membela warga Afrika – Amerika dan Asia pun kian dilancarkan oleh warga setempat. Mereka menyerukan persatuan untuk menentang aksi diskriminasi dan kekerasan yang menyerang etnis minoritas tertentu.

 

3 Minggu Waktu Sidang, Mantan Polisi Kulit putih Divonis Bersalah

Persidangan mengadili kasus George Floyd berlangsung selama 3 pekan. Tim juri yang terdiri dari 12 orang mempertimbangkan keterangan yang diberikan oleh saksi mata maupun ahli medis.

Mantan petugas kepolisian, Derek Chauvin, dihukum atas tiga dakwaan tindakan kejahatan. Ia pun harus mendekam di balik jeruji besi selama 40 tahun, akibat perbuatan yang telah dilakukannya.

Setelah vonis diumumkan, Presiden Joe Biden pun segera menelepon anggota keluarga. Bersama dengan Ibu Negara dan Wakil Presiden Kamala Harris, Joe Biden langsung menghubungi anggota keluarga mendiang George Floyd dari Gedung Putih.

“Meski tidak dapat diselamatkan, tetapi setidaknya ada rasa keadilan yang ditegakkan,” demikian ucap Presiden Joe Biden.

“Kita semua tentu merasa lega,” lanjut Joe Biden.

Suasana penuh emosional pecah setelah vonis diucapkan. Adik laki-laki George Floyd, yakni Philonise Floyd menyampaikan, akhir-akhir ini dirinya telah menerima banyak dukungan yang datang dari berbagai belahan dunia. Kini, ia pun dapat bernapas dengan lega.

Philonise Floyd mengatakan, “Saya mendapat panggilan telepon dari Brasil, Ghana, Jerman, London dan Italia. Mereka semua menyampaikan hal yang sama. Kami tidak bisa bernapas, sampai kamu benar-benar bernapas. Hari ini, kita semua bisa kembali menghirup udara lega.”

Pada akhir bulan Mei tahun lalu, George Floyd ditangkap karena diduga telah menggunakan uang palsu saat berada di sebuah toko swalayan. Ia diringkus dan diborgol oleh empat petugas kepolisian yang kebetulan berada tidak jauh dari swalayan terkait.

Karena menolak masuk ke dalam mobil polisi, bagian leher George Floyd diinjak oleh Derek Chauvin dengan menggunakan lutut. Ia pun jatuh ke atas tanah selama 9 menit 29 detik. Saat diinjak, George Floyd berulang kali menyampaikan ucapan “saya tidak bisa bernapas”.

Nahasnya, ucapan tersebut tidak diindahkan oleh aparat kepolisian yang menahannya, yang akhirnya membuat nyawa George Floyd melayang.

 

Aksi Menetang Rasial Tidak akan Pernah Padam

Setelah vonis diumumkan, para warga pun mendatangi kawasan di mana George Floyd mendapat perlakuan buruk. Mereka menyalakan lilin dan meluncurkan kembang api, sebagai bentuk perayaan atas keadilan yang diberikan pihak pengadilan.

Bibi George Floyd, Angela Harrelson menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas seluruh dukungan yang diberikan para warga.

Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi sejarah warga Afrika – Amerika yang tidak pernah berhenti memperjuangkan hak kesetaraan dan melawan ketidak-adilan rasial yang hingga hari ini masih berlanjut.

Angela Harrelson mengatakan, “Kami harus bernegosiasi untuk memperoleh kesetaraan. Kami juga harus bernegosiasi untuk bisa naik ke bus atau mendapatkan suara. Kami bahkan juga harus bernegosiasi untuk jenjang pendidikan. Ini bukanlah hal yang aneh bagi kami. Kami tidak pernah berhenti bernegosiasi. Ketika putusan tersebut diumumkan, kami seakan-akan mendapat lampu konfirmasi. Apa yang selama ini kami negosiasikan, akhirnya mendapat konfirmasi. Diskriminasi rasial yang tersistematis adalah fenomena yang nyata.”

 

Pandemi COVID-19, Aksi Rasial juga Dialami Warga Asia

Diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat Amerika Serikat telah menimbulkan ketakutan dan kemarahan bagi kaum minoritas, termasuk warga keturunan Asia.

Situasi kekerasan yang dialami warga Asia di Amerika Serikat meningkat pesat dalam kurun waktu 1 tahun belakangan, di mana wabah COVID-19 kian merebak.

Warga Asia yang mengenakan masker dan berjalan di kawasan umum diserang secara lisan. Bahkan lansia Asia pun memperoleh tindakan kasar dari warga kulit putih tanpa ada alasan yang jelas.

Delapan warga tewas dalam peristiwa penembakan di salah satu SPA di Atlanta pada akhir Maret lalu. Dari jumlah korban yang ada, enam di antara mereka adalah wanita keturunan Asia.

Kejadian tersebut tentu membangkitkan amarah warga Asia. Banyak warga Asia yang sebelumnya tidak tahu-menahu persoalan politik, memutuskan untuk turun ke jalan dan berpartisipasi dalam aksi protes terbesar warga Asia di Amerika Serikat.

Para aktivis menyampaikan, penggunaan istilah kasar “virus China” yang dilontarkan oleh mantan Presiden Donald Trump, dianggap sebagai salah trigger yang membuat isu rasial kembali memanas.

Bagi warga Asia, kini bukan hanya persoalan memerangi virus, melainkan perjuangan melawan aksi diskriminasi yang sedari dulu telah menjerat kehidupan di AS.

 

Penyiar

Komentar