Argentina Melegalkan UU Aborsi

  • 12 February, 2021
Argentina Melegalkan UU Aborsi

(Taiwan, ROC) --- Argentina menjadi negara Amerika Latin pertama yang melegalkan aborsi. Ini juga menjadi kemajuan signifikan bagi Argentina dalam memperjuangkan hak-hak perempuan yang telah didorong semenjak akhir tahun lalu.

Ini juga menjadi perkembangan besar, terutama bagi kawasan yang didominasi oleh umat Katolik. Apakah negara-negara Amerika Latin lainnya akan mengikuti jejak Argentina? Atau malah akan menyerang kebijakan Argentina?

Pada tanggal 30 Desember 2020, Kongres Argentina mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Kaum Perempuan, yakni dengan mengizinkan aborsi bagi perempuan dalam kurun waktu 14 minggu waktu kehamilan.

Berita ini pun disambut baik oleh kaum perempuan setempat, mengingat proses pembahasannya sendiri telah memakan waktu yang cukup panjang.

Setelah lebih dari 30 tahun, perempuan Argentina akhirnya mendapatkan “hak otonomi” atas tubuhnya sendiri. Pada saat yang sama, gerakan tersebut akan mendorong kaum wanita di negara Amerika Latin lainnya untuk memperjuangkan hak mereka.

Namun, konsep Argentina tersebut mendapat penolakan mentah-mentah dari kaum konservatif yang berdiam di negara-negara Amerika Latin lainnya.

 

Perjuangan Lintas Generasi Kaum Wanita Argentina Berbuah Manis

Di bawah pengawasan kelompok advokasi hak perempuan dan pejabat pemerintah, Undang-Undang Aborsi Argentina secara resmi diketuk palu pada tanggal 24 Januari 2021.

Otoritas Argentina akan menjamin kepastian dari penerapan UU tersebut, meski mendapat kecaman dan pertentangan dari kaum konservatif.

Bagi wanita dalam usia kehamilan 14 minggu diperbolehkan untuk melakukan praktik aborsi karena faktor apa pun. Mereka tidak perlu lagi diam-diam dan dapat menuju rumah sakit mana pun untuk memperoleh layanan aborsi gratis.

Seorang dokter obstetri dan ginekologi, Sandra Vázquez menyampaikan, dengan diberlakukannya UU tersebut akan membuat hak kaum wanita menjadi lebih setara.

Dokter Sandra Vázquez mengatakan, “Layanan aborsi ilegal memiliki fungsi yang sangat penting. Karena situasi yang dihadapi seorang wanita hamil yang ingin melakukan aborsi, sangatlah kompleks. Hari ini, UU tersebut telah membuka jendela penting bagi kita. Terlepas dari situasi perekonomian yang ada, semua orang dapat memperoleh layanan ini secara legal.”

Argentina selalu menjadi pemimpin di kawasan Amerika Latin, dalam melegalkan berbagai undang-undang. Sebut saja dengan RUU pernikahan sesama jenis yang disahkan pada tahun 2010 lalu. Hingga hari ini , langkah Argentina tersebut setidaknya telah diikuti oleh negara di Amerika Tengah dan Selatan.

Oleh karena itu, UU Aborsi Argentina kali ini akan memberikan efek serupa bagi wilayah-wilayah tersebut.

Warna hijau dipilih warga Argentina dalam mempromosikan pelegalan UU Aborsi. Di jalanan setempat, dapat terlihat dukungan yang kuat dari pengesahan UU tersebut. Warga setempat menyematkan warna hijau dalam keseharian mereka, misal sapu tangan hijau dan slogan yang berhubungan dengan warna hijau.

Tidak heran jika “Gelombang Warna Hijau” disematkan atas perjuangan hak aborsi Argentina kali ini. Antusias warga Argentina tersebut juga telah menjalar ke kawasan Amerika Tengah dan Selatan lainnya, mereka mulai memperlihatkan aksi unjuk rasa menuntut pengesahan serupa.

 

UU Aborsi Argentina Menarik Perhatian Negara Tetangga

Presiden Brasil Jair Bolsonaro, yang merupakan bagian dari konservatif sayap kanan telah mengumumkan kritik kerasnya terhadap UU Aborsi Argentina. Ia menyampaikan, praktik aborsi sama saja dengan pembunuhan. Dirinya tidak akan pernah membiarkan UU serupa disahkan di negaranya.

Di Brasil praktik aborsi hanya diperbolehkan bagi mereka dengan isu-isu khusus, meliputi kekerasan seksual, kehamilan yang bisa membahayakan nyawa sang ibu dan kondisi embrio yang abnormal.

Bagi wanita yang tetap ingin mengakhiri kehamilannya, hanya dapat beralih ke praktik aborsi ilegal.

Praktik aborsi ilegal di Brasil telah menyebabkan setidaknya 20.000 wanita setempat harus dirawat di rumah sakit karena menderita komplikasi pada setiap tahunnya. Dan bahkan ratusan nyawa wanita harus terkorbankan akibat praktik gelap tersebut.

Agar terhindar dari risiko mematikan, perempuan dengan sumber keuangan yang mencukupi, biasanya akan memilih untuk melakukan aborsi ini negara-negara yang telah melegalkan praktik tersebut.

Seorang wanita Brasil berusia 20 tahun dengan nama Sara (nama samaran) meminta bantuan kepada organisasi nirlaba setempat untuk datang ke Ibukota Argentina, Buenos Aries pada akhir tahun lalu, untuk melakukan praktik aborsi resmi.

Sara mengatakan, “Pertama kali saya tahu bahwa saya hamil, saya tidak ingin melanjutkannya. Ketika saya dengar bahwa Argentina telah melegalkan UU Aborsi, saya pun bisa menarik nafas lega.”

Bukan fenomena baru bagi perempuan Brasil untuk melakukan praktik aborsi di Argentina. Warga Brasil dapat memperoleh layanan aborsi di Argentina, selama mereka menandatangani pernyataan risiko kesehatan.

Dan setelah UU Aborsi diloloskan otoritas Argentina, diperkirakan angka permintaan warga Brasil untuk datang ke Argentina guna melakukan praktik aborsi, akan meningkat pesat.

 

 “Gelombang Warna Hijau” Muncul di Negara Latin Lainnya

Gelombang wana hijau Argentina juga telah bertiup hingga ke kawasan Honduras. Namun demikian, aktivitas setempat akan lebih sulit dalam memperjuangkan legalisasi aborsi di wilayah Honduras.

Pada tanggal 25 Januari 2021, sejumlah wanita dengan sapu tangan hijau turun ke jalan-jalan Tegucigalpa untuk melancarkan aksi protes. Guna menekan berkembangnya aksi unjuk rasa tempat, otoritas Honduras mendorong pihak Kongres untuk mengubah konstitusi dan meningkatkan pintu legalisasi aborsi, yang mana akan mempersulit diloloskannya uu serupa.

Salah seorang aktivis pejuang hak perempuan Honduras, Suyapa Martinez menyampaikan alasan mengapa semua orang turun ke jalan adalah untuk memperjuangkan perlindungan hukum, serta memperoleh layanan aborsi yang aman dan legal.

Suyapa Martinez mengatakan, “Kami ingin memperjuangkan layanan dan jaminan hukum bagi kaum wanita.”

Honduras adalah salah satu dari empat negara di kawasan Amerika Tengah yang sepenuhnya melarang praktik aborsi. Semenjak tahun 1992, konstitusi setempat melarang praktik aborsi karena alasan apa-pun.

Aborsi adalah praktik yang melanggar hukum dan dapat dipidana selama 3 tahun hingga 6 tahun. Honduras bahkan memberlakukan peraturan ketat, yang melarang kaum wanita menggunakan kontrasepsi darurat, meski memperoleh tindakan kekerasan seksual sekalipun.

Pejuang hak kaum perempuan Honduras menyampaikan, sikap pemerintah yang keras tersebut tidak akan menghentikan praktik aborsi dan hanya akan memperburuk situasi kaum wanita setempat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dana cukup untuk melakukan aborsi di negara lain.

Namun demikian, aktivis kaum wanita Honduras tidak akan menyerah dalam memperjuangkan hak mereka. Mereka akan terus belajar dari Argentina dan bergabung dengan organisasi lainnya dalam mendorong gerakan warna hijau tersebut

Penyiar

Komentar