Pandemi COVID-19 Memperburuk Hutang Negara-Negara Benua Afrika

  • 20 November, 2020
  • Yunus Hendry
Pandemi COVID-19 Memperburuk Hutang Negara-Negara Benua Afrika

(Taiwan, ROC) --- Guna memperluas pengaruh globalnya, Tiongkok telah mengucurkan pinjaman ratusan miliar dolar kepada banyak negara berkembang.

Datangnya kecamuk pandemi COVID-19 tahun ini, membuat hutang-hutang dari negara tersebut menjadi kian bertambah. Perekonomian di banyak negara Benua Afrika dilaporkan terlah terpuruk, salah satunya adalah Zambia yang telah berada ditahap “Debt default”.

Krisis hutang Benua Afrika disinyalir akan meningkatkan risiko strategi pinjaman luar negeri Tiongkok.

Dalam 20 tahun belakangan ini, otoritas Negeri Tirai Bambu telah mengucurkan pinjaman kepada banyak negara berkembang. Strategi finansial diberikan guna untuk memperluas pengaruh Tiongkok di dunia dan meningkatkan suara dukungan dari negara-negara peminjam.

Tiongkok pun berhasil menjadi negara kreditor terbesar untuk kawasan Benua Afrika. Guna memperkuat strategi finansialnya, otoritas Beijing juga telah meluncurkan inisiatif “Belt and Road” pada tahun 2013 silam.

Selain itu, Tiongkok juga menjalin kerja sama dengan badan perusahaan milik negara setempat, dengan total dana yang dipinjamkan mencapai US$ 152 miliar.

Namun, datangnya epidemi COVID-19 telah membuat negara-negara Afrika kelimpungan untuk membayar hutang mereka. Salah satunya adalah Zambia yang diperkirakan akan gagal membayar hutang mereka. Bukan tidak mungkin jika Zambia akan menjadi negara pertama di Benua Afrika yang tidak mampu membayar hutang dalam kurun 2 dekade belakangan.

Majalah African Business mengutip pernyataan Elling Tjønneland yang merupakan peneliti senior “Christian Michelsen Research CMI” di Norwegia menyampaikan, pendapatan di negara-negara Afrika sebagian besar bergantung pada ekspor bahan mentah. Dan datangnya COVID-19 telah membuat harga bahan mentah menyentuh level terendah, dan harus berujung pada terpuruk perekonomian setempat.

Ia memperkirakan prospek Benua Afrika dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi sangat suram.

Meski otoritas Afrika terus berupaya untuk melunasi hutang mereka, tetapi bukan tidak mungkin dapat membuat banyak negara peminjam akan mengalami krisis di tengah datangnya wabah COVID-19.

Menilik data dari Bank Dunia, negara-negara berekonomi lemah yang memiliki hutang dengan negara anggota G20, rasionya telah meningkat dari yang semula 45% di tahun 2015 menjadi 63% di tahun 2019.

Dan Tiongkok menjadi kreditor terbesar bagi negara-negara peminjam yang mayoritas berasal dari Benua Afrika.

Di tengah kecamuk COVID-19 yang meluluhlantakkan perekonomian dunia, G20 merilis kebijakan Debt Service Suspension Initiative, DSSI; guna menangguhkan sementara hutang 73 negara termiskin di dunia. Selain itu, G20 juga mempromosikan kebijakan finansial untuk mengevaluasi kembali periode pengembalian hutang tersebut.

Meski demikian, otoritas Tiongkok tidak terlalu setuju menanggapi kebijakan untuk memperpanjang masa pengembalian hutang negara-negara peminjam.

Media New York Times mewartakan, saat ini Tiongkok menghadapi pilihan yang rumit. Jika mereka mengevaluasi ulang atau membebaskan pinjaman tersebut, maka hal ini akan menambah tekanan bagi finansial setempat.

Belum lagi hal ini akan mendatangkan ketidakpuasan dari rakyat Tiongkok, yang notabene juga tengah mengalami perlambatan ekonomi.

Jika Beijing meminta negara-negara peminjam untuk segera melunasi hutang mereka, maka dirasa akan dapat mendatangkan kritikan dari komunitas dunia. Mengingat sebelumnya Negeri Panda tersebut dinilai lambat dalam menangani penyebaran COVID-19.

Di samping itu, hal tersebut juga akan menghambat strategis Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya di tanah Afrika.

Komentar