COVID19 BERDAMAI DENGAN MANUSIA

  • 15 September, 2020
  • Farini Anwar
(Sumber foto : Chris Barbalis/Unsplash)

Belum lama ini terdengar kabar, ada yang mengusulkan agar manusia (masyarakat) bisa hidup berdampingan dan berdamai dengan Covid19 yang sudah menyebar rata ke seluruh propinsi, bahkan seluruh pelosok bumi ini. Memang banyak orang menganggap, usulan itu sontoloyo. Bagaimana mungkin Covid19 yang merusak banyak tatanan dan lapisan masyarakat koq diajak berdamai, duduk bersama sambil ngopi. Apapun alasan dan dasar pemikiran itu, hilang lenyap tertiup angin lalu sebagai omong kosong tanpa kajian ilmiah.
Namun, rupanya bukan manusia saja yang sontoloyo ingin berdamai dengan virus bernama Covid19 itu. Ternyata para Covid19 itu pun juga kini mengajukan tawaran berdamai dengan manusia. Mereka kini mengalami kelelahan dan kewalahan dalam perkembang-biakan mereka yang tertinggal kalah cepat dengan pelanggaran protokol yang memaksa si Covid19 harus berpindah menular secara ter-buru2. Seringkali bibit Covid19 yang baru menetas, sudah dipaksa berpindah menyebar karena manusia yang ditumpanginya bersenggolan dengan badan yang belum berpenumpang. Akibatnya, para virus Covid19 merasa kekuatan kembang-biaknya kalah dengan kegiatan manusia. Selain itu, setelah nyaman menumpang di badan manusia, banyak yang tidak terselamatkan sehingga mereka pun terbawa masuk ke dalam liang lahat bersama jasad tumpangan mereka. Inilah yang menjadikan mereka berpikir untuk berdamai dengan manusia, mencari cara yang “win-win solution” begitulah.
Coba kita mundur ke bulan Maret lalu, dimana para ahli telah memprediksi secara matematis epidemiologis, bahwa kita akan mencapai 200 ribu pasien yang tertular Covid19 di bulan Juli. Kenyataannya, angka tsb baru terwujud pada awal September. Ini membuktikan terjadinya perlambatan gerak perpindahan virus Covid19, kalah cepat dengan upaya manusia untuk berpacu menularkan pada sesama, sehingga mengakibatkan kelelahan dan kewalahan pada sang Covid 19.
Dalam perjanjian damai yang mereka ajukan, mereka berharap manusia mau memperlambat penularan secara sembrono dan serampangan agar mereka juga bisa mengatur pembatasan, sekaligus mengurangi korban di pihak mereka yang akhirnya harus masuk liang lahat.
Para virus Covid19 pun merasakan bahwa keberadaan mereka bukan saja mengganggu kesehatan, tapi juga dipakai sebagai alat politik. Sehingga lahirlah pemeo lama, “Mempolitikkan virus, dan memviruskan politik”. Akibat lebih lanjut, koalisi para virus pun kini terpecah, karena mereka berpikir bahwa bermain politik jauh lebih “fun”, lebih menjamin, tanpa resiko harus masuk kubur………….
Kalau manusia dan virus sudah sepakat saling berdamai, tunggu apa lagi kita???
Tunggulah apa yang terjadi selanjutnya…………….
(Linjin, 14 Sept 2020)

Komentar