Kecamuk Pandemi COVID-19, Dampak Besar di Sektor Kesenian dan Budaya Dunia

  • 04 September, 2020
  • Yunus Hendry
Kecamuk Pandemi COVID-19, Dampak Besar di Sektor Kesenian dan Budaya Dunia

(Taiwan, ROC) --- Kecamuk pandemi virus korona yang berlangsung selama 9 bulan ini, telah merenggut 860.000 nyawa di dunia. Jumlah warga global yang positif terinfeksi COVID-19 juga sudah mencapai angka 26 juta orang.

Kerusakan yang dibawa pandemi COVID-19 telah berdampak bagi aspek kehidupan masyarakat, salah satunya adalah sektor industri seni dan budaya.

Di bawah penerapan protokol kesehatan, beberapa pusat kesenian pun mencoba untuk memulai kembali jam operasional mereka.

Metropolitan Museum of Art (MET) New York Amerika Serikat, akhirnya dibuka kembali setelah ditutup selama hampir setengah tahun.

Penutupan sementara museum terbesar di Amerika Serikat tersebut merupakan yang terlama sepanjang sejarah setempat. Keberadaan museum ini sangat penting bagi publik setempat karena melambangkan dimulainya kembali kota Big Apple tersebut.

Sebelumnya, jumlah kasus positif di New York sangat memprihatinkan. Meski saat ini otoritas setempat berhasil mengendalikan situasi penularan, tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus dijalankan sebelum kasus pandemi benar-benar punah.

Kerugian yang diakibatkan oleh penutupan setengah tahun tersebut, disinyalir mencapai US$ 150 juta.

Pimpinan Metropolitan Museum of Art New York, Daniel Weiss mengatakan, “Dalam enam bulan terakhir, kami tidak memiliki pendapatan apapun. Dengan demikian, kerugian yang kami alami berkisar US$ 150 juta, sangat besar. Namun, kami memiliki rencana untuk menyelesaikan permasalahan ini. Museum kami memiliki (jaringan) kuat dan memiliki sumber dana yang mumpuni. Kami akan bekerja keras untuk melewati semua ini dan siap untuk melanjutkan perjuangan berikutnya.”

Namun, tidak semua industri seni dan budaya memiliki dana penunjang untuk mengatasi kesulitan tersebut. Jepang misalnya, pertunjukkan drama musik Noh sangat terpengaruh oleh kecamuk wabah pandemi saat ini

Drama Noh, adalah seni teater tradisional Jepang. Salah satu ciri yang paling menarik dari pertunjukkan ini adalah para aktornya tampil dalam berbagai gaya topeng. Drama ini memiliki reputasi tinggi di dunia internasional, ketenarannya setara dengan pertunjukan Kabuki.

Epidemi telah mengganggu pendapatan dari kelangsungan pertunjukkan ini. Di tengah kecamuk pandemi COVID-19 pemasukan dari pertunjukan ini berkurang hingga 50%. Banyak kelompok seni drama Noh terpaksa kehilangan uang dan memutuskan untuk menghentikan pertunjukan ini sebelum akhir tahun tiba.

Penggiat drama pertunjukan Noh, Kanta Nakamori mengatakan, “Teater kabuki akan baik-baik saja, karena ditopang oleh perusahaan Shochiku. Sedangkan, pertunjukkan boneka Bunraku merupakan bagian dari harga kebudayaan tak berwujud, sehingga semua penggiatnya bisa memperoleh bantuan dari pemerintah. Tetapi teater drama Noh memperkerjakan seniman lepas dan mereka tidak memperoleh bantuan apapun. Ini akan menjadi masalah.”

Meski banyak daerah telah membuka kembali kawasan hiburan mereka, tetapi masih banyak warga yang tidak berani mengunjungi lokasi pertunjukan. Salah satu pemilik bioskop di Inggris, memindahkan studio mereka ke alam bebas. Sembari tetap menjaga jarak, para warga dapat menikmati film dari setiap kapal kecil masing-masing.

Di Indonesia, kelompok teater memindahkan perhelatan museum seni ke jalanan di Ibukota Jakarta. Mereka juga melukis gang-gang kecil dengan struktur 3 dimensi.

Kecamuk pandemi COVID-19 di seluruh belahan dunia telah genap 9 bulan. Para penggiat seni dunia terus berupaya untuk tetap berkarya dan berharap dapat kembali tampil di hadapan para penonton.

Komentar