close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Manusia & Teknologi - 2023-04-20

  • 20 April, 2023

info pekan ini 

 

~ Dongkrak angka persalinan Taiwan, darah muda enggan menikah, apalagi punya anak.

Kupas tuntas terkait kebijakan dan program pemerintah dalam mendukung persalinan bagi warga yang sudah menikah di Taiwan, program yang sudah berlangsung selama dua dekade dan hampir berujung di ambang pintu kegagalan. Bagaimana Jepang memperbaiki jaring yang rusak ini? Dalam satu dekade terakhir ini, Taiwan dan Korsel bak “Saudara seiman,” susah dan senang bareng dengan kondisi negara yang cukup persis dalam tingkat kesuburan terendah di dunia, dimana tahun lalu, dari berbagai efek gabungan global misal : kondisi Epidemi dan tahun Macan, dimana tingkat kesuburan warga turun ke rekor terendah menjadi 0.87%, angka ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah mencatat.

Namun, “ Rencana penanggulangan anak “ yang di fokuskan oleh pemerintah selama bertahun-tahun yang nampaknya hanya fokus kepada bagaimana mengurangi beban keluarga dalam membesarkan anak, dan kurangnya perhatian akan kelompok yang belum menikah menjadi pr besar bagi banyak instansi. Dalam proses meningkatkan angka kelahiran yang menurun, kelompok orang yang telah di abaikan ini telah tumbuh dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dalam 20 tahun terakhir, hal ini juga yang merupakan faktor utama dalam kunci kegagalan kerja keras Taiwan selama 20 tahun.

Pemerintah terlah berupaya mempromosikan tunjangan persalinan, akan tetapi darah muda yang bahkan tidak ingin menikah. bagaimana ini bisa menjadi insentif yang dapat menarik perhatian bagi mereka ? Qiu Chen Yuan, salah seorang anggota Partai Rakyat yang sudah menjadi seorang ayah dengan di karuniai 3 orang anak, dirinya yakin dan percaya bahwa kebijakan dalam terus mendorong perkawinan dan melahirkan harus bertahap dalam implementasinya. misal : bantu permasalahan yang kerap di jumpai dalam kelompok anak muda di bidang papan, kesampingkan penghalang pernikahan antar anak muda, dan kemudian yang akan di hubungkan dengan berbagai kebijakan pengasuhan anak untuk lebih efektif. jika pemerintah benar-benar menganggap penurunan angka kelahiran sebagai krisis keamanan nasional, maka pasti ada lebih dari satu jalan, dari setiap aspek akan di temukan cara yang tepat sebagai solusi.

Apabila di bandingkan dengan negara lainnya, maka tidak akan sulit untuk menemukan respon pemerintah Taiwan yang di rasa cukup lambang. Pada tahun 1982, Jepang dengan tingkat fertilitas Nasional yang masih berada pada angka 1.77% sudah menyadari dampak generasi lajang yang pastinya akan mendukung penurunan angka fertilitas. dalam proses melawan angka ini, pernikahan dan kelahiran telah di pertimbangkan secara bersamaan. selain mendukung pernikahan sebagai salah satu dari lima rencana penurunan kelahiran sejak tahun 2002, pada tahun 2006 pemerintah lebih aktif dalam menciptakan jalinan antara pria dan wanita lajang, dimana hal ini di terbantu oleh sistem sertifikasi pemerintah atas ijin usaha konseling perkawinan.

Pemerintah pusat juga telah memberikan banyak anggaran daerah yang cukup untuk mendorong di setiap kabupaten dalam mengadakan “ acara pernikahan “ sebagai sarana khusus dalam mendekatkan diri kepada pasangan ataupun sebagai ajang dalam mencari pasangan bagi warga. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah memang fokus kepada pengurangan beban keluarga dalam mengasuh anak, hal ini tentu tidak terlalu memperhatikan kelompok lajang yang juga menjadi target kebijakan yang cukup bias. Penasihat Politik Lin Wan Wan yang juga menjadi kunci utama dalam penanggulangan penurunan angka kelahiran dari Yuan Eksekutif, menggambarkan keperdulian pemerintah pada saat ini terhadap orang yang belum menikah sebagai “ tujuan kebijakan yang belum rampung “.

Dirinya mengamati bahwa baik Singapura maupun Jepang memiliki langkah untuk mendukung pernikahan seperti menyediakan dana pernikahan, prioritas perumahan rakyat bagi kalangan yang sudah menikah, di tambah dengan suplemen dana dari pusat bagi berbagai kabupaten di jepang dalam menggalak berbagai kegiatan untuk mendorong kaum muda untuk bersosialisasi.

Metode ini mungkin tidak dapat di lakukan di Taiwan, tapi apabila tujuannya adalah untuk menggalakan metode ini keinginan dalam mendorong angka kelahiran dan merangsang angka kesuburan masih sangat terbatas. jelas hal ini di perlukan rincian dan perencanaan yang lebih matang apabila metode ini di perlukan bagi dalam negeri. Dengan fakta yang sudah mulai terlihat hingga hari ini seperti, terlambat menikah, menunda kelahiran, pembekuan sel telur Ovum menjadi solusi bagi banyak wanita muda yang sedang mencemaskan ataupun memperhitungkan terkait tingkat kesuburannya. dalam 2 tahun terakhir, jumlah telur beku yang telah di simpan di berbagai pusat reproduksi Taiwan telah tumbuh secara signifikan.

Hingga saat ini belum ada data resmi terkait pembekuan sel telur, namun apabila di lihat dari skala pada tahun 2013, terdapat lebih dari 30 wanita yang mengambil metode ini untuk membekukan sel telurnya setiap tahun, setelah 2018 jumlahnya telah meningkat secara signifikan. apabila di bandingkan dengan data dari satu dekade yang lalu, angka ini sudah meningkat menjadi lebih dari 1000 orang, naik menjadi 30 kali lipat dari 10 tahun yang lalu.

Seiring dengan semakin populernya trend ini, dimana usia rata-rata wanita yang membekukan telurnya meningkat dari usia 37 tahun hingga ke 35 tahun, menunjukkan trend ini menarik perhatian bagi wanita-wanita muda Taiwan. Apabila mengacu kepada biaya dari berbagai pusat Reproduksi Taiwan dengan biaya satu perawatan pembekuan telur yang hanya berkisar dari 80.000 NTD ~ 100.000 NTD, dimana penyimpanan telur akan di kenakan tarif sebesar 8000~10.000 NTD/tahun.

Apakah penggunaan dari manfaat penyimpanan telur ini tinggi? Liang Yi Ting salah seorang dokter dari pusat kesuburan di klinik Song Zi Niao menunjukkan bahwa berdasarkan laporan dari Departemen Obstetri dan Ginekologi rumah sakit Universitas Nasional Taiwan tahun lalu, tingkat penggunaan telur beku di rumah sakit sekitar 8.4% dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. di lansir dari Technews.com yang menjabarkan bahwa statistik rumah sakit Song Zi Niao bahwa tingkat pemanfaatannya sekitar 4.5% pada tahun 2022. selama periode ini lebih sedikit orang yang datang ke rumah sakit, gegara masa pandemi yang tingkat pemanfaatan telur ini menurun di angka 6.7%. adapun tingkat pemanfaatan telur di luar negeri berkisar dari angka 9%~12%, dan Amerika adalah negara dengan statistik penelitian tertinggi dengan angka pemanfaatanya berada di angka 38%.

Rendahnya tingkat pemanfaatan telur beku di Taiwan di mungkinkan oleh Konsepsi Alami, yang tidak memerlukan pembekuan, di lain sisi juga berbagai hukum yang terlalu ketat di dalam negeri sehingga membuat telur yang sudah di simpan harus melalui berbagai hukum reproduksi buatan yang cukup berlibet, dimana hukum ini hanya berlaku bagi pasangan yang sudah menikah, atau wanita lajang, atau bagi pasangan yang belum menikah tidak dapat mencairkan sel telur untuk reproduksi buatan.

Menikah dan memiliki keturunan adalah sebuah hubungan yang saing terikat, dimana fenomena ini adalah sebuah fenomena unik di negara-negara asia Timur, butuh waktu dan tenaga untuk merubah konsep tersebut, akan tetapi pemerintah harus terlebih dahulu melonggarkan berbagai regulasi akan dapat di nikmati oleh para pengguna dalam mempraktekkan kebijakan ini.

Hukum Reproduksi Buatan saat ini hanya berlaku bagi pasangan yang sudah menikat, terkait hal ini telah di pertanyakan bahwa hal ini adalah hal yang pertama dalam mendiskriminasikan dan menghilangkan hak reproduksi bagi orang yang belum menikah, banyak dari mereka yang belum memiliki hubungan yang langgen maupun stabil.

Lin Wan Wan menghela nafas, Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan sudah membahas apakah sekarang adalah saatnya untuk beristirahat sejenak, apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk melonggarkan berbagai regulasi terkait kebijakan ini, jika regulasi ini dapat di revisi, tentu akan mendatangkan banyak perhatian bagi orang-orang yang membutuhkan kebutuhan reproduksi buatan dari orang yang belum menikah dan menginginkan keturunan.

Terkait permasalahan angka kelahiran rendah di Taiwan bukanlah berita baru, dimana sebab akibat dari fakta ini saling terkait, setiap tindakan prefentif tentu membutuhkan waktu demi mencari solusi terbaik. solusi terbaik pada saat inilah rembukan antar berbagai instansi dalam mencari jawaban yang tepat bagi berbagai pihak.

Pantau terus yows.. 

Penyiar

Komentar