close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Manusia & Teknologi - 2023-03-02

  • 02 March, 2023

Info pekan ini 

 

~ Ketika 80% karyawan memilih bekerja dari rumah, lalu manfaat kantor itu apa?

Badai Pandemi yang telah hidup dengan rutinitas kita selama hampir 3 tahun lamanya telah membuka sebuah eksperimen global yang baru terkait di mana dan bentuk pekerjaan seperti apa yang dapat di kerjakan. orang seperti apakah yang dapat bekerja di rumah, beberapa orang perfikir bahwa bekerja dari rumah akan kecil kemungkinannya terganggu oleh rekan kerja, sementara beberapa orang yang juga berpendapat bahwa pekerjaan dapat di lakukan secara optimal dan fokus ketika di lakukan dari kantor, Anda bekerja dimana? laporan dari Mckinsey & Company 2020 yang menjabarkan sebuah konsep baru terkait pekerjaan dan kehidupan setelah COVID-19, menunjukkan bahwa sebelum Epidemi, kantor-kantor pada uumnya di anggap sebagai sebuah tempat yang di tuntut untuk membuahkan produktivias tinggi, meningkatkan budaya perusahaan serta sebuah wadah yang dapat menarik perhatian bagi bakat baru.

Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mendirikan ruangan kerjanya di area komersil teratas, dengan di dukung oleh desain yang berfokus kepada peningkatan produktivitas karyawannya, baik itu bekerja secara beregu atau secara individu agar dapat memberikan kenyamanan dalam segi perangkat dan sarana misal : aneka minuman, peralatan kebugaran, dan berbagai fasilitas demi mendukung konsentrasi penuh dalam saat bekerja.

Namun ketika wabah dunia yang semakin bergejolak, membuat sebagian besar para karyawan tidak dapat pergi ke kantor dengan berbagai kendala pada saat pandemi. baik pemilik perusahaan maupun karyawan menemukan bahwa komunikasi antar karyawan dapat terjalin dengan baik, tentunya di dukung dengan berbagai perangkat digital, dan yang paling penting adalah kapasitas produksi tidak menurun. berdasarkan survei laporan yang menunjukkan bahwa 80% orang lebih suka bekerja dari rumah, dan 40% berfikir mereka lebih produktif ketika melakukan pekerjaannya dari rumah.

Komunikasi jarak jauh yang mulus yang sekaligus membangun sebuah metode komunikasi yang rapih dan tertata menjadi sebuah kata kunci dalam kondisi seperti ini, apakah perlu di pertahankan metode ini setelah selesainya pandemi?

Tokoh oposisi kondang, CEO Tesla - Elon Musk beserta dengan para pemilik perusahaan lainnya turut meminta atau bahkan mengancam para karyawannya untuk kembali ke kantor dan melaksanakan rutinitas pekerjaannya seperti sedia kala. apakah para bos-bos ini sudah semakin ketinggalan jaman pola pemikirannya? sepertinya belum tentu.

Mckinsey mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup layak untuk di fikirkan : Mungkin kepuasan dan efisiensi kerja sama yang di rasakan oleh para karyawan berasal dari akumulasi dari ratusan jam yang telah di habiskan di ruang teh dan meja kerja?

Apakah budaya dan Korelasi dalam kantor akan rusak dalam jangka waktu yang panjang? kurangnya interaksi fisik akan mengurangi kualitas interaksi antar karyawan dan pemilik? peluang untuk membimbing dan melatih karyawan baru juga akan menurun?

Maju kena, Mundur kena, terjepit di 2 ujung spektrum, kerja dari rumah atau kerja dari kantor, kompromi antar ruang yang fleksibel telah melahirkan berbagai pilihan bagi banyak perusahaan. mengacu kepada kombinasi jarak jauh dan temu muka, dimana tidak perlu pergi ke kantor setiap hari, dan sebagian besar tidak memiliki sistem jam kerja tetap. ketika sistem dan budaya sebuah perusahaan telah berubah dan menjadi fleksibel maka dari itu ruang kantor juga akan berubah sebagai respon terhadap sebuah permintaan. Transformasi sebuah ruang kerja akan mendorong perubahan sebuah sistem, dan perusahaan perlu memikirkan fasilitas pendukung terlebih dahulu.

Dalam sebuah buku yang menjabarkan konsep perkantoran dengan judul “ Illustrated Office Space Thinking “ menunjukkan bahwa ruangan perkantoran sangat relevan dengan produktivitas, budaya, fleksibelitas, serta kebahagiaan karyawan. semua orang tahu bahwa keputusan desain yang tampak sederhana dapat secara dramatis mempengaruhi pekerjaan serta produktivigas karyawan dalam rutinitasnya. bagi perspektif manajemen, desain kantor juga dapat menjadi sebuah alat yang ampuh untuk mendukung budaya sebuah organisasi dan mendorong terlahirnya inovasi baru. misal, kantor yang memiliki banyak meja dan kursi yang standar, dan pengawas atau seorang supervisor yang duduk di posisi yang dapat di lihat orang semua orang, desain seperti ini meneriakkan sebuah sistem organisasi yang hirarki atau bahkan skema administrasi yang otoriter. setelah desain kantor yang telah menunjukkan perubahan baik secara ukuran, jumlah kursi, lokasi ruang pertemuan, dapur, toilet, DLL perlahan sistem juga akan berubah dengan sendirinya.

Menurut wawancara dengan “ Manager bulanan - 經理人月刊 “, tidak ada 2 perusahaan yang mengadopsi sistem kerja yang sama, berbagai peraturan yang tentunya dapat di konfirmasi hingga batas tertentu. perusahaan tentu juga masih mengeksplorasi dan mengamati metode praktik terbaik bagi perusahaan dan karyawannya. Namun arah transformasi perusahaan yang sebagian besar mencakup lebih banyak tempat pertemuan dan diskusi, ruang sosial, kursi yang tidak tetap, perangkat teknologi yang tentunya masih akan terus di rancang agar mendapatkan output kerja tertingi dengan memperhatikan ragam acuan agar semua karyawan dapat bekerja dengan baik dan nyaman. setiap organisasi akan memiliki kebudayaan yang unik, tentunya produktivitas karyawan akan mengalami pasang dan surut. beberapa bentuk kolaborasi bekerja baik secara daring ataupun di kantor tentu menjadi problematikannya sendiri. hingga saat ini kantor masih menjadi tempat terbaik bagi karyawan untuk berkolaborasi, masa depan pekerjaan mungkin akan berubah secara dramatis, namun sepertinya kantor masih tetap akan ada.

 

~ Usai pandemi COVID Tiongkok berakhir?

Apakah puncak pandemi COVID di Tiongkok sudah berakhir? dapat di pastikan flu susulan kembali mendekati kehidupan warga. Puncak infeksi dan wabah COVID yang merajalela di Tiongkok dapat di pastikan sudah berlalu, dan jumlah kasus positif yang terkonfirmasi secara bertahap sudah menurun dan terkontrol semenjak Desember tahun lalu, namun untuk sementara Tiongkok yang telah melonggarkan pembatasan regulasi epidemi, tampaknya infeksi Influenza yang juga telah meningkat secara bertahap.

Berdasarkan laporan pengawasan yang di rilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China yang telah merilis data pada sabtu kemarin, angka positif Influenza pada minggu ke 7 tahun 2023 telah meningkat dari 3.4% menjadi 14.3% untuk influenza, dimana angka positif COVID telah turun dari 4.1% menjadi 3.4% di minggu yang sama.

Terhitung dari tanggal 23 Febuari 2023, jumlah kematian akibat COVID di instansi medis telah menurun menjadi 7 orang saja dengan sebab kematian adalah penyakit akut bawaan ( Underlying Disease ) antara lain adalah gagal paru-paru dan pernafasan. semenjakl laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok yang merilis laporan umum bahwa telah di temukan rantai Mutan XBB 1.5 lokal yang pertama, dimana jumlah kasus ini telah meningkat menjadi 6 kasus.

Untuk saat ini, dengan wabah COVID dan Influenza, Virus NORO dan lainnya yang masih di temukan di dalam negeri, tidak sedikit instansi pendidikan Tiongkok yang telah membatalkan program pengajaran tatap muka demi antisipasi dari merebaknya wabah ini. misal sebuah kelas di Sekolah Dasar QingPu - Shanghai mendapati bahwa ada 4 kasus influenza, dimana banyak siswa yang memiliki gejala Flu yang serupa, dapat di pastikan bahwa wabah ini di sebabkan oleh Influenza, bukan wabah Pneumonia.

Bulan lalu, otoritas kesehatan Tiongkok menjabarkan bahwa jumlah angka kematian akibat COVID di rumah sakti mencapai 4300/hari pada bulan januari, tetapi di tengah liburan tahun baru Imlek selama seminggu, jumlah kematian turun menjadi 80%. hal ini menunjukkan hasil yang baik dan optimis, namun beberapa ahli menunjukkan bahwa kurangnya transparansi terkait data membuat sulitnya kontrol situasi epidemi secara akurat.

Pantau terus yows..

Penyiar

Komentar