Hubungan Diplomatik Antara AS dengan RRT Kian Menghangat

  • 31 July, 2020
  • Yunus Hendry
Hubungan Diplomatik Antara AS dengan RRT Kian Menghangat

(Taiwan, ROC) --- Setelah Presiden Donald Trump berkuasa, berbagai konflik terus berkobar antar Amerika Serikat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Sebut saja di bidang perdagangan, pertahanan, teknologi, media dan diplomasi.

Akhir-akhir ini, otoritas Washington memerintahkan agar RRT menutup Kantor Konsulat mereka yang berada di Houston, Texas. Dalam perintah tersebut, juga ditekankan bahwa RRT harus menyelesaikan segala bentuk operasional mereka dalam kurun waktu 72 jam.

Tidak lama berselang, RRT juga meminta AS untuk menutup Konsulat mereka yang berada di Chengdu. Ketegangan antar kedua belah pihak kian meruncing dan dikabarkan merupakan yang terparah selama 40 tahun terakhir.

Jika ketegangan diplomatik tersebut kian memburuk, dicemaskan dapat menyebabkan pecahnya konflik militer atau terputusnya hubungan diplomatik antar kedua belah pihak.

Semenjak Presiden Donald Trump berkuasa, perselisihan antar AS dengan RRT terus memanas. Berbagai konflik terus mewarnai hubungan diplomatik antar kedua negara adidaya, sebut saja di sektor perdagangan, sains, teknologi, sengketa Hak Asasi Manusia (HAM) warga Uyghur di Xinjiang, kericuhan di Hong Kong, konflik Laut Tiongkok Selatan dan persoalan Taiwan. Di samping itu, RRT juga dituduh telah mencuri hak kekayaan intelektual AS.

Dapat dikatakan, perselisihan antar keduanya terjadi hampir di setiap kebijakan yang ada. Dan bukan tidak mungkin jika konflik keduanya akan terus memburuk.

Pada tanggal 21 Juli 2020, Amerika Serikat tiba-tiba mengeluarkan instruksi yang meminta RRT untuk segera menutup konsulat mereka di Houston, Texas dalam kurun waktu 72 jam. Penutupan itu diperintahkan atas pertimbangan untuk "melindungi hak kekayaan intelektual AS serta intoleransi RRT terhadap pelanggaran kedaulatan dan intimidasi rakyat AS".

Semenjak hubungan diplomatik antar AS dengan RRT resmi terbentuk pada tahun 1979, peristiwa pekan lalu telah membuat ketegangan antara AS dengan RRT harus berada di titik tertinggi.

Sebagai balasan, otoritas Beijing memerintahkan AS untuk menutup konsulat mereka di Chengdu pada tanggal 24 Juli 2020.

Otoritas Gedung Putih menyampaikan jika instruksi penutupan konsulat RRT harus dijalankan guna melindungi kepentingan warga Negeri Paman Sam. Namun demikian, sebagian besar media dan analisis percaya jika instruksi penutupan tersebut memiliki keterkaitan dengan pemilu AS yang akan berlangsung pada bulan November mendatang.

Media The New York Times menyampaikan, tim pemenang kandidat Donald Trump mulai cemas terhadap gagalnya pemerintahan Presiden AS ke 45 tersebut dalam menangani penularan epidemi COVID-19.

Instruksi otoritas Gedung Putih tersebut dinilai hendak menyampaikan sinyal kepada seluruh pendukung Donald Trump untuk melancarkan gerakan anti Tiongkok.

Demi terpilih kembali, Donald Trump akan melancarkan berbagai cara, meliputi memainkan isu "anti Tiongkok" demi mengkonsolidasikan kekuatan pribadinya.

Namun demikian, sifat 'meledak-ledak' yang dimiliki Donald Trump, dicemaskan dapat memperuncing konflik antar AS dengan RRT.

Direktur Institusi Keuangan Chongyang dari Universitas Renmin RRT, Wang Wen (王文) saat menerima wawancara dari media Rusia RT menyampaikan, tiga bulan mendatang menjadi periode berisiko tinggi bagi hubungan diplomatik Tiongkok-Amerika Serikat, sebelum pemilu Negeri Paman Sam digelar.

Ia menyampaikan jika kemungkinan konflik keduanya akan berkembang di sektor militer.

Media Voice of America (VOA) mewartakan, mantan duta besar AS untuk RRT, Winston Lord memperingatkan, bahwa meningkatnya krisis diplomatik antar AS dengan Tiongkok dapat membangkitkan konflik militer antar kedua negara di Selan Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan, yang mana kedaulatan kedua kawasan ini sering diklaim oleh RRT.

Komentar