Polemik Rusia dan RRT di Tengah Masa Pandemi

  • 22 May, 2020
  • Yunus Hendry

Sudah menjadi rahasia umum jika hubungan diplomatik antar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan Rusia terjalin kian erat. Di tengah masa pandemi saat ini, hubungan keduanya juga kian terlihat akrab. Meski demikian, para pakar menganalisis jika 'keakraban' antar keduanya ternyata membawa permasalahan tersendiri, terutama dilema warga RRT yang bermukim di Rusia.

 

Kasus COVID-19 di Rusia Meningkat Drastis

Pada tanggal 11 Mei 2020 silam, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan untuk segera melonggarkan ketentuan blokade, guna menstimulus kembali gerakan perekonomian setempat. Setelah pengumuman tersebut dikemukakan ke publik, jumlah kasus baru pengidap virus korona di Rusia seketika meningkat drastis. Selama 9 hari berturut-turut, Rusia mencatat kasus baru COVID-19 di atas angka 10.000. Jumlah kasus positif COVID-19 Rusia yang awalnya berada di peringkat terbawah, kini meningkat drastis dan menjadi negara terbanyak keempat, dengan jumlah yang telah melampaui 220.000. Di samping itu, telah ada 2.200 warga dilaporkan meninggal akibat COVID-19.

RRT yang bertetangga dengan Rusia, mulai menerapkan kebijakan penanggulangan epidemi guna menghadapi lonjakan gelombang migrasi yang dicemaskan akan meningkatkan jumlah kasus positif virus korona. RRT khawatir jika kawasan di perbatasan timur laut dapat menjadi pusat gelombang kedua penularan COVID-19. Otoritas Beijing pun telah memerintahkan untuk segera menutup kawasan perbatasan.

 

Langkah Rusia dalam Menekan Angka Penularan Virus Korona

Menilik kembali angka penularan epidemi dalam kurun empat bulan terakhir, kini situasinya telah berubah secara mengejutkan.

Rusia merupakan salah satu negara yang tanggap dalam mengambil langkah menanggulangi penyebaran epidemi. Setelah Kota Wuhan memberlakukan prosedur lockdown, Rusia juga segera mengadopsi serangkaian kebijakan penanggulangan, misal dengan menutup jalur perbatasan antar kedua negara sepanjang 4.300 kilometer. Rusia juga menempatkan tim pemeriksa, guna mengawasi sopir dan warga RRT yang hendak melintasi wilayah tersebut. Konsulat Jenderal Chui Shao-chun (崔少純) yang bertugas di Kedutaan Besar RRT di  Yekaterinburg, sebelumnya sempat menjalani prosedur karantina pada bulan Februari silam. Rusia di kata tersebut juga merilis larangan keras bagi warga RRT untuk masuk ke kawasan mereka. Petinggi Moscow juga memerintahkan aparat keamanan untuk mencari warga RRT yang masih bertahan di wilayah mereka, misal hotel, asrama, kawasan apartemen dan area bisnis.

Selanjutnya, sebagian besar warga Tiongkok yang kembali dari Rusia didiagnosis telah terinfeksi COVID-19. Beberapa politisi Rusia percaya bahwa warga RRT yang membawa virus tersebut, ditakutkan dapat menjadi ancaman bagi mereka. Salah seorang komentator Rusia menyampaikan, kedua negara mungkin telah mencapai kesepakatan di belakang layar, tetapi sayangnya hal tersebut tidak dapat dilaksanakan di lapangan.

Menghadapi tindakan dari Rusia, RRT tetap mengirimkan tim medis nya ke negara tersebut pada tanggal 11 April 2020 silam. Hal ini sangat bertolak belakang dengan perlakukan RRT terhadap Amerika Serikat, yang beberapa kali memprotes atau mengecam Negeri Paman Sam.

 

Polemik Antar Rusia dengan RRT

Di tengah bala bantuan yang dikerahkan oleh RRT, Rusia masih mempertahankan anggapan bahwa virus korona berasal dari Wuhan. Rusia seakan-akan memperlihatkan bahwa RRT merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi di seluruh penjuru dunia saat ini. Apalagi saat ini, kondisi perekonomian Rusia tengah bergejolak ditambah dengan angka kasus positif setempat yang terus meningkat, membuat warga-warga RRT yang bermukim di sana memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Menjawab berbagai peristiwa yang terjadi antar kedua negara, kritikus politik dan ekonomi senior, Lin Bao-hua (林保華), membenarkan bahwa hubungan kedua pihak mengalami perubahan. Selain itu, salah satu analis asal Inggris, Ankur Shah menyampaikan polemik antar keduanya terlihat kian muncul ke permukaan, di tengah pandemi yang berkecamuk saat ini.

 

Terjebaknya Warga RRT di Rusia

Gelombang mobilisasi warga RRT dari Rusia kali ini, ternyata dinilai telah menciptakan gelombang baru penularan COVID-19, terutama di kota-kota yang terletak di kawasan perbatasan, seperti Suifenhe. Pasokan tenaga medis di Suifhenhe dilaporkan mulai menipis dan tim perawatan juga mulai kelimpungan. Upaya penanggulangan epidemi yang dikerahkan selama beberapa bulan terakhir, sepertinya akan sia-sia. Perintah untuk menutup kawasan perbatasan telah dikumandangkan pada tanggal 7 April 2020 silam. Hal ini membuat harapan warga RRT yang ingin kembali ke kampung halaman mereka menjadi pupus.

Polemik pandemi kali ini semakin memperunyam masalah yang ada, terutama bagi warga RRT yang terjebak di Rusia. Media VOA (Voice of America) menuliskan, perlakuan acuh tak acuh pihak RRT terhadap pengusaha mereka di Rusia, sebenarnya sudah terlihat semenjak dahulu. Pengusaha RRT di Rusia mengeluhkan kurang nya bantuan dari otoritas Beijing, di kala mereka harus bersinggungan dengan pihak kepolisian Rusia yang terkadang melancarkan aksi kurang baik atas mereka. Namun demikian, guna untuk menekan gelombang kepulangan warga RRT kali ini, seorang pejabat RRT yang bertugas di Kedubes Rusia turun ke lapangan dan berdialog dengan para warga sembari menenangkan emosi mereka.

Melalui media The Diplomat, Ankur Shah mewartakan, polemik Rusia dan RRT saat ini akan sangat merugikan, terutama bagi warga RRT yang terdampar di kawasan timur Rusia. Mereka tidak saja mendapat perlakuan buruk dari kedua belah pihak, melainkan juga harus menghadapi realitas bahwa mereka tidak dapat kembali ke kampung halaman. Nasib mereka seolah-olah berada di tangan para petinggi Rusia dan RRT, sebelum dapat kembali ke rumah masing-masing.

Komentar