Yuan Eksekutif Memberlakukan Larangan Keluar Negeri bagi Guru...

  • 19 March, 2020
  • Yunus Hendry
Yuan Eksekutif Memberlakukan Larangan Keluar Negeri bagi Guru dan Siswa dengan Jenjang SMA ke Bawah

(Taiwan, ROC) --- Kasus ke-59 yang positif terdiagnosis COVID-19 di Taiwan, merupakan seorang pelajar SMA yang berada di utara Taiwan. Menanggapi kecemasan akan kemungkinan terjangkitnya penyebaran di tingkat komunitas masyarakat (community spread), 16 wilayah di Taiwan mulai memberlakukan larangan bepergian keluar negeri bagi tenaga pengajar dan siswa di jenjang SMA ke bawah. Pada tanggal 16 Maret 2020 malam hari, Yuan Eksekutif memberikan persetujuan, dan pihak Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC) telah mengumumkan larangan tersebut.

Guna meningkatkan perlindungan epidemi di lingkungan sekolah, guru dan murid diberitakan mengenakan masker mulut sembari melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Dengan harapan, langkah penanggulangan tersebut dapat mendukung aktivitas di sekolah-sekolah.

Kepala Sekolah SMA Zhuwei, Wu Zong-min (吳宗珉), “30 siswa kami tengah berada di sister school di Korea Selatan. Karena kebijakan pengendalian epidemi. Kami pun telah menangguhkan program penerimaan mahasiswa untuk sementara waktu.”

Guna mengurangi dampak penyebaran pneumonia COVID-19, banyak sekolah telah membatalkan program pertukaran internasional mereka. Selain itu, kegiatan kunjungan para guru dan murid keluar negeri, untuk sementara waktu juga ditangguhkan. Di samping itu, juga diimbau kepada para orang tua untuk melakukan hal serupa.

Ketua Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC), Chen Shih-chung (陳時中), mengatakan, “Yuan Eksekutif juga telah memutuskan guru dan murid di jenjang SMA ke bawah, harus berhenti keluar negeri. (Larangan) ini berlaku hingga akhir semester ini.”

Pembatasan yang diberlakukan oleh Yuan Legislatif, ditakutkan dapat melanggar kebebasan individu. Sebelum Yuan Eksekutif mengumumkan larangan tersebut, beberapa wilayah di Taiwan telah terlebih dahulu melakukan hal serupa. Sebut saja Kota New Taipei, Kota Taoyuan, Kabupaten Yilan, Kota Taichung dan Kota Kaohsiung. Namun, pertanyaannya kini, apakah pembatasan tersebut akan memiliki pengaruh terhadap kebebasan setiap individu yang telah dijamin sebelumnya dalam konstitusi.

Wakil Walikota Taipei, Huang Shan-shan (黃珊珊) mengatakan, “Namun demikian, larangan tersebut setidaknya akan melanggar hal dari setiap warga. Oleh karena itu, saya rasa seharusnya dibuat ruang pengecualian.”

Larangan ini mengingatkan warga Taiwan akan hal serupa yang pernah diberlakukan bagi staf medis kesehatan. Larangan bepergian keluar negeri sebelumnya, juga memicu pro dan kontra di kalangan para personil medis. Terlepas dari pihak yang menentang dan mendukung, sudah seharusnya langkah perlindungan epidemi di Taiwan harus diterapkan sebaik-baiknya.

 

Komentar