Kematian Li Wen-liang Membangkitkan Amarah Warganet RRT

  • 14 February, 2020
  • Yunus Hendry
Kematian Li Wen-liang Membangkitkan Amarah Warganet RRT

(Taiwan, ROC) --- Li Wen-liang (李文亮) adalah dokter Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang pertama kali menemukan adanya gejala wabah epidemi virus corona (2019 nCoV). Tanpa disangka, dirinya pun terinfeksi wabah tersebut dan harus menjalani perawatan intensif. Pada tanggal 7 Februari 2020 pagi hari, Li Wen-liang diberitakan meninggal dunia dalam usianya yang baru menginjak 34 tahun. Faktanya, gejala wabah epidemi ini telah tercium sebelum Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai. Namun, dikarenakan ada pihak otoritas Beijing yang sengaja menyembunyikan kabar ini, akhirnya membuat virus penyebaran tak terkontrol dan merebak keluar kawasan RRT. Kepergian sang dokter yang tidak mampu melawan ganasnya virus tersebut, membuat warganet RRT geram.

Pesan yang telah disebarkan oleh Li Wen-liang sengaja disembunyikan oleh petinggi Negeri Tirai Bambu. Pada akhirnya epidemi ini merebak keluar kawasan RRT dan menjangkit beberapa negara di dunia. Akibatnya, citra internasional dan sektor ekonomi RRT saat ini harus mengalami pukulan yang berat. Di samping itu, warganet setempat juga menilai pemerintah telah gagal dalam mendengar dan menanggapi asipirasi dari masyarakat. Otoritas Beijing dituntut untuk segera memberikan permintaan maaf kepada sang dokter yang kini telah gugur.

 

Ratusan Warganet Ditangkap Karena Telah Menyebarkan Informasi Epidemi

Di tengah merebaknya virus corona jenis baru, otoritas RRT dikabarkan masih berupaya untuk menekan kebebasan berpendapat para warganet. Menilik data statistik yang dirilis oleh organisasi HAM Amerika Serikat, Chinese Human Rights Defender, setidaknya ada 325 warganet RRT yang memperoleh tekanan dari otoritas RRT. Mereka dinilai telah sengaja menyebarkan berita desas-desus dan dapat menciptakan kepanikan yang lebih luas. Pemerintah RRT menjatuhkan hukuman penahanan dan biaya administratif ringan kepada mereka, dengan alasan telah merusak tatanan kehidupan sosial bermasyarakat.

Li Wen-liang adalah dokter spesialis mata (Oftalmologi), yang juga menjadi salah satu korban infeksi dari 8 dokter lainnya. The Central Hospital of Wuhan merupakan kawasan paling parah yang terinfeksi, ada banyak staf medis yang kini dikabarkan telah terjangkit wabah epidemi tersebut.

Sebelumnya, Li Wen-liang berusaha menyebarkan adanya penemuan gejala pneumonia yang disebabkan oleh virus jenis baru. Namun upaya nya tersebut harus tertahan, dikarenakan mendapat tekanan dari otoritas RRT, Li Wen-liang dipanggil oleh pihak berwajib dan diperintahkan untuk menandatangani “Surat Perjanjian” , sebelum akhirnya dilepaskan.

Guna untuk menekan kebebasan berbicara di jejaring dunia maya, otoritas Negeri Tirai Bambu merilis ketentuan baru. Bagi siapa yang telah didakwa menyebarkan ragam berita terkait wabah epidemi “Sengaja menciptakan rumor, menghasut yang berujung pada perpecahan negara, merusak persatuan bangsa, memprovokasi dengan tujuan untuk menggulingkan mekanisme sosialis”, maka akan dikenakan hukum kurungan maksimal 15 tahun.

 

Bencana Nuklir Chernobyl Terulang Kembali?

Media The Washington Post mewartakan, bencana nuklir yang terjadi di Chernobyl pada tahun 1986, dinilai telah mempercepat keruntuhan Uni Soviet dalam beberapa tahun kemudian. Pemerintah RRT khawatir akan mengulang sejarah Chernobyl, sehingga memutuskan untuk segera mengontrol kebebasan berbicara online dan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi penyebaran wabah.

The Washington Post melanjutkan, di tengah memanasnya situasi perang dagang antar RRT dengan Amerika Serikat, Penguasa Xi Jin-ping pernah memperingatkan akan adanya pihak yang sengaja memprovokasi persatuan dari Partai Komunis setempat. Peringatan dari Xi Jin-ping tersebut seakan-akan mengarah kepada pihak Amerika Serikat. Namun sekarang, sumber krisis bukanlah berasal dari Washington, melainkan dari pasar makanan laut yang berada di Wuhan.

Guna menangani keluhan dan kecaman dari publik, otoritas RRT mulai mengadopsi langkah-langkah pengalihan, guna meredam emosi para warga. Petinggi Negeri Tirai Bambu seakan-akan menyetir opini dengan melimpahkan kesalahan kepada pihak Wuhan setempat, dan sebaliknya berupaya melindungi citra Penguasa Xi Jin-ping.

 

Dukungan Atas Li Wen-liang

Pada pertengahan bulan Desember tahun lalu, rumor ‘pneumonia misterius” di Kota Wuhan telah beredar luas dalam jejaring media sosial RRT, terutama di sektor medis kesehatan setempat. Namun, kabar ini tidak digubris oleh otoritas setempat. Dalam sebuah rapat yang digelar di Provinsi Hubei pada tanggal 11 Januari hingga 17 Januari 2020, bahkan tidak ada konfirmasi warga yang telah terjangkit virus “2019 nCoV”. Beberapa kegiatan akbar pun tetap digelar dan warga-warga Wuhan pun mulai melangsungkan arus mudik atau bepergian keluar negeri.

Situasi “tenang” tersebut berjalan hingga tanggal 20 Januari 2020. Seorang pakar kesehatan setempat, yang juga memiliki jasa saat wabah SARS melanda, Zhong Nan-shan (鍾南山), mengumumkan bahwa wabah epidemi kali ini dapat tertular dari kontak manusia. Pengumuman dari Zhong Nan-shan tersebut langsung ditanggapi serius oleh otoritas RRT, namun sayangnya sudah terlambat.

Setelah epidemi ini merebak, warganet mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka atas perlakuan otoritas RRT terhadap 8 dokter, termasuk Li Wen-liang. Kecaman dan amarah publik mulai bermunculan di situs-situs berita setempat. Mereka secara vokal mengkritik penguasa-penguasa RRT, yang dinilai telah gagal meredam situasi genting seperti saat ini.

Ketika berita kematian Li Wen-liang mencuat ke publik, hardikan publik setempat terhadap otoritas RRT semakin kuat terdengar. Mereka meminta agar pemerintah untuk segera menyampaikan permintaan maaf kepada Li Wen-liang.

“Saya rasa, mekanisme bermasyarakat yang sehat harus berdasar atas banyak suara, dan bukannya hanya satu suara”. Ini adalah wawancara terakhir Li Wen-liang dengan salah satu media. Li Wen-liang di kala itu, tidak mampu berbicara banyak, dirinya hanya meluapkan isi hati melalui tulisan di atas kertas putih.

Salah satu pengajar dari Universitas Chicago, Dali Yang menyampaikan, RRT akan menutup segala fakta yang ada, guna menjaga pamor mereka. “Mekanisme kesehatan masyarakat setempat mungkin telah mengalami kemajuan yang pesat, namun tidak untuk sistem perpolitikan mereka”.

Salah seorang peneliti Amnesty Internasional, 潘偉嘉 menyampaikan, ancaman otoritas RRT akan mendatangkan efek “takut” bagi sebagian warga setempat. Tetapi, masih ada sebagian orang yang akan terus membagikan informasi kepada pihak luar.

 

 

Komentar