Kampus

  • 13 January, 2020
  • Yunus Hendry
Iran dan Amerika Serikat. (Sumber Foto: Google)
Pemilu Taiwan. (Sumber Foto: BBC News)

(Taiwan, ROC) --- Dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone), militer Amerika Serikat melancarkan serangan di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada tanggal 3 Januari 2020 lalu. Serangan tersebut berhasil menewaskan Jenderal Militer Iran, yakni Qassem Soleimani beserta 5 orang lainnya. Qassem Soleimani adalah perwira militer senior Iran dalam Pasukan Pengawal Revolusi setempat. Dirinya juga dikenal sebagai sosok kedua terkuat di Iran, setelah Pemimpin Agung, Ali Khamenei. Serangan udara AS tersebut diperintah langsung oleh Presiden Donald Trump. Otoritas Iran pun mengemukakan akan membalas serangan tersebut, Amerika Serikat harus membayar mahal atas insiden terbunuhnya Jenderal Qassem Soleimani.

Puluhan ribu warga Iran membanjiri jalan-jalan di Ibukota Iran sembari membakar bendera Negeri Paman Sam. Iran pun juga telah membalas Amerika Serikat, salah satunya adalah serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. Otoritas Iran pun menyampaikan ada sekitar 80 warga Amerika yang tewas dalam penggempuran tersebut. Namun demikian, Presiden Donald Trump membantah mentah-mentah, ia menyampaikan tidak ada 1 warga Amerika Serikat yang terluka atas peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Januari 2020 kemarin. AS dengan keras memperingati Iran untuk tidak mengambil tindakan 'bodoh'. Amerika Serikat pun mengancam akan menghancurkan 52 situs kebudayaan yang dimiliki Iran. Di lain pihak, Iran mengemukakan tidak akan lagi mematuhi pembatasan operasi nuklir, seperti yang telah disepakati dalam perjanjian nuklir Iran.



Kandidat Tsai Ing-wen berhasil terpilih kembali sebagai Presiden Taiwan dengan perolehan suara mencapai 8,17 juta suara. Beberapa media internasional pun meliput proses pelaksanaan pemilu 2020 di Taiwan kemarin. Media New York Times menuliskan di tengah tekanan dari pemerintahan otoriter Republik Rakyat Tiongkok (RRT), warga Taiwan kembali memberikan kesempatan bagi sosok Tsai Ing-wen untuk memerintah selama 4 tahun mendatang. Media NHK mewartakan Tsai Ing-wen merupakan sosok yang dapat menjaga kedaulatan nasional, menjadikannya sebagai pemimpin Taiwan untuk periode tahun 2020 hingga 2024.

Media CNN mewartakan presiden terpilih Taiwan, Tsai Ing-wen, mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Taiwan yang telah mewujudkan praktik demokrasi. Tsai Ing-wen memperoleh suara terbanyak dalam sejarah pemilu di Taiwan, dengan jumlah yang mencapai 8 juta suara. Tsai Ing-wen menang dengan proporsi suara 57%. Tsai Ing-wen juga meminta RRT untuk melepaskan seluruh bentuk tekanan yang mengancam kedaulatan Taiwan. Dirinya juga mengimbau kepada dunia internasional untuk memperlakukan Taiwan layaknya negara-negara lainnya.

 

Komentar