Nasib Ribuan Pengungsi Suriah Setelah Serangan di Barat Laut...

  • 27 December, 2019
  • Yunus Hendry
Nasib Ribuan Pengungsi Suriah Setelah Serangan di Barat Laut Provinsi Idlib

(Taiwan, ROC) --- Perang saudara Suriah yang telah berlangsung selama 9 tahun, mengakibatkan jutaan pengungsi harus hidup terlunta-lunta. Beberapa hari ini, situasi setempat pun dilaporkan kian memanas. Dengan dibantu otoritas Rusia, tentara pemerintah Suriah menggempur kawasan Idlib. Selama ini, wilayah barat laut Idlib telah dikuasai oleh kaum pemberontak, yang membuat otoritas Suriah kelimpungan. Gempuran udara yang dilancarkan pasukan Suriah, harus berimbas pada tewasnya warga-warga Idlib. Selain itu, warga yang selamat memutuskan untuk lari ke perbatasan Turki. Turki di lain pihak memperingatkan bahwa krisis pengungsi tahun 2015 akan terulang kembali.

Salah seorang pengungsi asal Suriah, Mohammed al-Ata mengatakan, "Kami melarikan diri saat ada pengeboman. Kami tidak tahu kemana kami akan pergi. Kami tidak punya tempat berlindung. Kami tidak punya apa-apa".

Saat ini, Turki telah menampung 3,7 juta pengungsi asal Suriah, yang merupakan gelombang terbesar dalam sejarah dunia. Namun demikian, organisasi NGO memperkirakan masih ada 120.000 pengungsi yang terkatung-katung di perbatasan Turki. Pada tanggal 22 Desember 2019, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengemukakan Turki, tidak dapat lagi menerima gelombang pengungsi baru. Ia pun meminta pihak Rusia untuk menghentikan serangan atas wilayah Idlib di Suriah. Otoritas Turki juga telah mengirim delegasi mereka untuk melangsungkan negosiasi dengan pihak Rusia, dengan harapan dapat mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Pada bulan September tahun lalu, Turki dan Rusia telah sepakat untuk membangun Zona Demiliterisasi (Buffer Zone) di barat laut Provinsi Idlib. Namun demikian, serangan dari pemerintah setempat masih terus berlangsung. Dikabarkan telah ada ribuan warga yang harus mengalami nasib nahas. Organisasi sosial setempat mengemukakan, serangan udara Turki dan Rusia telah mengepung ribuan pengungsi di kawasan perbatasan. Menanggapi situasi darurat tersebut, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres menyerukan untuk segera mengakhiri permusuhan di kawasan terkait. Sebelum dapat mencapai kesepakatan gencatan senjata, kini ribuan pengungsi harus dihadapkan dengan krisis berikutnya, yakni datangnya gelombang hawa dingin.

Komentar