Nasib Pelajar Taiwan dan Daratan Tiongkok di Hong Kong

  • 22 November, 2019
  • Yunus Hendry

(Taiwan, ROC) --- Aksi protes di Hong Kong telah memasuki masa ke 5 bulan. Kepolisian setempat pun mulai mengerahkan gas air mata ke kumpulan massa yang berpusat di kawasan Tsim Sha Tsui dan Admiralty, bahkan kini kericuhan mulai memasuki kawasan universitas setempat. Memanasnya situasi di Hong Kong membuat mahasiswa asal Daratan Tiongkok dan Taiwan cemas. Mereka pun perlahan-lahan meninggalkan Hong Kong dan kembali ke kampung halaman.

Aksi demonstrasi di Hong Kong telah mengganggu kurikulum dan praktik belajar mengajar setempat. Chinese University of Hong Kong (CUHK) mengumumkan untuk mengakhiri masa semester kali ini. Keputusan miris berikutnya juga dikeluarkan oleh beberapa universitas lainnya. Hong Kong Baptist University (HKBU) menghentikan seluruh kegiatan belajar mengajar mereka pada tanggal 14 November 2019 lalu. HKBU juga mengumumkan bahwa kegiatan belajar mengajar di semester ini akan berakhir dalam 2 minggu ke depan.

 

Pelajar Daratan Tiongkok Berbondong-Bondong Meninggalkan Hong Kong

Pada tanggal 11 November 2019 silam, para demonstran melancarkan aksi "3 mogok". Insiden keributan antara para pedemo dan aparat kepolisian pecah di beberapa lokasi. Bahkan keributan ini meluas, beberapa warga yang memiliki pendapat berbeda pun terlibat aksi baku hantam dan perkelahian. Berita miris ini tersebar luas dalam jejaring media sosial Daratan Tiongkok; mengakibatkan kekhawatiran anggota keluarga yang memiliki kerabat di Hong Kong. Di tengah kecemasan yang terus meningkat, membuat mahasiswa Daratan Tiongkok memilih untuk kembali ke kampung halaman. Tetapi ada beberapa mahasiswa yang mendukung gerakan ini, memilih untuk tetap berada di Hong Kong dan memperjuangkan nilai kebebasan.

Pada tanggal 10 November 2019, Liaison Office of the Central People's Government in the Hong Kong Special Administrative Region mengeluarkan pernyataan resmi, yang mewartakan bahwa baru-baru ini terdapat beberapa warga Daratan Tiongkok yang dilecehkan di Hong Kong. Otoritas tersebut mengecam tindakan tersebut.

Pesan tersebut berbunyi, "Baru-baru ini, ada beberapa insiden penindasan dan kekerasan yang terjadi di institusi pendidikan Hong Kong. Beberapa mahasiswa asal Daratan Tiongkok telah dilecehkan, bahkan di antara mereka harus dikepung dan dipukuli. Kami tentu sangat menyesali peristiwa tersebut. Kami mengutuk keras kejadian kekerasan yang harus masuk ke dalam ranah pendidikan. Kami bersedia memberikan bantuan dan penanganan yang dibutuhkan".

Komite Pemuda Komunis Shenzhen (SZYouth) juga telah menyediakan asrama darurat dan membantu mahasiswa Daratan Tiongkok kembali ke kampung halaman mereka.

Pada tanggal 13 November 2019, SZYouth mengeluarkan pernyataan resmi mereka. 12 stasiun darurat SZYouth akan menyediakan akomodasi gratis dan layanan lainnya bagi mahasiswa Daratan Tiongkok. Mereka menyambut kepulangan para pelajar tersebut ke Daratan Tiongkok.

Media Beijing Daily melalui akun Wechat-nya mewartakan, saat ini telah ada 6 mahasiswa Daratan Tiongkok yang melapor di stasiun Shenzhen.

Pada tanggal 13 November 2019, The Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) mengirim surel kepada para guru dan siswa. Dalam surel tersebut, tertulis bahwa pihak universitas akan mengatur dan menyediakan layanan bus khusus, bagi mahasiswa Daratan Tiongkok yang ingin kembali ke kampung halaman mereka.

Salah seorang mahasiswa Daratan Tiongkok yang tengah menempuh studinya di di Universitas Hong Kong, mengemukakan bahwa dirinya akan segera kembali ke Guangdong. Ia menyampaikan bahwa hari kelulusannya akan tiba sebentar lagi, yakni bulan Desember mendatang. Pada awalnya, ia ingin melanjutkan gelar doktornya di Hong Kong. Namun dikarenakan, aksi protes yang kian ricuh, membuat dirinya mengurungkan niat dan kembali ke Guangdong. Bahkan ia harus merelakan uang sewa apartemen selama 9 bulan, yang telah dibayarnya di Hong Kong. Ia mengatakan, "Uang sewa selama 9 bulan cukup tinggi, yakni sebesar HK$ 40.000".

 

Insiden Perkelahian

Rumor "kembali ke kampung halaman", pertama kali didengungkan oleh pihak HKUST. Minggu lalu, terjadi peristiwa perkelahian antar mahasiswa Hong Kong dengan Daratan Tiongkok di HKUST.

Media radio dan televisi Hong Kong melaporkan bahwa pada tanggal 6 November 2019 silam, Rektor HKUST telah menggelar dialog terbuka bersama dengan para mahasiswa. Mahasiswa yang terlibat dalam perkelahian, diminta untuk saling meminta maaf.

Media resmi Daratan Tiongkok, Global Times mewartakan setelah dialog HKUST digelar, seorang mahasiswa semester 6 HKUST, Alex Chow (周梓樂), dilaporkan tidak bernyawa lagi pada tanggal 8 November 2019. Berita langsung membuat sebagian besar mahasiswa Daratan Tiongkok memutuskan untuk "melarikan diri" dari lingkungan kampus.

 

 Sebagian Besar Pelajar Taiwan Memilih untuk Pulang

Kementerian Pendidikan Taiwan juga telah menyiapkan berbagai langkah untuk menyambut kepulangan pelajar Taiwan. Pihak kementerian juga telah menyiapkan 1 pesawat China Airlines yang telah membawa 80 pelajar Taiwan dari Hong Kong. Saat ini dilaporkan ada 1100 pelajar asal Taiwan yang tengah menempuh studinya di Hong Kong.

Perwakilan Taipei di Hong Kong mengemukakan bahwa mereka telah menguasai berbagai informasi menyangkut keberadaan pelajar Taiwan di Hong Kong. Saat ini dapat dikonfirmasi bahwa status seluruh mahasiswa Taiwan berada dalam kondisi aman. Tidak semua pelajar Taiwan memilih untuk kembali ke tanah air, beberapa dari mereka memilih untuk menetap. Perwakilan Taipei di Hong Kong menambahkan bahwa mereka menghormati setiap keputusan pelajar dan akan siap memberikan bantuan maksimal untuk mengatur kepulangan mereka.

Komentar