Amerika Serikat Mundur dari Perjanjian Iklim Paris

  • 06 November, 2019
  • Yunus Hendry
Amerika Serikat Mundur dari Perjanjian Iklim Paris

(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 4 November 2019, otoritas Gedung Putih Amerika Serikat mengirimkan surat resmi kepada PBB sebagai simbol bahwa Negeri Paman Sam menarik mundur dari Perjanjian Iklim Paris. Keputusan negeri adidaya tersebut akan resmi berlaku setahun kemudian. Amerika Serikat adalah negara penghasil emisi karbon dioksida terbesar kedua di dunia. Absennya Amerika Serikat dalam perjanjian tersebut, tentu dapat memperparah krisis pemanasan global. Selain itu, keputusan Negeri Paman Sam tersebut, akan membuat Daratan Tiongkok yang notabene merupakan negara penghasil emisi karbon terbesar dunia, memiliki hak penuh atas perkembangan iklim dunia.

Pergelaran KTT Iklim yang berlangsung di New York pada bulan September lalu dihadiri oleh beberapa tokoh dan aktivis lingkungan dunia. Salah satunya adalah Greta Thunberg yang dengan lantang menyalahkan petinggi dunia yang telah lalai mengendalikan masalah emisi karbon. Lebih dari 2.500 aktivis lingkungan hidup yang berasal dari 100 negara, menyerukan agar para pemimpin dunia mulai memperlihatkan aksi nyata mereka. Aktris pemenang Oscar Amerika Serikat, Jane Fonda, juga telah beberapa kali ditangkap pihak kepolisian setempat, karena terlibat dalam aksi protes menentang politisi Washington, yang dinilai gagal mengatasi isu perubahan iklim.

Di tengah upaya para warga dunia untuk melawan isu pemanasan global, Presiden Donald Trump bersikeras untuk menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris, dengan alasan dapat perjanjian tersebut akan mengurangi peluang kerja dan menambah beban ekonomi warga Amerika Serikat. Pakar mengingatkan keputusan yang diambil otoritas Trump tentu tidak sejalan dengan konsensus dunia, yang dapat mendatangkan kerugian bagi Amerika Serikat sendiri.

Direktur World Resources Institute (WRI), David Waskow mengatakan, "Ini tidak mengejutkan, Presiden Donald Trump terus mengujar akan melakukannya. Telah diucapkannya selama 2 tahun lebih. Tetap saja mengejutkan banyak pihak. Melihat langkah yang diambil kali ini, sangat bertentangan dengan dunia internasional. Dan melawan kerja sama dunia di sektor krisis pemanasan global. Dan ini tentu akan merugikan pihak Amerika Serikat".

Setelah Amerika Serikat menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris, jumlah emisi karbon dioksida dunia diperkirakan akan meningkat hingga 3 miliar ton per tahunnya. Pada tanggal 4 November 2019, Presiden Prancis, Emmanuel Macron berkunjung ke Daratan Tiongkok dan menandatangani MoU dengan Xi Jin-ping (習近平), untuk mempertegas perjanjian sebelumnya. Mengingat saat ini Daratan Tiongkok merupakan salah satu investor terbesar untuk sektor penyedia energi bersih dunia. Hal ini menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai pihak yang paling mendominasi isu perubahan iklim di masa mendatang.

Komentar