Kisah Pilu Penyelundup Gelap Vietnam di Britania Raya

  • 08 November, 2019
  • Yunus Hendry
Kisah Pilu Penyelundup Gelap Vietnam di Britania Raya

(Taiwan, ROC) --- Peristiwa nahas yang menimpa 39 warga di dalam peti kemas di Inggris, terus memperlihatkan perkembangan berita yang baru. Pada awalnya, otoritas Inggris menyatakan bahwa seluruh korban merupakan warga Daratan Tiongkok. Namun menurut kabar terbaru yang dirilis oleh media setempat, menguak fakta bahwa dari 39 korban, 25-nya diketahui berasal dari 1 desa di Vietnam.

Sebanyak lebih dari 100 orang secara sengaja diselundupkan ke Inggris. Mereka terbagi atas 3 gelombang yang diletakkan di dalam peti kemas yang berbeda. Dari 100 imigran gelap tersebut, diperkirakan hanya 39 warga yang harus tertimpa nasib memilukan. Sedangkan sisanya, dikabarkan telah berhasil masuk ke ranah Britania Raya dengan aman.

Pada tanggal 22 Oktober 2019 malam, kerabat dari Pham Tra My yang baru genap berusia 26 tahun menerima pesan singkat. Dalam pesan tersebut, tertulis bahwa dia berada di kondisi yang membuat dia akan mati lemas.

"Ibu, saya benar-benar minta maaf. Langkahku untuk pergi keluar negeri telah gagal. Saya sangat mencintaimu. Saya tidak bisa bernapas. Maafkan saya, Ibu".

Kakak laki-lakinya saat ditemui oleh media BBC mengemukakan bahwa adiknya pertama-tama terbang ke Daratan Tiongkok dengan menggunakan pesawat. Kemudian ia tinggal di sana selama beberapa hari, dan akhirnya melanjutkan perjalanan ke Prancis"

Sebelumnya, otoritas Prancis juga menemukan ada 8 imigran gelap asal Afghanistan yang masuk ke dalam truk kontainer ber-lemari pendingin. Cara ini diterapkan adalah untuk menghindari sensor pendeteksi termal. Otoritas setempat berhasil menggagalkan sindikat ini dan 8 orang tersebut dikabarkan menderita hipotermia akut.

Rute yang kerap dilintasi oleh imigran gelap, bukanlah hal baru bagi penduduk di Desa Do Thanh. Hampir setiap warga mengenal sistim dan mekanisme dari perjalanan gelap ini.

Salah seorang warga di sana, Phan Van Thuong yang tahun ini genap berusia 64 tahun mengaku bahwa ia telah mengirim 3 putranya ke Inggris. Namun sayangnya, 2 di antaranya telah dideportasi kembali.

"Mereka dipulangkan dengan tangan yang masih diborgol", lanjut Phan Van Thuong sembari tertawa miris.

Phan Van Thuong duduk di ruang tamu sambil menuangkan arak ke dalam gelas. Di dalam ruang tamu terpampang poster Bunda Maria dalam ukuran yang cukup besar. Selain itu, dinding ruang tamu Phan Van Thuong juga terpajang beberapa poster Perjanjian Baru dan foto anak-anaknya.

Uang yang dikirim pulang oleh anaknya (termasuk anak ketiga-nya yang masih tinggal di Jerman) berhasil melunasi dan menyelesaikan pembangunan rumah tiga lantai tersebut. Di samping rumah Phan Van Thuong, juga terdapat beberapa rumah yang memiliki karakteristik yang serupa. Dari kondisi fisiknya, dapat ditebak rumah-rumah tersebut dibangun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Namun demikian, tidak jauh dari rumah-rumah tersebut, berdiri bangunan tua 1 lantai yang terbangun dari batu bata dan lantai yang mulai mengelupas.

Phan Van Thuong sambil menunjuk dan memperlihatkan ladang-ladang sawah yang mulai mengering karena ditinggal oleh pemiliknya.

Ia menyampaikan para petani di sini tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Anak-anak muda mulai memilih mengikuti "rute" ilegal tersebut, meski harus membayar mahal. Mereka memimpikan kehidupan yang lebih baik dan beradab.

 

Penghasilan di Kampung Halaman yang Terlampau Minim

Mimi Vu seorang olahragawan dari Kota Ho Chi Minh, menaruh perhatian khusus pada isu perdagangan manusia.

Ia menyampaikan generasi muda Vietnam lebih memilih menanggung risiko, dengan alih-alih dapat mengadu nasib di negeri orang, ketimbang bertahan di kampung halaman dengan pendapatan yang minim. Apalagi tawaran upah di Benua Eropa yang terkenal tinggi.

"Bekerja di luar negeri, kemudian mengirimkan uang ke kampung halaman, merupakan tradisi lama yang sudah berlangsung sedari dulu. Bukti yang paling nyata adalah pembangunan rumah-rumah yang kian pesat terjadi. Suasana pedesaan pun perlahan-lahan berubah"

Berita kematian tragis yang ditemukan di dalam truk peti kemas, telah mengejutkan banyak keluarga di Vietnam. Mereka tentu tidak menyangka jika kejadian nahas tersebut, harus menimpa salah satu anggota keluarga.

Otoritas Inggris masih melakukan investigasi mendalam, dan menguak identitas dari para korban. Polisi menemukan bahwa masing-masing dari korban dilengkapi dengan sekantong barang-barang pribadi. Kebanyakan dari mereka memiliki telepon genggam pribadi. Pihak kepolisian setempat juga telah menyita, serta mengunduh data dari masing-masing telepon genggam tersebut.

 

Jeratan Utang dan Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Tidak jauh dari rumah Phan Van Thuong, tinggal seorang warga yang masih menunggu kepulangan anaknya.

Le Minh Tuan yang telah berusia 58 tahun, mengirimkan putranya ke Inggris. Namun sayangnya, sang putra harus menjadi salah satu korban dari 39 korban yang terjebak dalam peti kemas.

Le Minh Tuan menyampaikan tanggal 21 Oktober 2019, sang putra menelepon dirinya untuk mengabarkan bahwa ia akan berangkat ke Inggris dengan menaiki truk peti kemas. Semenjak tanggal itulah, Le Minh Tuan kehilangan kontak dengan sang putra.

Otoritas Vietnam telah memulai pengumpulan sampel DNA dari anggota keluarga yang diduga memiliki keterkaitan dengan para korban. Le Minh Tuan pun berharap agar otoritas kedua negara dapat memulangkan jenazah sang putra ke pangkuannya.

Le Minh Tuan mengisahkan putranya yang baru berusia 30 tahun tersebut memutuskan untuk meninggalkan Vietnam pada bulan Juli tahun 2019. Perjalanan panjangnya dimulai dari Malaysia, kemudian terbang ke Turki dan Yunani. Kepergian putranya tentu meninggalkan duka yang mendalam, terutama bagi sang istri.

Ironisnya, biaya penyelundupan ini harus menghabiskan dana sebesar VND juta (NT$ 1 juta). Le Minh Tuan juga telah menggadaikan rumahnya sebagai jaminan di bank. Alih-alih ingin membantu sang putra, kini Le Minh Tuan harus menghadapi permasalahan yang begitu menyakitkan.

 

Korban Perdagangan Manusia yang Rentan Tereksploitasi

Menurut data Metropolitan Police Service, jumlah kasus perdagangan manusia yang terjadi di Inggris selama tahun 2018 mencapai angka 700 kasus.  Jumlah penyelundup  asal Vietnam menduduki peringkat kedua, sedangkan di peringkat pertama didominasi oleh warga Albania.

Data pemerintah juga memperlihatkan bahwa warga Vietnam merupakan korban perdagangan manusia yang rentan tereksploitasi.

Pada bulan November tahun lalu, otoritas Vietnam dan Inggris telah menandatangani sebuah memorandum, guna memberantas sindikat perdagangan manusia, yang menjadi polemik berkepanjangan antar kedua belah pihak.

Namun memorandum ini ternyata gagal menghentikan momen-momen pilu imigran gelap. Pihak luar menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, guna mencegah kejadian serupa terjadi kembali di masa mendatang.

 

 

Komentar