Polemik di Lebanon Dikhawatirkan dapat Mempengaruhi Stabilitas..

  • 31 October, 2019
  • Yunus Hendry
Polemik di Lebanon Dikhawatirkan dapat Mempengaruhi Stabilitas Timur Tengah

(Taiwan, ROC) --- Dikarenakan terus memburuknya perekonomian Lebanon, warga setempat berbondong-bondong dan melalukan aksi protes. Aksi protes yang telah berjalan 2 pekan ini, menuntut kebijakan pajak yang baru saja diberlakukan otoritas setempat. Selain itu, warga Lebanon juga tidak puas dengan krisis perekonomian yang kian mengkhawatirkan. Akibat polemik yang terus terjadi, Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri memutuskan untuk mundur pada tanggal 29 Oktober 2019.
Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri mengatakan, "Saya akan menghadap Istana Baabda untuk mengajukan pengunduran diri saya. Pengunduran diri saya merupakan tanggapan atas permintaan Presiden Michel Aoun, seluruh warga Lebanon dan aksi protes yang tengah meminta diberlakukannya reformasi".

Demonstrasi yang terjadi dalam skala besar di Lebanon ini, bermula dari ketidakpuasan warga akibat pengumuman pemerintah yang akan menetapkan tarif pajak pada penggunaan aplikasi Whatsapp. Namun, isu ini terus berkembang, dan akhirnya warga Lebanon menuntut agar otoritas setempat melakukan reformasi politik. Para pedemo pun menilai aksi korupsi di tubuh pemerintahan Lebanon telah merusak tatanan negara. Meskipun Perdana Menteri Saad Hariri telah mengajukan pengunduran diri, namun warga setempat akan tetap menuntut permintaan mereka.

Salah seorang pedemo, Roula mengatakan, "Seorang pejabat pemerintah mengundurkan diri atau dia digulingkan. Seakan-akan menjadikan langkah mundurnya PM, untuk meredam aksi protes warga. Atau faktanya rakyat meminta ia mundur. Kami rasa masih banyak yang harus diselesaikan. Kami tidak ingin kehilangan semangat ini. Kami akan kembali melancarkan aksi protes. Jalan ini milik rakyat Lebanon".

Saad Hariri kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Lebanon pada tahun 2009. Sebelumnya, di tahun 2005 ayah dari Saad Hariri terbunuh akibat insiden penusukan. Di tahun 2017, ketika Saad Hariri berkunjung ke Arab Saudi, ia pun mendapat ancaman pembunuhan, yang diduga dilancarkan oleh otoritas Iran. Di kala itu, tersiar kabar bahwa Saad Hariri dijadikan tahanan rumah oleh otoritas Arab Saudi selama 12 hari. Saad Hariri pun  dilarang meninggalkan negara tersebut. Berita ini pun sampai ke telinga Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang pada akhirnya membantu kepulangan Saad Hariri ke Lebanon.

Anggota kabinet pemerintahan Saad Hariri juga diisi oleh kelompok garis keras Hezbollah, yang notabene mendapat dukungan dari otoritas Iran. Mereka menyebutkan bahwa gelombang protes yang tengah terjadi merupakan konspirasi internasional. Pakar politik menilai, jatuhnya Saad Hariri dari posisi pemerintahan tidak hanya akan memicu kekacauan politik di Lebanon, tetapi juga akan mempengaruhi stabilitas di Timur Tengah.

Komentar