Aksi 'Benci Tapi Rindu" Facebook Terhadap Otoritas Tiongkok

  • 01 November, 2019
  • Yunus Hendry
Aksi 'Benci Tapi Rindu" Facebook Terhadap Otoritas Tiongkok

(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 17 Oktober 2019 silam, CEO facebook, Mark Zuckerberg mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia mengemukakan bahwa facebook tidak dapat berkoordinasi dengan otoritas Beijing untuk melakukan akuisisi data pengguna. Ironinya, keputusan pendiri facebook tersebut, tidak sejalan dengan niatnya untuk mulai memasuki pasar Daratan Tiongkok, yang notabene memiliki pangsa terbesar di dunia.

Sebelumnya Manajer Umum Houston Rockets of National Basketball Association, Daryl Morey, melalui akun twitter-nya mengungkapkan dukungannya akan aksi warga Hong Kong. Sontak saja, cuitan Morey mendapat kecaman dari para pencinta NBA Daratan Tiongkok. Polemik tersebut telah membangkitkan isu demokrasi kebebasan dengan nilai ekonomi yang ingin diraih NBA di pasar Daratan Tiongkok.

Pada tanggal 17 Oktober 2019, Mark Zuckerberg menyampaikan bahwa facebook akan tetap mempertahankan prinsip kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi. Ia juga menambahkan facebook tidak akan berkoordinasi dengan pemerintah Beijing. Pernyataan tersebut tentu dapat membuat niat Mark untuk memasuki pasar Daratan Tiongkok, mendapat hambatan. Mengingat tindakan Negeri Tirai Bambu yang selalu mengawasi setiap pergerakan dari warganya.

"Saat ini, kita telah memiliki kebebasan, membuat kita dapat lebih leluasa untuk berbicara, melindungi nilai dan kepercayaan kita, memperjuangkan kebebasan berekspresi di setiap sudut dunia"

Presiden NBA, Adam Silver pun membuka suaranya dan mengemukakan bahwa dirinya tidak akan tunduk dengan permintaan Daratan Tiongkok. Hal serupa juga dinyatakan oleh pendiri facebook, Mark Zuckerberg. Namun demikian, niat dari kedua perusahaan Amerika Serikat tersebut untuk meraih pasar Daratan Tiongkok, tidak sejalan dengan pernyataan masing-masing. Apalagi saat ini Negeri Tirai Bambu masih memiliki jumlah pangsa besar di dunia. Di sisi lain, Mark Zuckerberg juga terkesan show off di depan warga Daratan Tiongkok, misal dengan memperlihatkan kemampuan dia berbicara Bahasa Mandarin atau mengambil potret di Lapangan Tiananmen.

Tindakan facebook patut menjadi bahan pertimbangan. Mengingat, Daratan Tiongkok percaya bahwa facebook dijadikan sebagai media untuk menghasut paham separatisme di Xinjiang. Hal ini harus berujung pada pengusiran facebook dan twitter dari Negeri Tirai Bambu pada tahun 2009 silam.

Meski demikian, Mark Zuckerberg tidak pernah menyerah untuk terus mencoba kembali masuk ke pasar Tiongkok. Bulan Oktober tahun 2014 silam, pendiri facebook tersebut melakukan dialog dengan pembicara lokal di Universitas Tsinghua Beijing. Seluruh percakapan dilangsungkan dengan menggunakan Bahasa Mandarin. Selain itu, pada bulan Oktober tahun 2015, Mark Zuckerberg memberikan kuliah singkat dalam bahasa Mandarin di Universitas Tsinghua. Di kala itu, ia menyampaikan akan mengupayakan ragam upaya untuk meminta otoritas Beijing mencabut larangan bebas berbicaranya.

Facebook pun tidak patah arang untuk terus mendekati Daratan Tiongkok. Mereka juga telah mengesahkan penelitian internal pada perangkat lunak, yang mana dapat membuat mitra Daratan Tiongkok memantau serta meninjau topik tertentu yang tersebar di jejaring facebook. Langkah ini mengingatkan publik pada peristiwa yang pernah dilakukan Google sebelumnya. Semenjak tahun 2010, platform pencarian data daring Google telah diblokir oleh pemerintah Beijing. Meski demikian, hingga hari ini Google tidak pernah menyerah untuk memasuki pasar Daratan Tiongkok.

Pada akhir tahun lalu, proyek Google yang diberi nama "Project Dragonfly" kembali mencoba peruntungannya di Daratan Tiongkok. Namun sayang, otoritas setempat menghentikan proyek ini. Facebook di lain pihak, juga kembali memutuskan untuk kembali memasuki pasar Daratan Tiongkok. Media sosial tersebut juga sepenuhnya sadar akan risiko dari terbatasnya hak berbicara dan berpendapat yang berlaku di Negeri Tirai Bambu.

Menghadapi tekanan yang kian besar, facebook mengumumkan untuk melakukan resolusi, yang lebih menitikberatkan pada penggunaan pesan pribadi. "Untuk menghindari terjadinya peristiwa kontroversial yang dapat merugikan salah satu pihak, facebook tidak akan menyimpan catatan atau informasi yang sensitif di negara yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai HAM".

Mark Zuckerberg mengemukakan bahwa dirinya paham akan prinsip yang dipegangnya, akan membuat penggunaan facebook di beberapa negara dilarang. Sama halnya dengan yang diutarakan oleh perwakilan dari NBA yang mendukung warga Hong Kong menprotes RUU Ekstradisi, meski harus mendapat hardikan keras Negeri Tirai Bambu.

 

Komentar