Runtuhnya Tembok Berlin Menyisakan Segelintir Pendukung Politik

  • 30 August, 2019
  • Yunus Hendry
Runtuhnya Tembok Berlin Menyisakan Segelintir Pendukung Politik Sayap Kanan Jerman

(Taiwan, ROC) --- Tembok Berlin yang menjadi simbol pemisah antar negara paham komunis dengan paham demokrasi, runtuh pada tahun 30 tahun yang lalu. Hingga hari ini, patung tokoh dunia Karl Marx masih berdiri tegak di Kota Tua yang terletak di Chemnitz, Saxony. Namun, gelombang kekaguman dari sayap kanan mulai berhembus di kota ini. Pada tanggal 1 September 2019, Kota Saxony akan menggelar pemilu. Situasi perpolitikan di kawasan terkait dinilai akan dapat menguntungkan Partai AFD (Partai Alternatif Jerman), yang menyerukan anti imigran

Setahun yang lalu, ribuan warga yang pro neo-Nazi berkumpul di sekitar patung Karl Marx yang terletak di Kota Kennitz. Mereka mengekspresikan kemarahan mereka terhadap kaum imigran yang berbondong-bondong memasuki Jerman dalam beberapa tahun lalu. Bekas kota Jerman Timur tersebut, dianggap sebagai pusat bagi kelompok pendukung sayap kanan.

Salah seorang warga Kota Kennitz, Olaf Quinger mengatakan, “Ada banyak pengungsi yang benar-benar datang dari zona perang. Kami telah melihatnya. Dan ada juga yang kelihatannya bukan datang dari zona (perang) tersebut. Ini tidak masuk akal. Beberapa orang melarikan diri dari perang, namun mereka adalah kaum minoritas. Pihak lain bahkan mulai menekan negara kami”.

Hal ini terkait dengan sejarah Jerman selama kurun waktu 30 tahun terakhir. Meski runtuhnya Tembok Berlin berhasil membawa gelombang kebebasan ke kawasan Jerman Timur, namun beberapa permasalahan sosial mulai bermunculan disana. Setelah Jerman bersatu, wilayah Jerman Timur mulai mengalami guncangan ekonomi, beberapa pabrik terpaksa harus tutup, yang berbuntut pada meningkatnya jumlah pengangguran. Kesenjangan nasib antar masyarakat Jerman Timur dengan Jerman Barat, masih menjadi pembahasan menarik yang terus dibahas.

Walikota Kennitz yang juga merupakan anggota Partai Demokrat Sosial Jerman (PSD), Barbara Ludwig mengatakan, “Meski sedikit, perbedaan antar Jerman Barat dengan Jerman Timur masih terasa. Untuk generasi muda dan orang yang sering berwisata, serta pihak yang mempersatukan  Jerman. Bagi mereka perbedaan tersebut tidak ada. Namun bagi mereka yang masih mengidentifikasikan identitas diri sebagai Jerman Timur atau Barat, hal ini tentu masih ada”.

Beberapa pihak yang tidak puas akan keputusan Perdana Menteri Angela Markel yang membuka pintu bagi kaum imigran. 1 juta imigran dikabarkan berhasil memperoleh fasilitas kesejahteraan yang setara dengan warga Jerman. Hal tersebut membuat amarah sebagian warga Jerman memuncak.

Tentu saja, tidak seluruh warga Kota Kennitz dan Kota Saxony merupakan pro-pendukung sayap kanan. Pada tanggal 24 Agustus 2019, 40.000 warga Dresden (ibukota Saxony) turun ke jalan dan menyerukan paham anti-rasisme dan mendukung adanya keanekaragaman budaya. Namun, Partai Alternatif Jerman (AFD) masih memegang dukungan tertinggi kedua dalam pemilu tahun ini. Hal ini mencerminkan bahwa bangkitnya kekuatan sayap kanan di Jerman, menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri oleh dunia.