Langkah Daratan Tiongkok Melemahkan Mata Uang RMB Dinilai...

  • 07 August, 2019
  • Yunus Hendry
Langkah Daratan Tiongkok Melemahkan Mata Uang RMB Dinilai Memperkeruh Situasi Perang Dagang

(Taiwan, ROC) --- Kondisi perang dagang antar Amerika Serikat dengan Daratan Tiongkok kian memanas. Baru saja digelar perundingan, kedua belah pihak tiba-tiba kembali mengumumkan pernyataan yang sengit. Baik Amerika Serikat atau Daratan Tiongkok, keduanya telah mengumumkan akan menetapkan tarif pajak yang baru. Selain itu, perang dagang pun telah menyebar hingga ke perang mata uang. Amerika Serikat menuduh Daratan Tiongkok telah memanipulasi mata uang. Hubungan keduanya yang mendingin dan memanas, membuat pasar saham global pun ambruk. Ketika situasi kian memanas, itikad baik dari kedua belah pihak masih tidak terlihat. Hal ini tentu membuat para investor kelimpungan.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada bulan Juni akhir, Donald Trump dan Xi Jin-ping (習近平) sepakat untuk menghentikan konflik perdagangan yang ada. Tim negosiasi dari masing-masing pihak pun bertemu kembali pada bulan Juli akhir. Donald Trump juga menyebutkan bahwa Daratan Tiongkok bersedia untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat. Namun demikian, Daratan Tiongkok kembali menyatakan penundaan untuk membeli produk pertanian Negeri Paman Sam. Penundaan tersebut mendatangkan amarah Donald Trump, ia pun kembali mengumumkan terhitung tanggal 1 September 2019, produk impor Daratan Tiongkok dengan total nilai US$ 300 miliar, akan dikenakan tarif pajak 10%. Tarif baru ini tentu mendatangkan kekhawatiran perekonomian global.

Daratan Tiongkok pun tidak tinggal diam. Otoritas keuangan Beijing mengumumkan akan melemahkan nilai mata uang mereka, guna mengimbangi dampak ekspor. Pemerintahan Donald Trump menyebut Daratan Tiongkok sebagai manipulator mata uang. Faktanya, ini bukan yang pertama kali Negeri Tirai Bambu melemahkan nilai mata uang mereka. Tercatat, di tahun 1994 silam, Beijing pernah melakukan hal yang sama.

Di samping itu, Daratan Tiongkok menyerukan untuk memberhentikan seluruh pembelian produk pertanian Amerika Serikat. Seruan dinilai untuk menyerang negara bagian Amerika Serikat, yang memiliki pemasukan utama dari sektor pertanian. Sebelumnya, Beijing juga telah menetapkan tarif pajak atas produk kacang kedelai Amerika Serikat, yang membuat pemerintahan Donald Trump harus merogoh kocek sebesar US$ 28 miliar, guna untuk memberikan kompensasi kepada pihak petani.

Pakar menganalisis langkah Amerika Serikat yang panas dingin dinilai sebagai salah satu faktor penyebab konflik ini harus berlarut dan berkepanjangan. Hardikan dan komentar pedas dari Donald Trump bak senjata perang yang siap menembakkan kejutan.

Langkah Daratan Tiongkok yang sengaja mendepresiasi mata uang mereka, dinilai merupakan contoh panutan yang tidak baik. Jika hal ini dicontoh negara-negara lain, maka dinilai dapat merusak tatanan perekonomian dunia.