Kecurigaan Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny Diracun Kian Kuat

  • 01 August, 2019
  • Yunus Hendry
Kecurigaan Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny Diracun Kian Kuat

(Taiwan, ROC) --- Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara selama 30 hari. Ia ditahan karena aksinya menentang keputusan Moskow, yang tidak mengizinkan kandidat independen untuk turut serta dalam pemilihan dewan anggota di daerah. Tanpa disangka, selama dipenjara, ia dikabarkan menderita alergi parah. Namun, pihak luar meyakini bahwa Navalny kemungkinan diracun. Selain itu, pada akhir pekan lalu, ribuan demonstran ditangkap karena ikut dalam protes di Moskow. Penindasan terhadap perbedaan pendapat oleh otoritas Moskow, mengundang kritik keras dari dunia internasional.

Alexei Navalny meminta masyarakat luas untuk turun ke jalan pada tanggal 27 Juli 2019, guna menuntut digelarnya pemilihan anggota parlemen yang adil. Ajakannya tersebut ternyata mengundang reaksi keras dari otoritas Moskow, yang mengakibatkan dirinya harus mendekam di balik jeruji penjara. Pada tanggal 28 Juli 2019, muka dan kelopak mata Navalny dikabarkan membengkak. Setelah dilarikan ke rumah sakit, Navalny pun harus kembali ke penjara. Namun, kuasa hukum Navalny mencurigai adanya motif lain dibalik peristiwa bengkaknya wajah Navalny.

Dokter yang menangani Navalny, Anastasia Vasilyeva mengatakan, “Hal ini sangat aneh? Ia biasanya mengonsumsi obat yang sama, makanan yang sama. Ia bersama 5 orang lainnya, muncul dalam kondisi fisik yang sehat. Semuanya normal. Namun tiba-tiba, Alexei harus mengalami alergi. Saya rasa ini benar-benar aneh. Mengapa? Faktanya, ada sebuah zat kimia yang masuk ke dalam tubuhnya dan bereaksi”.

Tidak hanya Navalny dan beberapa tokoh oposisi yang harus ditahan, warga sipil yang ikut dalam aksi protes pada tanggal 27 Juli lalu, juga harus menderita fisik akibat dipukuli oleh anggota kepolisian. Jumlah orang yang berhasil ditangkap mencapai 1.400 orang. Berita ini langsung menarik perhatian dunia. Pihak Jerman telah meminta kepada otoritas Rusia untuk segera melepaskan para demonstran. Pihak Prancis juga mengeluarkan kecaman keras atas kejadian yang menimpa Navalny.

Navalny yang berusia 41 tahun, dianggap sebagai lawan politik nomor satu oleh Presiden Vladimir Putin. Dirinya diketahui telah berulang kali ditangkap dan ditahan oleh pihak berwajib, dikarenakan berbagai alasan. Dia berusaha untuk tampil dalam pemilihan presiden tahun lalu, tetapi dilarang karena tuduhan penipuan sebelumnya dalam kasus yang disebutnya bermotivasi politik. Selain itu, Navalny menderita luka bakar serius akibat zat kimia di mata kanannya pada tahun 2017, setelah ia diserang dengan pewarna antiseptik.

Sulit untuk mengklarifikasi apakah Navalny telah benar-benar diracuni kali ini. Namun, peristiwa penekanan oleh otoritas Moskow terhadap para demonstran, tentu akan dapat mendatangkan kritik dari komunitas dunia.