2 Wartawan Reuters Dibebaskan Setelah Mendekam 500 Hari di...

  • 13 May, 2019
  • Yunus Hendry
2 Wartawan Reuters Dibebaskan Setelah Mendekam 500 Hari di Penjara

(Taiwan, ROC) --- Nilai demokrasi dan kebebasan di dunia pers kembali mendapatkan berita baik. 2 wartawan Reuters, masing-masing Wa Lone dan Kyaw Soe Oo dibebaskan setelah ditahan oleh otoritas Myanmar selama 511 hari. Namun demikian, reputasi internasional dari sosok pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi harus kembali tercoreng, dikarenakan peristiwa penahanan ini.

Pada bulan Desember tahun 2017, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan oleh otoritas Myanmar, ketika mewartakan insiden terbunuhnya kaum minoritas Rohingya. Kedua wartawan tersebut, dianggap telah melanggat UU Perlindungan Pemerintah, dan pengadilan setempat menjatuhkan vonis dengan hukuman penjaran 7 tahun. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo pun mengajukan banding, yang pada akhirnya ditolak mentah-mentah oleh hakim. Di bawah kecaman yang terus dilancarkan oleh komunitas internasional, Istana Kepresidenan Myanmar pada awal bulan Mei mengumumkan akan memberikan amnesti kepada 6000 tahanan, termasuk di dalamnya Wa Lone dan Kyaw Soe Oo.

Wa Lone mengatakan, “Saya sangat berterima kasih atas pihak yang terus membantu kami. Termasuk saat kami berada di dalam penjara, orang orang dari dalam maupun luar negeri terus memberikan dukungannya.”

Saat berada di dalam penjara, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo diganjar penghargaan Pulitzer dan wajah mereka terpajang di sampul depan majalaj TIME. Otoritas Myanmanr pun akhirnya membebaskan mereka. Pejabat setempat mengemukakan kebebasan mereka merupakan bagian dari kepentingan nasional jangka panjang dan bukti bahwa Myanmar mendukung perlindungan Hak Asasi Manusia.

Win Myat Aye mengatakan, “Negara saya sangat menghormati HAM. Kami merupakan bagian dari negara yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Ini juga merupakan bagian dari pengakuan kami akan Piagam PBB.”

Namun demikian, pernyataan ini tidak dapat menghapus reputasi Myanmar di mata dunia. Pada bulan Agustus tahun 2017 lalu, pasukan militer Myanmar diketahui menekan Muslim Rohingya, dan mengakibatkan 740.000 orang terpaksa melarikan diri ke negara tetangga, yakni Bangladesh.

Myanmar berhasil keluar dari kekuasaan militer yang mengenggam erat sistem pemerintahan selama 1 dasawarsa. Pada tahun 2015, pemerintahan Myanmar dipegang oleh Aung San Suu Kyi. Ketika PBB menetapkan bahwa otoritas militer Myanmar telah melanggar HAM kaum Rohingya, Aung San Suu Kyi yang merupakan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, tidak mengeluarkan pendapat apapun. Terkait dengan peristiwa penahanan 2 wartawan Reuters, ia pun memilih menghindar. Meski demikian, Aung San Suu Kyi masih menjadi sosok yang sangat dicintai warganya. Ketika Aung San Suu Kyi harus mendekam dan menjadi tahanan rumah, komunitas internasional terus memberikan suara untuknya. Aksi diam dari Aung San Suu Kyi atas ditahannya 2 wartawan, tentu dapat berimbas pada reputasi dirinya di tengah komunitas global.