Kawasan Libya Kembali Memanas, PBB Menyerukan Perdamaian

  • 11 April, 2019
  • Yunus Hendry
Kawasan Libya Kembali Memanas, PBB Menyerukan Perdamaian

(Taiwan, ROC) --- Semenjak gelombang revolusi unjuk rasa dan protes bangsa-bangsa Arab berkobar pada tahun 2011 lalu, pemerintahan dari penguasa diktator Muammar al-Gaddafi pun runtuh. Setelah Muammar al-Gaddafi berhasil digulingkan, para perwira jenderal setempat diketahui menguasai kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) minyak mentah, yang dimiliki oleh Libya. Pekan ini, suasana setempat dikabarkan kembali memanas. Penguasa militer di bagian timur Khalifa Haftar dan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj, akhir-akhir ini terlibat perseteruan yang cukup sengit. Keributan yang terjadi, telah merugikan keselamatan warga sekitar. Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa pun harus turun tangan dan meminta mereka untuk menghentikan perseteruan.

Walaupun pemerintah Tripoli di sudut barat laut Libya telah mendapatkan pengakuan dari dunia internasional, namun Khalifa Haftar masih tetap mempertahankan cengkeramannya atas Libya bagian timur. Pada awal tahun ini, pasukan Khalifa Haftar berhasil menyapu kawasan selatan, mengendalikan ladang minyak dan pangkalan militer.

Tidak puas dengan perundingan damai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Khalifa Haftar diketahui melancarkan serangan ke kawasan Tripoli pada pekan lalu. Tindakan Khalifa Haftar tersebut, selain telah melumpuhkan satu-satunya bandar udara di Tripoli, juga telah mengakibatkan warga setempat merasa ketakutan.

Juru Bicara PBB mengatakan, “Staf kemanusiaan lokal kami melaporkan bahwa kekerasan yang terjadi kawasan Tripoli dan sekitar meningkat. Hal ini telah menyebabkan 3.400 warga mengungsi. Bantuan kemanusiaan darurat kami pun tidak dapat menjangkau warga sipil. Keributan ini juga telah merusak kabel-kabel listrik. Konflik bersenjata kini juga telah masuk area perumahan. Dan dikabarkan ada sebagian warga yang terjebak dan tidak dapat melarikan diri.”

Semenjak rezim Muammar al-Gaddafi jatuh pada tahun 2011 lalu, otoritas Libya jatuh ke tangan pasukan teroris. Meskipun berbagai perundingan damai antar Khalifa Haftar dan pemerintahan Libya terus digalakkan, namun hal ini belum memperlihatkan kemajuan berarti.

Pasukan Khalifa Haftar memiliki kekuatan militer yang kuat. Setiap harinya mereka dapat mengendalikan lebih dari 1 juta barel minya mentah. Kekuatan militer yang dimilikinya dikabarkan dapat menaklukan Tripoli dan seluruh kawasan Libya. Namun demikian, pertahanan dari Ibukota Tripoli mendapat dukungan dari dunia internasional, yang mengakibatkan gerak gerik pasukan Khalifa Haftar menjadi kian sempit. Kondisi peperangan merupakan ancaman bagi seluruh umat manusia dan gejolak yang tengah terjadi di Libya sudah sepatutnya menjadi perhatian dunia.