Perlawanan Huawei Terhadap Pemblokiran Amerika Serikat

  • 13 March, 2019
  • Yunus Hendry
Perlawanan Huawei Terhadap Pemblokiran Amerika Serikat

(Taiwan, ROC) --- Salah satu pemasok peralatan jaringan komunikasi terbesar di dunia asal Daratan Tiongkok Huawei mendapat pukulan bertubi-tubi dari pemerintah Amerika Serikat. Negeri Paman Sam tidak hanya berupaya untuk mengekstradisi Kepala Direksi Keuangan Huawei Meng Wan-zhou (孟晚舟) ke Amerika Serikat, melainkan telah melarang seluruh agen federal AS untuk membeli produk Huawei. Menanggapi hal ini, Huawei-pun menyerang balik. Perlawanan dari Huawei juga mendapat dukungan dari otoritas Daratan Tiongkok yang dari awal memang tidak puas dengan tindak tanduk Amerika Serikat dan Kanada. Salah satu langkah yang diterapkan pemerintah Negeri Tirai Bambu adalah memblokir produk brassica napus/kanola (salah satu tumbuhan penghasil minyak) milik Kanada.

Amerika Serikat telah lama mencurigai Huawei yang menjadi salah satu mata-mata Daratan Tiongkok. Dan berdasar pada Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional, pemerintah Amerika Serikat melarang seluruh unit pemerintahan membeli peralatan dan layanan Huawei. Pemimpin Huawei Guo Ping (郭平) beberapa hari lalu mengumumkan bahwa dirinya telah mengajukan tuntutan kepada pengadilan federal AS. Ia menuntut bahwa Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional telah melanggar konstitusi Amerika Serikat sendiri. Guo Ping bahkan menuduh Negeri Paman Sam-lah yang menyusup masuk ke dalam server Huawei dan memfitnah Huawei.

Guo Ping mengatakan, “Pemerintah Amerika Serikat-lah yang terus berusaha mendiskreditkan dan menyesatkan opini publik terhadap Huawei.”

Pendiri Huawei Ren Zheng-fei diketahui memiliki latar belakang keluarga dari angkatan militer Daratan Tiongkok. Selain itu, ia juga memiliki hubungan akrab dengan otoritas Beijing. Ditambah lagi dengan adanya Undang-Undang Intelijen Nasional Daratan Tiongkok, yang memberi Beijing kuasa untuk memaksa Huawei mendukung pekerjaan intelijen. Hal-hal demikianlah yang membuat dunia internasional kian khawatir akan keamanan informasi dari perangkat Huawei. Selain Amerika Serikat, beberapa negara di dunia mulai khawatir akan isu keamanan data informasi yang tertanam dalam jaringan Huawei; meliputi Australia dan beberapa negara barat lainnya.

Pihak Huawei dan otoritas Beijing telah beberapa kali membantah tuduhan Amerika Serikat, mereka menilai ujaran yang dilontarkan Negeri Paman Sam tidak berdasar. Namun setelah kasus ekstradisi Meng Wan-zhou oleh Kanada merebak, otoritas Daratan Tiongkok terlihat turut bertindak membantu Huawei. Selain menahan 2 warganya, Daratan Tiongkok juga memblokir akses impor kanola asal Kanada, dengan alasan produk tersebut telah tercemari hama-hama tanaman. Kabar ini langsung direspon oleh Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland, yang menilai tindakan Daratan Tiongkok tidak masuk akal.

Terkait perihal langkah ekstradisi yang dikenakan atas Meng Wan-zhou, Amerika Serikat menilai bahwa Huawei-lah yang terlebih dahulu melanggar perjanjian internasional. Huawei dituduh telah melakukan kerja sama dengan Iran, yang notabene tengah mendapat sanksi internasional. Tindakan Huawei tersebut dinilai dapat mengancam keamanan internasional. Menanggapi tudingan tersebut, Huawei pun tidak tinggal diam. Perusahaan yang mendominasi jaringan 5G tersebut telah menempuh jalur hukum internasional untuk menyerang balik Amerika Serikat.