Perang Perdagangan Membayangi 2 Pertemuan Akbar Daratan Tiongkok

  • 08 March, 2019
  • Yunus Hendry
Perang Perdagangan Membayangi 2 Pertemuan Akbar Daratan Tiongkok
Perang Perdagangan Membayangi 2 Pertemuan Akbar Daratan Tiongkok

(Taiwan, ROC) --- 2 pertemuan akbar Daratan Tiongkok digelar pada pekan ini; meliputi Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok dan Kongres Rakyat Nasional. Beberapa pakar menganalisa 2 rapat besar ini sedikit banyak akan terdampak bayang-bayang dari perang perdagangan. Kongres Rakyat Nasional telah berlangsung pada Selasa (5/3) dan Perdana Menteri Li Ke-qiang (李克強) mengumumkan akan menurunkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019. Ia melanjutkan akan meningkatkan dana anggaran di sektor pertahanan. Keputusan ini tentu mengundang perhatian dari banyak pihak.

Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok telah berlangsung pada Minggu (3/3). Dalam Kongres Rakyat Nasional Daratan Tiongkok yang berlangsung di Beijing, Perdana Menteri Li Ke-qiang melaporkan hasil kerja pemerintah di depan para pejabat. Ia juga menyinggung perihal tantangan yang telah dihadapi dalam kurun 1 tahun lalu, terutama terkait akan konflik perdagangan antar Daratan Tiongkok dengan Amerika Serikat.

Li Ke-qiang mengatakan, “Kita dihadapkan pada lingkungan eksternal yang terus berubah. Globalisasi ekonomi telah mengalami kemunduran, multilaterisme terpukul dan fluktuasi di pasar finansial global. Terutama terkait dengan dampak negatif yang dibawa oleh perang perdagangan bagi produksi operasi perusahaan dan harapan pasar”

Terkait dengan sengketa perdagangan antar 2 negara adidaya tersebut, Amerika Serikat mengkritisi bahwa Daratan Tiongkok telah membatasi dan mendiskriminasi perusahaan asing. Li Ke-qiang diketahui juga menjawab kritik dari Amerika Serikat, dengan berjanji akan membuka dan melonggarkan pasar Daratan Tiongkok.

Li Ke-qiang mengatakan, “(Daratan Tiongkok) akan mempercepat penerapan aturan menjalin kerja sama perdagangan dengan dunia internasional. Meningkatkan transparansi kebijakan dan penerapan yang konsisten. Menciptakan lingkungan pasar yang adil dan merata, baik bagi perusahaan asing maupun domestic. Memperkuat perlindungan hak dari perusahaan-perusahaan asing.”

Dalam laporan tersebut, PM Li Ke-qiang mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi Daratan Tiongkok akan melambat, dan tidak sesuai dengan yang diprediksi sebelumnya. Tingkat pertumbuhan GDP pada tahun 2019, telah direvisi sekitar 6% hingga 6,5%. Hal ini masih berada jauh di bawah target tahun sebelumnya. Meskipun demikian, Kementerian Pertahanan Daratan Tiongkok mengumumkan akan meningkatkan jumlah anggaran di sektor pertahanan untuk tahun 2019. Jumlah anggaran pertahanan Negeri Tirai Bambu pada tahun 2019 dikabarkan telah melampaui RMB 1 triliun, yakni RMB 1,9 triliun, atau naik 7,5%. Peningkatan yang fantastis ini telah melebihi standar GDP Daratan Tiongkok. Beberapa wilayah pun cemas, akan dampak negatif yang dapat dibawa dari peningkatan dana anggaran ini.

Selain itu, Li Ke-qiang juga mengumumkan akan menurunkan tarif pajak perusahaan dan mengurangi jumlah premi asuransi sosial dengan kisaran RMB 2 triliun. Hal ini dilakukan adalah bukan lain untuk menghadapi fenomena kian melambatnya perekonomian Negeri Tirai Bambu tersebut. Tetapi beberapa pakar menakar langkah ini hanya akan menambah beban finansial Daratan Tiongkok.

Menilik dari hasil 2 rapat akbar ini, dapat dikatakan bahwa Daratan Tiongkok tengah menghadapi ragam tantangan, baik dari internal maupun eksternal. Otoritas Beijing harus lebih dapat menerapkan langkah pengamanan yang ketat. Terutama pada tahun ini, merupakan 30 tahun genapnya dari Insiden Tiananmen. Berdasarkan keterangan dari para aktivis, otoritas Partai Komunis harus mengambil langkah yang lebih ketat untuk menjamin stabilitas negara tersebut. Kabar terbaru berhembus seorang pengacara pembela HAM Lu Ting-ge (盧廷閣) hilang dari peredaran, semenjak dirinya sempat ingin mengajukan revisi konstitusi. Berita ini tentu langsung membuat khalayak umum cemas, terutama akan pembatasan kebebasan dan demokrasi di Negeri Tirai Bambu.