Polemik Pemerintahan Venezuela yang Kian Runyam

  • 30 January, 2019
  • Yunus Hendry
Polemik Pemerintahan Venezuela yang Kian Runyam

(Taiwan, ROC) --- Situasi politik dan ekonomi di Venezuela tengah bergejolak. Juan Guaido menentang kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro, pada pekan lalu mengumumkan bahwa dirinya adalah Presiden sementara Venezuela. Pengumuman ini mendapat sambutan hangat dari negara-negara di Amerika Latin. Namun demikian, industri minyak, militer dan Mahkamah Agung (MA) Venezuela mendukung pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Situasi pelik demikian membuat kondisi Venezuela kian runyam.

Meskipun pemilu di Venezuela sebelumnya sempat menimbulkan kontroversi di masyarakat, namun Nicolas Maduro pada 10 Januari 2019 tetap menjalani proses pengangkatan meneruskan jabatan Presiden Venezuela. Majelis Nasional yang berada di oposisi pemerintahan segera mengambil tindakan nyata. Ketua Majelis Nasional Juan Guaido yang tahun ini berusia 35 tahun, segera mengumumkan untuk mengambil alih kekuasaan administrasi negara dan membentuk pemerintahan transisi serta akan mengadakan pemilu ulang.

Kini pemerintahan Venezuela dipegang oleh 2 pemimpin, dan Guaido pun dikecam beberapa pihak telah melakukan kudeta. Namun demikian, Juan Guaido mendapat dukungan dari pemerintah sayap kanan Amerika Latin, Brasil dan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS). Presiden Donald Trump juga secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Guaido. Tetapi ketika ditanya apakah akan melibatkan militer AS dalam permasalahan politik Venezuela, Donald Trumo tidak memberikan komentar apapun.

Presiden Donald Trump mengatakan, “Kami belum mempertimbangkan apapun dan tidak akan mengesampingkan opsi -opsi yang ada”

Reporter kembali bertanya, “Apakah ini berarti Anda akan mempertimbangkan opsi militer?”

Donald Trump kembali menjawab, “Kami seperti biasa, tidak akan mengecualiakan semua opsi.”

Dalam beberapa tahun terakhir, krisis ekonomi telah menyerang Venezuela. Inflasi yang tinggi, minimnya persediaan obat-obatan dan makanan semakin memperparah keadaan setempat. Dikabarkan telah ada 3 juta masyarakat Venezuela memilih pindah ke negara lain. Kebijakan Nicolas Maduro dituduh telah menenggelamkan perekonomian Venezuela. Ia pun dikabarkan menutup saran dan pendapat dari masyarakat setempat. Untuk melawan aksi menentang dari Majelis Nasional, ia pun membentuk “Dewan Konstitusi”.

Dukungan Gedung Putih terhadap Juan Guaido telah membangkitkan amarah Nicolas Maduro. Ia pun mengumumkan akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, dan meminta diplomat Negeri Paman Sam untuk hengkang dari Venezuela dalam kurun 72 jam. Namun demikian, Amerika Serikat mengabaikan perintah tersebut dan bahkan menjawab bahwa Nicolas Maduro akan berurusan dengan pemerintah Juan Guaido. Maduro di lain pihak tidaklah gentar, ia secara terbuka mengumumkan bahwa pemerintahannya mendapatkan dukungan dari negara-negara besar lainnya; meliputi Rusia dan Daratan Tiongkok.

Pekan lalu terjadi bentrokan serius antar pihak kepolisian dengan para demonstran di Venezuela. Polemik perebutan pemerintahan Venezuela hanya akan membuat situasi politik dan ekonomi memanas. Belum lagi dengan permasalahan penduduk setempat yang perlahan-lahan mulai meninggalkan Venezuela dan mencari suaka perlindungan dari negara lain.