Kericuhan Kuil Sabarimala India Menguak Kontra Nilai Agama

  • 10 January, 2019
  • Yunus Hendry
VKericuhan Kuil Sabarimala India Menguak Kontra Nilai Agama (Sumber Foto: APV)

(Taiwan, ROC) --- Ketika isu-isu feminisme menyentuh tradisi keagamaan, apa yang akan terjadi? Perdebatan demikian kian hari kian terasa, terutama di India, yang notabene merupakan negara terbesar di Asia Selatan. Penganut Agama Hindu Konservartif menentang keputusan Mahkamah Agung dan melarang kaum perempuan untuk memasuki salah satu kuil. Kuil ini secara historis melarang dan menjauhkan kaum wanita untuk mendatanginya. Beberapa hari lalu, diwartakan terdapat 3 wanita sembari ditemani personil keamanan, diam-diam beribadah di kuil ini. Namun hal ini, ternyata mengundang reaksi keras dari masyarakat setempat. Kericuhan pun tidak dapat terelakkan, diketahui 1 orang tewas dan ratusan orang luka-luka.

Peristiwa menyedihkan ini terjadi di Kuil Sabarimala yang terletak di Provinsi Kerala, India Barat. Menurut tradisi Hindu, bagi wanita yang berusia 10 hingga 50 tahun, dilarang memasuki kawasan kuil di kala masa menstruasi. Mahkamah Agung India pada Bulan September 2018, telah memutuskan untuk mengizinkan seluruh kaum wanita beribadah di Kuil Sabarimala. Namun demikian, keputusan ini tidak dapat diterima oleh penganut konservatif. Kontra yang terjadi membuat situasi kian runyam.

Yang cukup mengejutkan, ternyata banyak kaum perempuan yang berada di pihak penganut konservatif. Hal ini tentu menambah kompleksitas masalah yang harus berakhir dengan keributan ini.

Ketua Asoasiasi Pemberdayaan Kaum Perempuan Partai Bharatiya Janata (BJP) Mini Harikumar mengatakan, “Kami perempuan selalu mentaati ritual keagamaan selama bertahun-tahun. Perempuan dengan rentang usia 10 hingga 50 tahun, tidak boleh memasuki Kuil Sabarimala. Ini adalah kepercayaan yang kami anut, sebelum hukum pidana dibentuk di India. Ini juga merupakan warisan dan aturan yang ditaati oleh para leluhur selama berabad-abad”.

Namun, sebagian besar wanita mendukung keputusan Mahkamah Agung. Puluhan ribu wanita di Provinsi Kerala pada 1 Januari 2019 lalu, keluar dan bergandengan tangan mendukung kesetaraan gender.

India memiliki populasi sebanyak 1.3 miliar penduduk, status kaum wanita di negara ini diketahui cukup memprihatinkan. Pada tahun 2012 lalu, seorang mahasiswi harus menjadi korban atas insiden pembunuhan keji yang dilakukan di dalam bus. Insiden ini pun mendapat perhatian khusus dari mata dunia. Sebuah survei yang dirilis pada Bulan Juni tahun lalu, menguak bahwa India merupakan negara paling berbahaya bagi kaum wanita di dunia. Peristiwa kericuhan Kuil Sabarimala pada tahun ini, dipercaya sebagai terobosan bagi feminisme di India.

Namun, kentalnya kepercayaan tradisi dan simbol agama di India, dirasa akan menambah kerumitan dari peristiwa Kuil Sabarimala. Ditambah lagi, tahun ini India akan menyelenggarakan pesta demokrasi. Umat Hindu diketahui juga merupakan pendukung utama dari Partai berkuasa Bharatiya Janata (BJP). Konflik nilai agama dan kesetaraan gender, tentu akan kembali menjadi isu yang pelik untuk diselesaikan.