Rencana Marshall

  • 08 February, 2019
  • Yunus Hendry
Rencana Marshall. (Sumber Foto: Wikipedia)

(Taiwan, ROC) --- Rencana Marshall yang memiliki nama resmi Program Pemulihan Eropa (ERP) merupakan inisiatif Amerika Serikat untuk membantu kawasan Eropa Barat. Amerika Serikat diketahui menggelontorkan dana bantuan sebesar US$ 12 miliar. Angka ini setara dengan US$ 100 miliar lebih pada masa saat ini. Bantuan ini diberikan atas niat Amerika Serikat untuk membangun kembali Eropa Barat yang dikala itu telah luluh lantak akibat Perang Dunia II. Rencana Marshall ini diketahui menggantikan Rencana Morgenthau sebelumnya. Program ini berjalan 4 tahun, dimulai pada 3 April 1948. Tujuan AS adalah untuk membangun kembali daerah yang dilanda perang, melenyapkan tembok pembatas di sektor perdagangan, memodernisasi proses industri, memakmurkan kawasan Eropa dan menghalang penyebaran paham komunisme. Rencana Marshall dilangsungkan dengan menetapkan serangkaian kebijakan yang merangsang produktivitas, serta mengadopsi regulasi bisnis yang lebih modern.

Kategori bantuan dana Rencana Marshall terbagi atas pendapatan per kapita negara-negara di Eropa. Negara yang menjadikan sektor industri sebagai kekuatan utama, akan mendapatkan jumlah dana yang besar. Britania Raya diketahui menerima bantuan terbanyak (26%), diikuti Prancis (18%) dan di kala itu Jerman Barat (11%). 18 negara lainnya, juga diketahui mendapatkan percikan bantuan dari dana ini.  Uni Soviet diketahui menolak mentah-mentah bantuan finansial ini, meski AS menawarkannya. Uni Soviet juga memblokir bantuan dana ini kawasan Blok Timur, seperti misalkan Hungaria dan Polandia. Amerika Serikat juga diketahui juga pernah memberikan bantuan serupa di kawasan Benua Asia.

Namun, keberhasilan program ini bagi pemulihan di Benua Eropa masih menjadi bahan perdebatan panjang. Sebagian besar menolak, keajaiban dari Rencana Marshall bagi kemajuan Benua Eropa. Mereka merasa kondisi perekonomian Eropa di kala tersebut memang sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Akuntan dari Rencana Marshall mengungkap bahwa program ini berhasil menyumbang paling sedikit 3% dari pendapatan nasional negara penerima pada rentang tahun 1948 hingga 1957. Dengan kata lain, peningkatan PDB yang dibawa oleh Rencana Marshall hanya berkisar 3%.

Awalnya setelah Perang Dunia II berakhir, seorang industrialis Lewis H. Brown atas permintaan Jenderal Lucius D. Clay menuliskan sebuah laporan yang diberi judul A Report on Germany. Dalam tulisan tersebut, tertera dengan jelas berbagai rekomendasi untuk merekonstruksi kembali Jerman. Tulisan ini juga diklaim sebagai salah satu dasar dibangunnya Rencana Marshall. Nama Marshall diambil dari nama Menteri Luar Negeri AS di kala itu dijabat oleh George Marshall. Program ini pun mendapat dukungan dari Partai Demokrat dan Republik, serta pemerintahan Washington, yang dikala itu Harry S. Truman menjabat sebagai Presiden. Rencana Marshall sebagian besar disusun oleh pejabat dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, terutama pejabat William L.Clayton dan George F. Kennan yang dibantu oleh Institusi Brookings. 

Di lain pihak, Uni Soviet pun telah menyiapkan kebijakan tandingan, yakni Rencana Molotov. Molotov Plan adalah sistem yang diciptakan oleh Uni Soviet pada tahun 1947 dalam rangka untuk memberikan bantuan untuk membangun kembali negara-negara di Eropa Timur yang secara politik dan ekonomi sejalan dengan Uni Soviet. Uni Soviet berusaha tampil sebagai pahlawan ekonomi dengan cara memberi bantuan kredit kepada sekutunya terutama Eropa Timur melalui program Molotov Plan. Uni Soviet dan Negara Eropa Timur mendirikan persekutuan ekonomi pada tahun 1949 yang disebut Council for Mutual Economic Assistence (COMECON).

Saat ini nama Rencana Marshall atau Marshall Plan ini sering dijadikan bahan perbandingan dengan program dana bantuan dari negara-negara besar. Misalkan dengan Kebijakan One Belt One Road milik Daratan Tiongkok, yang dianggap sebagai Rencana Marshall masa kini.