Aksi Rompi Kuning Melawan Pemerintahan Emmanuel Macron

  • 05 December, 2018
  • Yunus Hendry
Aksi Rompi Kuning Melawan Pemerintahan Emmanuel Macron
Aksi Rompi Kuning Melawan Pemerintahan Emmanuel Macron
Aksi Rompi Kuning Melawan Pemerintahan Emmanuel Macron

(Taiwan/ROC) --- Dinding Arc de Triomphe yang merupakan landmark Ibukota Paris dirusak dengan coretan warga. Tidak ada yang menyangka Paris yang dikenal sebagai salah satu kota terindah dunia harus mengalami duka yang mendalam. Gerakan “Rompi Kuning” mulai didengungkan di Paris, sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang berniat menaikkan pajak bahan bakar. Aksi protes ini harus berbuntut pada aksi kerusuhan, yang diklaim sebagai salah satu yang terparah selama 50 tahun terakhir. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada status perekonomian dan pariwisata Paris, namun berimbas pada tingkat dukungan bagi Presiden Emmanuel Macron, yang harus merosot dan hanya tersisa 23%.

Semenjak akhir Bulan November 2018, kumpulan massa yang mengenakan rompi berwarna kuning pun mulai turun ke jalan. Mereka memprotes akan niat pemerintah yang hendak menaikkan pajak bahan bakar. Aksi protes ini terus dilakukan oleh masyarakat Perancis. Namun, pemerintah setempat sepertinya telah bulat dan tetap akan menaikkan tarif pajak tersebut pada awal tahun 2019 mendatang. Presiden Perancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa ia tidak akan menyerah akan kebijakan yang pernah dicetuskannya tersebut. Hal ini langsung direspon dengan aksi masyarakat yang tetap bertahan di jalan-jalan Kota Paris. Aksi protes yang sudah berjalan lebih dari 3 minggu ini, sempat diwarnai dengan aksi kekerasan. Hal ini juga menjadi salah satu perlawanan yang diperlihatkan oleh warga Perancis atas pemerintahan Emmanuel Marcon

Wisatawan Skotlandia mengatakan, “Sebelumnya saya belum pernah melihat kejadian seperti ini di Inggris. Kami melihat ada 40 hingga 50 unit kendaraan kepolisian. Seperti masa perang. Kami belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya.”

Aksi keributan dan kekerasan ini begitu cepat tersebar melalui viral di media sosial hingga ke belahan dunia, yang menimbulkan rasa prihatin masyarakat internasional.

Salah satu pemandu wisata lokal mengatakan, “Semua orang sudah tahu, hingga menyebar keluar. Banyak orang yang menelepon saya dan bertanya perihal; apakah saya baik-baik saja?”

Belasan orang ditahan, karena diduga terlibat dalam aksi provokator kekerasan “Rompi Kuning”. Pusat pertokoan yang terletak di Champs Elysées pun harus menutup tokonya, guna menghindar dari amukan massa. Beberapa dari mereka bahkan melindungi bangunan toko dengan memakai kayu balok. Walau festival Natal akan segera tiba, aksi protes ini terus terjadi dan bahkan meluas. Ditakutkan jika aksi tersebut masih belum dapat mereda, maka akan berimbas pada pendapatan akhir tahun para pengusaha. 

Kebijakan pemerintah setempat pun diuji. Presiden Emmanuel Macron pada tahun lalu diketahui mendapat dukungan dari masyarakat luas, hingga mencapai 66.1%, yang mana menghantarkan dirinya ke kursi nomor satu di Perancis. Namun berdasarkan hasil jajak pendapat yang baru dirilis, tingkat dukungan masyarakat menurun dan hanya tersisa 23%. Reaksi protes yang memberikan tekanan luar biasa tersebut, membuat Pemerintah Perancis harus banting setir dan mengumumkan untuk menangguhkan kebijakan menaikkan tarif pajak bahan bakar. Keputusan mendadak ini, dilakukan semata-mata untuk meredam keributan di negara yang terkenal dengan Menara Eiffel tersebut.