Ancaman Donald Trump dan Akibat bagi Produsen Taiwan

  • 07 December, 2018
  • Yunus Hendry
Ancaman Donald Trump dan Akibat bagi Produsen Taiwan

(Taiwan/ROC) --- Perang perdagangan yang terus bergejolak antar 2 negara adidaya, kini memasuki babak baru. Amerika Serikat diketahui semakin mempertegas ancamannya, tidak tanggung-tanggung perusahaan Apple pun harus terseret dalam konflik nan pelik ini. Presiden AS Donald Trump mengancam akan memasukkan produk Apple dalam daftar penetapan tarif pajak impor, jika negosiasi antar dirinya dan Penguasa Negeri Tirai Bambu Xi Jin-ping pada pertemuan G20 menemui jalan buntu. Mengingat rantai pasokan industri dari perusahaan Apple cukup menggurita di Daratan Tiongkok. Berdasarkan data statistik dari Apple, terdapat 200 industri Daratan Tiongkok yang berperan sebagai salah satu penyedia spare part produk ponsel cerdas tersebut. Dari 200 produsen tersebut, dilaporkan ada 41 pengusaha Taiwan yang meraup rezeki dari produk Apple. Tidak sedikit para pelaku usaha Taiwan yang membangun pabriknya di Daratan Tiongkok, apakah mereka sudah siap dengan ancaman Donald Trump yang bisa memaksa mereka untuk keluar dari rantai pasokan industri Apple?

 

41 Pengusaha Taiwan Menggais Rezeki dari Proses Perakitan Produk APPLE

Data statistik Apple melaporkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 41 pengusaha Taiwan yang mengambil peran sebagai salah satu bagian dalam penyedia sparepart produk Apple; meliputi pengusaha perakit seperti Foxconn, Pegatron dan Quanta. Belum lagi industri semikonduktor, misal TSMC, dan ASE Group, serta perusahaan penyedia komponen, seperti Delta Electronics dan Foxlink. Angka ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017; salah satunya adalah perusahaan Taiwan Foxconn yang memiliki rantai kerja sama dengan industri lokal Daratan Tiongkok. Selain Foxconn, ASE Group juga diketahui memiliki peran yang cukup penting, perusahaan ini diketahui melakukan kerja sama dengan perusahaan dari Taiwan, Daratan Tiongkok dan Korea Selatan. Mereka semua merupakan bagian dari perakitan dan produksi produk-produk Apple.

Berdasarkan data statistik yang dirilis Institut Riset Teknologi Industri (ITRI), jumlah produk IPhone yang berhasil diekspor dari Daratan Tiongkok ke Amerika Serikat pada tahun lalu mencapai lebih dari 67 juta unit, dengan nilai keuntungan mencapai US$46,6 miliar. Selain itu, untuk produk tablet PC dilaporkan mencapai lebih dari 19 juta unit berhasil diproduksi. Belum lagi dengan produk lainnya, misal notebook dan PC yang mencapai 2,8 juga unit. Tidak tanggung-tanggung nilai keuntungan yang berhasil didapat dari 2 jenis produk tersebut, ditengarai mencapai NT$1,7 triliun. Ini adalah profit yang sangat besar, dan jika ancaman Donald Trump yang berniat memasukkan produk Apple ke dalam daftar pajak impor terealisasi, maka ditakutkan dapat mempengaruhi daya jual produk tersebut. Belum lagi efek ini dapat memukul berat pelaku usaha lokal Daratan Tiongkok dan Taiwan. 

Analisa produksi kawasan internasional ITRI Amy Lu (呂珮如) mengatakan “Jika melihat dari posisi pelaku usaha Taiwan, kita tahu 3 pemasok utama produk IPhone asal Taiwan ada Foxconn, Pegatron dan Wistron. Untuk Wistron yang memiliki konsentrasi pasar di India, mungkin hanya akan berdampak kecil. Untuk produk IPad, ada Foxconn, Compal dan Pegatron. Dan sedangkan untuk produk notebook dan PC, ada Foxconn dan Quanta Computer. Produk aksesoris lainnya, meliputi headphone dan jam tangan cerdas, ada Inventec yang membantu proses pemroduksian. Jaringan produksi dari pengusaha-pengusaha di atas rata-rata berada di Daratan Tiongkok”. 

Guna menghadapi ancaman dan ketidakpastian dari penguasa Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok, pengusaha Taiwan yang membangun pabriknya di Negeri Tirai Bambu harus segera memikirkan jalan penyelesaian. Beberapa dari mereka pun mulai merencanakan untuk memindahkan lokasi produksi yang ada di Daratan Tiongkok ke Asia Tenggara atau Amerika Latin. Sekjen Chinese National Federation of Indutries (CNFI) Tsai Lian-sheng (蔡練生) mengatakan, “Jadi saat ini sudah banyak pengusaha Taiwan yang memperhitungkan untuk kembali ke Taiwan, atau memindahkan lokasi produksi ke kawasan di Asia Tenggara. Hal ini dilakukan adalah guna untuk mencegah terkena imbas dari konflik perdagangan. Secara garis besar, untuk pengusaha besar melakukan hal pemindahan akan lebih fleksibel, dikarenakan mereka pada awalnya memiliki basis produksi di beberapa kawasan. Sedangkan untuk pengusaha kecil menengah, ini dirasa akan lebih sulit. Mereka harus memulai mencari lokasi dan membangun kawasan pabrik mereka. Hal ini tentu akan menghabiskan waktu dan modal yang lebih besar”.

Di tengah kerasnya ancaman dan ketidakpastian langkah yang akan diambil Donald Trump, menimbulkan asumsi di banyak pihak yang memperkirakan apakah pengusaha Taiwan akan meninggalkan Daratan Tiongkok. Asumsi  ini dirasa terlalu dini dikembangkan di tengah-tengah masyarakat. CEO dari salah satu pengusaha rantai industri Apple Tung Tzu-hsien (童子賢) baru-baru ini mengemukakan konflik perdagangan yang terjadi antar 2 negara tersebut, meragukan banyak pelaku usaha untuk meneruskan usahanya di Daratan Tiongkok. Banyak dari mereka yang memilih Kawasan Asia Tenggara sebagai tempat pengganti proses produksi. 

Beberapa pihak mengira Asia Tenggara memiliki potensi yang sama dengan Daratan Tiongkok. Namun hal ini dibantah oleh kalangan yang merasa populasi Kawasan Asia Tenggara tidak sama atau bahkan jauh berada di bawah Negeri Tirai Bambu. Belum lagi dengan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) di Asia Tenggara, yang dalam 10 tahun terakhir ini dilaporkan mengalami peningkatan cukup tajam; misal Filipina dengan upah minimum US$ 650 meningkat menjadi US$ 2700, atau Vietnam yang dari US$ 900 naik menjadi US$ 3000. Belum lagi isu pembebasan lahan yang terkenal sangat sulit di kawasan ini, menambah keraguan dan menyusutkan keinginan pengusaha Taiwan untuk bermigrasi ke kawasan Asia Tenggara.

 

Peliknya Konflik Perdagangan Berimbas pada Merenggangnya Hubungan Produsen Taiwan dengan Daratan Tiongkok 

ITRI menganalisa walau Asia Tenggara tidak dapat menggantikan peran Daratan Tiongkok sebagai basis pendirian pusat produksi Taiwan, namun dapat dipastikan bahwa hubungan Negeri Tirai Bambu dengan Taiwan tidak akan sebaik dahulu. 

Analisa produksi kawasan internasional ITRI Amy Lu mengatakan, “Dikarenakan proses produksi telalu berpusat pada satu titik, saat ini juga tengah menghadapi permasalahan kurangnya tenaga kerja dan upah buruh yang meningkat. Hal ini memang sudah tidak seindah dahulu, sehingga pengusaha Taiwan terus berusaha mencari tempat berikutnya. Beberapa produsen perakitan, mereka juga telah mengembangkan usahanya hingga ke India. Kami juga melihat permintaan domestik di kawasan Asia Tenggara yang tengah meningkat, dan oleh sebab itu kami akan memikirkan kembali perencanaan pembangunan disana. Pembangunan proses produksi di Asia Tenggara, sekaligus menjawab permintaan pasar lokal. Dan jika pasar permintaan domestik Asia Tenggara meningkat ditambah dengan kemampuan produksi yang handal, bukan tidak mungkin hal ini akan dimanfaatkan oleh pengusaha Taiwan untuk membawa sebagian usahanya keluar dari Daratan Tiongkok”.

Menghadapi situasi perekonomian dan pasar global yang kian berubah, pemerintah Taiwan juga telah sedari dulu menyerukan kepada seluruh pelaku usaha untuk segera bertransformasi. Model usaha Taiwan yang berpusat pada industri kecil dan menengah, menyebabkan Taiwan sulit menciptakan produk sendiri. Namun demikian, Foxconn yang merupakan salah satu produsen perakit produk Apple, diketahui telah memperluas bisnis dan meningkatkan kemampuan merakit menjadi salah satu sumber inovasi untuk menciptakan moda transportasi yang baru. Melalui berbagai program pembelajaran, diharapkan ke depannya Foxconn dapat mengembangkan kemampuan SDM yang handal. Namun di tengah peliknya situasi konflik perdagangan antar Daratan Tiongkok dan Amerika Serikat, dirasa dapat membuat pengusaha-pengusaha Taiwan sakit kepala.