close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Academia Sinica Temukan Vaksin mRNA Antisipasi Varian Omicron

  • 12 February, 2022
  • 譚雲福
Academia Sinica Temukan Vaksin mRNA Antisipasi Varian Omicron
Academia Sinica Temukan Vaksin mRNA Antisipasi Varian Omicron

        (Taiwan, ROC) – Dalam hal penanganan melawan virus COVID-19 yang bermutasi, Academia Sinica Taiwan dalam beberapa hari terakhir ini, selangkah lebih maju dibandingkan negara lain di dunia dalam hal menangani varian Omicron, dengan memaparkan hasil riset penelitian 4 jenis vaksin mRNA generasi ke dua, yang mana ada di antaranya yang berhasil melawan virus varian Omicron, dan diprediksi akan diajukan ke dalam pemeriksaan selanjutnya pada bulan Februari ini.

        Kepala Pelaksana Pusat Riset Penyalinan Biomedical Academia Sinica, Dr. Tao Mi-hua pada hari Jumat tanggal 11 Februari saat menerima wawancara dari pihak media menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 mulai memberikan dampak pengaruh terhadap kesehatan di Taiwan sejak awal tahun 2020, oleh sebab itu Kepala Academia Sinica James C. Liao memutuskan untuk membentuk tim riset penelitian vaksin mRNA, guna mengantisipasi kebutuhan akan vaksin di masa mendatang, sekaligus membangun hak paten intelektual baru, pengembangan indikasi baru untuk vaksin mRNA, yang mencakup vaksin untuk penyakit kanker dan penyakit menular lainnya.

        Dr. Tao Mi-hua menjelaskan bahwa Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO pada tanggal 26 November 2021 mengumumkan bahwa varian Omicron adalah jenis varian mutasi terbaru yang berkategori perubahan terbesar. Pihak Academia Sinica pada bulan Desember 2021 juga memutuskan untuk menjadikan Omicron sebagai target baru penelitian, dengan menguji kematangan tim riset dalam menghadapi terjadinya mutasi dadakan, dalam hal ini juga mencakup kecepatan riset yang dimiliki oleh tim riset yang ada. Tim riset kemudian berhasil menyelesaikan pembuatan templat contoh dalam kurun waktu 2 pekan, dan menyelesaikan pembuatan vaksin mRNA dalam kurun waktu 1 pekan.

        Tim riset kemudian berhasil mengembangkan 4 jenis vaksin mRNA, yang mana mencakup vaksin dengan target virus awal Wuhan, varian Delta, varian Omicron dan varian gabungan mutasi antara Delta dan Omicron. Dari hasil penelitian dengan melalui pengetesan terhadap virus palsu terhadap daya tahan tubuh yang ada membuktikan jika vaksin yang diciptakan tersebut mampu bereaksi terhadap virus awal Wuhan, namun dalam menghadapi varian Omicron, hanya mampu memberikan reaksi 1/13 dibandingkan virus awal Wuhan.

        Akan tetapi, jika vaksin Omicron sendiri jika berhadapan langsung dengan virus varian Omicron, berhasil memberikan reaksi 37 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan virus awal Wuhan, namun jika berhadapan dengan virus varian lainnya tidak memiliki reaksi sama sekali.

        Dr. Tao Mi-hua menyebutkan jika tim riset akan menambahkan dosis yang lebih tinggi terhadap keempat vaksin yang diuji tersebut, kemudian menyuntiknya ke tikus percobaan yang telah mendapatkan 2 kali dosis vaksin untuk virus awal Wuhan, maka keempat vaksin yang ditemukan tersebut mampu memberikan perlawanan yang efektif terhadap 4 virus yang disebutkan, hanya saja langkah yang dipergunakan berbeda dan akan menghasilkan kekebalan terhadap sel T.

        Dr. Tao Mi-hua menjelaskan jika pihaknya sama sekali tidak pernah membayangkan mampu menemukan pengembangan vaksin yang jauh lebih maju dibandingkan negara lain di dunia, oleh sebab itu pihaknya juga akan segera mempercepat penulisan materi tesis yang ada, dimana untuk peluncuran pertama dirilis dalam BioRxiv, akses terbuka repositori ilmu biologi pracetak, pada tanggal 31 Januari 2022. Hal ini juga akan segera ditindaklanjuti dengan penambahan hasil tes uji tambahan dan diprediksi makalah resmi akan dalam diselesaikan dalam pertengahan bulan Februari tahun ini, sekaligus akan melalui tahapan pengujian, baru kemudian pengumuman secara resmi.

        Akan tetapi, Dr. Tao Mi-hua menegaskan jika semua hasil penemuan obat terkait, harus melalui sebuah riset penelitian jangka panjang, mulai dari laboratorium uji, manufaktur farmasi, uji klinis dan masih banyak tugas lainnya yang harus dilewati terlebih dahulu. Hingga kini, pihak Academia Sinica masih berada dalam kondisi riset penelitian uji vaksin, barulah kemudian akan ditindaklanjuti dengan memasuki tahapan manufaktur farmasi, dimana harus melewati pengujian bahan baku obat, tes keamanan obat, resep obat dan juga analisa efektifitas obat-obatan yang ada, barulah kemudian memasuki tahapan uji klinis.

        Dr. Tao Mi-hua menyebutkan jika teknologi yang berhasil ditemukan tersebut, tidak semata mampu menangani masalah vaksin COVID-19 semata, akan tetapi juga mampu digunakan dalam mengangani masalah penyakit kanker, flu musiman, virus Zika, alergi, pengobatan genetik dan lain sebagainya.

Komentar

Terbarumore