Beredar Dokumen Negara Palsu yang Akan Memasukkan Limbah Fukushima di Internet,   Istana Kepresidenan Menunjukkan 5 Kesalahan Besar dan Melaporkannya ke Pihak Kepolisian

  • 16 April, 2021
  • 陳柏萇
網傳假公文指將引進福島污水 總統府提5大錯誤且報警處置

 (Taiwan, ROC) – Juru Bicara Istana Kepresidenan Taiwan, Chang Tun-han (張惇涵) pada hari ini (Jumat, 16/4/2021) mengemukakan, baru-baru ini terdapat sebuah gambar dokumen resmi Istana Kepresidenan palsu yang telah beredar di internet dan tidak diketahui jelas sumbernya, yang secara keliru menebarkan berita bohong (hoaks) jika pemerintah Taiwan akan memasukkan air limbah nuklir dari Jepang. Juru Bicara Istana Kepresidenan Taiwan, Chang Tun-han (張惇涵) beserta juru bicara dari Partai Progresif Demokratik (DPP), Liu Kang-yan (劉康彥) pada Jumat (16/4) menyampaikan, informasi tersebut adalah HOAKS, merupakan informasi palsu, dan juga merupakan standar dari metode “perang kognitif”. Setelah Istana Kepresidenan mengetahui kabar tersebut, pihaknya bergegas melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian untuk segera ditangani. Istana kepresidenan juga dengan Khusyuk mengimbau semua lapisan masyarakat tidak turut menyebarkan informasi palsu tersebut tanpa mengetahui terlebih dahulu kebenarannya.

Berita bohong tersebut bertuliskan “Guna membantu negara sahabat dalam mengatasi kesulitan dalam pengolahan limbah, pemerintah Republik Tiongkok (ROC) dan pemerintah Jepang mencapai kesepakatan untuk memasukkan sebagian air limbah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima di Jepang ke Taiwan untuk diolah.” Baik Chang Tun-han (張惇涵) maupun Liu Kang-yan (劉康彥), menunjukkan lima kesalahan yang terlihat jelas dalam gambar hoaks tersebut, dan membuktikan jika dokumen palsu ini ditulis dengan sangat buruk, dan juga memiliki pengetahuan tentang kebiasaan serta sistem pemerintahan Taiwan yang sangat rendah.

Tanggal penerbitan dokumen palsu tersebut adalah pada tanggal 16 April, tetapi telah marak beredar di internet dan di jejaring Twitter pada tanggal 15 April, metode "dokumen resmi palsu dari masa depan" ini terlalu kasar dan dibuat secara sembarangan. Kedua, jika Istana Kepresidenan mengirimkan surat kepada Kementerian Pertahanan Nasional, maka pihaknya akan menulis “Kementerian Pertahanan Nasional / 國防部” melainkan bukan “Kementerian Pertahanan Nasional Republik Tiongkok /中華民國國防部”, metode tulisan tersebut tidak hanya dicap terlalu berlebihan, tetapi juga tidak digunakan dalam metode penulisan dokumen resmi pemerintah Taiwan.

Selain itu, Chang Tun-han (張惇涵) juga menambahkan, Huruf“后 Hòu / Setelah”pada  ”公布后解密/ Deklasifikasi setelah diumumkan” ditulis menggunakan aksara huruf mandarin sederhana, teknik dan niat perang kognitif itu terbukti dengan sendirinya. Lagipula penggunaan istilah seperti, “中華民國臺灣高雄市 / Kota Kaohsiung, Taiwan, Republik Tiongkok” yang tertera pada gambar dokumen palsu, dan penggunaan kata “Nomor Status Militer” yang dilampirkan oleh Kolonel Sun, bukanlah kosakata yang umum digunakan oleh masyarakat Taiwan, dan juga bukan cara yang biasa digunakan dalam dokumen resmi negara. Terakhir, tidak ada “rapat kabinet” di Istana Kepresidenan Taiwan.

Chang Tun-han (張惇涵) menuturkan, baru-baru ini juga banyak pesan palsu serupa yang bertujuan untuk menghancurkan persatuan internal masyarakat Taiwan, merupakan ciri khas dari metode perang kognitif yang menyesatkan publik. Istana Kepresidenan mengingatkan kepada media dan seluruh komponen masyarakat untuk dapat lebih waspada terhadap dokumen yang tidak diketahui sumbernya, dan memperhatikan perlindungan keamanan informasi pribadi. Jubir Chang Tun-han (張惇涵) juga berharap, agar semua lapisan masyarakat tidak menyebarkan informasi palsu atau berita bohong (hoaks) tersebut.

Jubir Partai DPP, Liu Kang-yan (劉康彥) juga menjelaskan, istana kepresidenan setelah mendapatkan kabar tersebut bergegas mengklarifikasinya, dan juga telah melaporkan kasus tersebut untuk ditangani pihak kepolisian. Serta mengimbau kepada semua lapisan masyarakat untuk tidak menyebarkan berita hoaks tersebut tanpa mengetahui terlebih dahulu kebenarannya seperti apa. Apalagi, banyak sekali seperti informasi-informasi palsu yang serupa marak beredar di internet akhir-akhir ini, yang bertujuan untuk menghancurkan kesatuan dalam masyarakat Taiwan, dan juga ciri khas dari metode perang kognitif yang menyesatkan publik.

Komentar

Terbarumore