Bank Sentral Lepas Tangan, Pengekspor Kalang Kabut, Nilai Tukar US$ 1 Bertengger pada NT$ 28,5

  • 05 December, 2020
  • 譚雲福
Bank Sentral Lepas Tangan, Pengekspor Kalang Kabut, Nilai Tukar US$ 1 Bertengger pada NT$ 28,5

        (Taiwan, ROC) – Pada hari Kamis tanggal 3 Desember, nilai tukar mata uang Amerika terhadap mata uang dolar Taiwan, ditutup pada angka 28,668. Dolar Taiwan pun mencatat sebagai yang tertinggi selama 9,5 tahun terakhir. Hari Jumat tanggal 4 Desember pagi hari, sempat menyentuh angka 28,4, kemudian naik lagi menjadi 28,3. Petugas perbankan menjelaskan jika penahanan nilai tukar yang dilakukan oleh Bank Sentral semakin lama semakin kecil, para pengekspor produk menjadi kalang kabut, sehingga sudah menjual dolar Amerika yang dimilikinya sedari awal. Ini juga dikarenakan oleh alasan banyak yang khawatir jika mata uang dolar Taiwan, berbanding dolar Amerika, jika telah menembus angka 28,5, maka akan sangat sulit kembali ke angka sebelumnya.

        Pakar menganalisa jika kekuatan utama dalam bursa valas hanyalah tersisa perusahaan pengekpor dan dana asing. Sementara para pelaku usaha bidang asuransi yang sebelumnya kerap banyak membeli dolar Amerika, kini juga mulai menciut, sehingga menguatnya mata uang dolar Taiwan, tidak semata dikarenakan melemahnya mata uang dolar Amerika di pasar internasional.

        Bursa valas Taipei pada tanggal 3 Desember juga muncul perubahan yang cukup dramatis, dimana pada saat pertengahan jual beli, sempat melambung hingga 28,401, bahkan menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 23 tahun terakhir. Sebelumnya Bank Sentral juga masih terus mempertahankan dolar Amerika untuk tetap berada pada angka 28,5, namun setelah gagal dipertahankan, maka mulai mencemaskan para pelaku usaha bidang ekspor. Pada tanggal 4 Desember, saat bursa valas dibuka, dolar Taiwan sempat naik menjadi 28,3.

        Sebelum pandemic COVID-19, bursa valas Taipei dipenuhi dengan jual beli mata uang dolar Amerika, namun kini orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri sangat sedikit, sehingga menimbulkan keengganan untuk melakukan transaksi, ditambah lagi dengan sikap para pelaku usaha bidang asuransi yang sebelumnya adalah pembeli utama mata uang dolar Amerika, kini turut melesu, selain karena mempertimbangkan suku bunga dolar Amerika kini berada di bawah angka 0,5%, membuat banyak orang yang lebih memilih menyimpan uang di dalam negeri saja. Hal ini tentu juga turut memberikan dampak pengaruh terhadap bursa valas. Kini yang menjadi pembeli utama mata uang dolar Amerika hanya tersisa Bank Sentral semata, sehingga saat para perusahaan eksportir juga turut melepaskan dolar Amerika, diperkirakan akan menciptakan ketidakstabilan dalam hal penyediaan dan permintaan di pasar.

        Belakangan ini sikap penekanan untuk kenaikan mata uang dolar Taiwan yang dilakukan oleh Bank Sentral juga semakin melemah, pihak perbankan menjelaskan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Bank Sentral, maka tentu dapat menekan kenaikan mata uang dolar Taiwan. Akan tetapi takkala Bank Sentral mulai membeli dolar Amerika, maka juga berarti akan melepaskan banyak dolar Taiwan di lapangan.

        Sikap Bank Sentral yang lepas tangan terhadap dolar Taiwan, tentu akan memberikan dampak pengaruh langsung terhadap para eksportir. Pihak perbankan menjelaskan, sekalipun demikian, sebenarnya selama ini pihak Bank Sentral juga telah cukup lama melakukan pengawasan harga, yang ditujukan agar perusahaan UMKM dalam negeri dapat dengan cepat melakukan penyesuaian keuangan. Sehingga sikap Bank Sentral juga diakui oleh para perbankan sebagai sebuah langkah yang cukup bijak, selain itu pihak Bank Sentral juga telah kerap kali memberikan pengumuman dan peringatan berkenaan dengan nilai tukar mata uang yang terjadi.

Komentar

Terbarumore