MOCA Taipei Gelar Pameran Seni Lintas Tahun dengan 2 Tajuk Utama “Meridian Suara” dan “Tetesan Cinta”

  • 16 November, 2020
  • 譚雲福
MOCA Taipei Gelar Pameran Seni Lintas Tahun dengan 2 Tajuk Utama “Meridian Suara” dan “Tetesan Cinta”

        (Taiwan, ROC) – Museum of Contemporary Arts (MOCA Taipei) atau museum seni kontemporer di Taipei, per hari Jumat tanggal 13 November menggelar malam pembukaan pameran lintas tahun, dan ini merupakan dua tajuk pameran yang berbeda yang ditampilkan bersama. Pameran yang digelar kali ini, hendak mengajak para pengunjung untuk masuk merasakan budaya suara dan jalan pemikiran manusia yang tinggal di negara yang berbeda. Seperti yang diketahui, dunia yang saat ini dibanjiri dengan ragam informasi melalui jaringan sosial internet, lantas bagaimana caranya untuk dapat menemukan jati diri sendiri, serta kembali menemukan hubungan yang dimiliki oleh setiap manusia dengan komunitasnya masing-masing.

        Dalam menyambut penghujung tahun 2020 dan menyambut kedatangan tahun yang baru, maka pameran skala besar kali ini mencakup 2 pameran khusus, yakni “Meridien Suara” dan “Tetesan Cinta”, yang terlihat berbeda dari tajuknya, namun sebenarnya memiliki jalinan hubungan yang unik, sehingga kedua tema pameran ini dapat menyatu dalam satu gedung.

        Untuk pameran bertajuk “Meridien Suara” sendiri, turut mengundang kurator seni dari Taiwan, Filipina, Singapura dan Malaysia, dengan menggunakan tubuh manusia sebagai bentuk perumpamaannya, menciptakan 4 kebudayaan dari masing-masing negara melalui gelombang suara.

        Untuk Taiwan sendiri, meminjam salah satu judul lagu bahasa Taiyu, yakni “Wu Ya Hue” atau bunga embun malam, yang terus menemani perjalanan perkembangan suara dan instrumen di Taiwan, dan masih menjadi trendi hingga saat ini. Dengan mendalami berbagai macam jenis suara hingga perkembangan teknologinya, dan hubungannya dengan isi jiwa manusia. Untuk Filipina sendiri, menggunakan berbagai macam bentuk sastra, gambar dan audiovisual, kemudian ditata dan menyajikan penelitian sejarah akan riset suara kontemporer di Filipina. Untuk Singapura sendiri, menampilkan karya musisi Chee-Wai Yuan dengan tema “Melantun Records Pop-Up: Electronic Dreams of Tsao Chieh”, yang menampilkan kisah cerita Tsao Chieh, sang pelopor riset musik modern di Singapura, sekaligus menyajikan bagaimana dirinya mampu mempengaruhi perkembangan musik techno Singapura saat ini.

        Untuk Malaysia sendiri, mengundang kurator Sow-Yee Au yang menampilkan pameran bertajuk “Silver Noise: Sound Circuits of Peninsula Malaysia in Parts, on exile”. Pameran mengetengahkan munculnya lagu nasional Malaysia, yang kemudian ditampilkan dengan jenis musik versi lain.

Sow-Yee Au mengatakan, “Lagu nasional Malaysia selama ini selalu memiliki satu hal yang dipermasalahkan, yang dikatakan jika lagu tersebut memiliki irama yang hampir sama dengan salah satu lagu kala itu yang sempat trendi dan menjadi gaya musik Hawaii. Sehingga hal ini kerap ada yang mengatakan jika lagu tersebut adalah hasil contekan, namun ada juga yang berpendapat bukan, sehingga hal ini menjadi bahan keributan berkepanjangan di Malaysia, bahkan jika ada hal atau lagu yang berhubungan atau hampir serupa, semuanya dilarang. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Mengapa ada kemiripan yang sangat dekat dengan lagu di Hawaii? Dan Saya akan memperkenalkannya dalam pameran kali ini kepada semua pengunjung.”

        Kurator pameran kali ini, sekaligus penata pameran bertajuk “Tetesan Cinta” yang menjadi bagian dari pameran khusus internasonal, Amy Cheng, turut mengundang 7 seniman dalam dan luar negeri. Nama tajuk pameran diambil dari hasil karya tulisan Zugmunt Bauman, pakar pengamat sosial dari Polandia (Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds, 2003, arti Mandarin: Tetesan Cinta, kerapuhan hubungan ikatan manusia). Mengajak pengunjung untuk bersama menyelami dunia dengan jaringan internet saat ini, bagaimana pengaruh yang diberikan kepada kehidupan manusia.

        Amy Cheng mengatakan, “Hubungan yang dipertahankan antar sesama manusia saat ini, dapat selalu berada dalam jaringan internet, namun dapat pula keluar dari internet. Kapan saja, kita dapat menyaksikan beragam ruang LIVE di aplikasi YouTube, dan saya juga boleh kapan saja untuk masuk ke ruang lainnya. Dirasakan jika kita telah demikian keluar masuk antar ruang, dan senada dengan maksud yang disebutkan oleh Zugmunt Bauman, akan keberadaan zaman sekarang yang diumpamakan sebagai dunia likuid kontemporer, dimana yang sebenarnya di dunia ini memiliki ragam bentuk bahan pemikiran kembali.”

        Selain itu ada seniman dari Mesir, Hassan Khan dan 11 seniman lainnya, menampilkan pameran yang berbeda gaya, bekerja sama dengan penyanyi lagu jenis rap, yang berhasil mengumpulkan isi materi rekaman skala besar, setelah diedit, barulah kemudian dengan menggunakan mesin penghitung digital, sehingga bisa menciptakan sebuah lagu jenis hip hop yang tidak pernah akan berhenti, namun tidak pernah diputar ulang.

        Seniman Taiwan, Wu Chi-yu, menyajikan karya bertema “The LED Future”, mendeskripsikan keadaan masa depan di saat hanya manusia seorang yang mampu menciptakan sumber sinar, memikirkan kembali konsep inti yang ada di balik papan bersinar tersebut, dan peran yang dimainkan oleh berbagai jenis produk elektronik jenis konsumsi dalam perkembangan perdagangan internasional.

Komentar

Terbarumore