Lord Chris Patten Mendukung Taiwan untuk Berpartisipasi dalam Sidang WHA sebagai Pengamat

  • 24 September, 2020
  • 鄭蕙玲
Ketua Hoover Institution, Condoleezza Rice

(Taiwan, ROC) --- Condoleezza Rice yang baru dilantik menjabat Ketua Hoover Institution pada bulan September ini, melakukan pertemuan dengan Lord Chris Patten pada Rabu kemarin (23/9).

Lord Chris Patten merupakan Gubernur Hong Kong terakhir yang dikirim oleh otoritas Inggris pada tahun 1992 silam.

Pakar demokrasi - Larry Diamond ditunjuk sebagai pembawa acara dalam dialog tersebut. Mereka bertiga terlibat pembahasan mendalam perihal otoritarianisme RRT (Republik Rakyat Tiongkok) yang kian hari kian mencemaskan; meliputi serangan terhadap prinsip kebebasan warga di Hong Kong dan tantangan menghadapi ancaman Negeri Tirai Bambu di negara-negara demokratis lainnya.

Di bawah pemerintahan Inggris, Lord Chris Patten diangkat sebagai Gubernur Hong Kong terakhir pada tahun 1992. Dirinya juga menjadi saksi penyerahan kedaulatan Hong Kong pada tahun 1997.

Politisi yang lahir pada tahun 1944 tersebut, kini menduduki kursi supervisor di Universitas Oxford.

Condoleezza Rice yang pernah menjabat Penasihat Keamanan Gedung Putih dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tersebut, terlibat pembahasan mendalam dengan Lord Chris Patten. Mereka berdua pun bertukar pikiran perihal isu Taiwan.

Mereka sepakat dengan pesan jangka panjang yang dikirimkan oleh otoritas Amerika Serikat kepada Beijing dan Taiwan, yakni tidak mengubah status-quo.

Di tengah intens-nya tekanan RRT terhadap Taiwan, Lord Chris Patten beranggapan, jika dunia luar terus memberikan kesan tidak peduli, maka akan mendorong Penguasa Xi Jin-ping untuk melancarkan aksi "teledor".

Lord Chris Patten mengemukakan, penolakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap partisipasi Taiwan di Sidang WHA sangat-lah tidak berasalan. Mengingat hingga tahun 2017, Taiwan beberapa kali pernah mengemban status pengamat dalam Sidang WHA.

Dukungan finansial WHA juga disokong oleh negara-negara yang menganut paham demokrasi. Lord Chris Patten juga beranggapan jika Taiwan sudah sepantasnya disertakan sebagai pengamat dalam Sidang WHA tahun mendatang.

Lord Chris Patten menekankan, pada masa awal COVID-19 ,jika otoritas Beijing dapat bertindak layaknya Taiwan, maka dunia tidak akan terjerumus ke keadaan hari ini. Ia juga percaya, bahwa negara-negara lain di dunia sudah saat untuk menyampaikan aspirasi mereka untuk menolak Kebijakan Satu Tiongkok.

Lord Chris Patten melanjutkan, peristiwa di Hong Kong merupakan bukti gagalnya penerapan kebijakan RRT. Apalagi saat ini, RRT tengah berada di masa-masa puncak mereka dan didukung oleh kekuatan nasional yang kuat.

Setidaknya ada dua hal yang membuat Lord Chris Patten kuatir melihat kejayaan Negeri Tirai Bambu; meliputi isu hutang dan menipisnya semangat demokrasi, serta kepercayaan RRT terhadap paham totalitarianisme yang semakin kuat.

Lord Chris Patten menambahkan, keberadaan program kerja sama "Five Eyes" menjadi sangat penting. Ia pun berharap otoritas Amerika Serikat bersedia menduduki kursi pemimpin, kemudian memperluas kerja sama dengan Jepang dan Korea Selatan.

Melalui kerangka ini, negara-negara anggota dapat bekerja sama dan saling berkomunikasi, guna mengawasi tindak-tanduk RRT. Di saat RRT tidak mematuhi aturan internasional, Five Eyes diharapkan dapat membantu negara-negara yang menerima tekanan dari mereka.

Menilik definisi yang ditetapkan PBB, peristiwa Hong Kong dan Xinjiang memiliki kesetaraan dengan makna genosida.

Komentar

Terbarumore