Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Taiwan untuk Tahun 2020 Semester Dua Berkisar 1,15%

  • 15 July, 2020
  • 尤繼富
Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Taiwan untuk Tahun 2020 Semester Dua Berkisar 1,15%

(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 15 Juli 2020, Academia Sinica merilis perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi terbaru pada pertengahan akhir tahun 2020, yang diprediksi akan berada di kisaran 1,15%.

Academia Sinica melanjutkan, kecamuk pandemi COVID-19 telah berimbas pada daya beli dan kapasitas investor di dalam negeri. Di samping itu, intensitas produksi dan perdagangan juga mengalami penurunan pesat. Organisasi Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi dunia minus 4,9%.

Academia Sinica melanjutkan, kecamuk virus korona di beberapa kawasan diketahui mulai melambat. Hal ini diperkirakan dapat membuat roda perekonomian dunia kembali menghangat. Namun demikian, di tengah ketidakpastian akibat COVID-19 sedikit banyak akan berimbas pada kemampuan ekspor dalam negeri.

Pemerintah Taiwan sendiri telah mengupayakan berbagai cara untuk menyelamatkan perekonomian domestik. Selain berhasil menerapkan prosedur pengendalian epidemi, otoritas Taipei juga telah mendorong berbagai kebijakan untuk menstimulus kegiatan perekonomian dalam negeri. Academia Sinica merevisi tingkat pertumbuhan ekonomi dalam negeri untuk paruh terakhir tahun 2020 menjadi 1.15%.

Peneliti ekonomi Academia Sinica, Chou Yeu-tien (周雨田) menyampaikan, tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat digerakkan oleh penerapan “Kupon Revitalisasi Triple” akan berkisar 0,4%.

Chou Yeu-tien mengatakan, “Jika menilik dari standar yang lebih luas. Dari yang semula berjumlah 2000 menjadi 3000, atau dengan kata lain akan memiliki efek sebesar 1.5 kali lipat. Jika dinominalkan akan sebesar NT$ 60 miliar lebih. Kemudian dibadi dengan PDB tahunan sebesar NT$ 19 triliun, maka akan ditemukan rasio sekitar 0,4% hingga 0,5%.”

Namun demikian, Academia Sinica menambahkan, perkembangan di dunia internasional masih akan terus berubah. Hal ini akan diperparah dengan situasi perang dagang antar dua negara adidaya yang diperkirakan dapat menimbulkan resiko geo-politik baru. Situasi yang tidak menentu tersebut akan meningkatkan resiko jumlah utang dan memperdalam kerentanan pasar finansial.

Kondisi keuangan internasional masih belum menemukan kejelasannya, sehingga dibutuhkan pengamatan yang lebih akurat, guna memantau perkembangan di masa mendatang.

Komentar

Terbarumore