Remaja Penderita Hemofilia Beserta Sang Ibunda Tiba di Taiwan pada Senin Malam

  • 25 February, 2020
  • 尤繼富
Remaja Penderita Hemofilia Beserta Sang Ibunda Tiba di Taiwan pada Senin Malam

(Taiwan, ROC) --- Seorang remaja penderita penyakit hemofilia tiba di Taiwan pada tanggal 24 Februari 2020. Ditemani sang ibunda, mereka berdua terbang dari Kota Chengdu Republik Rakyat Tiongkok dan mendarat di Bandara Internasional Taoyuan pada pukul 10:46 malam. Pesawat yang mereka tumpangi diketahui mendarat dan terparkir di jalur 601. Personil medis kesehatan pun sudah bersiaga, guna menerapkan prosedur pemeriksaan kepada penumpang terkait. Pada jam 11:36 malam, 1 unit mobil ambulans bergegas menuju ke rumah sakit untuk melangsungkan inspeksi lebih mendalam.  Taiwan Center for Disease Control (CDC) mengirim seorang petugas rumah sakit yang dipilih secara acak. Selain itu, ketiga personil medis yang berada di atas pesawat, diketahui juga mengenakan baju pelindung. Setelah turun dari pesawat, mereka pun segera diantar menuju Rumah Sakit Umum Kota Taoyuan.

Kepala Eksekutif Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan (MOHW), Wang Pi-sheng (王必勝) saat menerima wawancara dari para wartawan pada Selasa pagi menyampaikan, kedua penumpang (ibu dan anak) telah tiba di rumah sakit. Untuk saat ini, keadaan mereka berdua dipastikan tidak ada masalah yang berarti. Mereka pun telah dikirim ke ruangan isolasi khusus (negative pressure isolation room) untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dalam kurun waktu 24 jam pemeriksaan tahap kedua akan dilangsungkan kembali. Wang Pi-sheng menyampaikan, hasil pemeriksaan tahap pertama akan dirilis pada hari yang sama, yakni Selasa 25 Februari 2020. Sedangkan, hasil pemeriksaan tahap kedua baru dapat diketahui pada Rabu siang. Jika hasil keduanya memperlihatkan status negatif, maka ibu dan anak tersebut akan dirujuk ke pusat karantina berikutnya.

Pada tanggal 24 Februari 2020 malam, ibu dan anak penderita penyakit hemofilia tiba di Taiwan. Program kepulangan mereka berdua merupakan kerja sama dari pihak CDC dengan Dewan Urusan RRT (MAC) dan Asosiasi Pertukaran Antar Selat (SEF). Pihak terkait pun menugaskan personil medis secara mendadak, untuk menghantarkan kepulangan kedua penumpang. Personil terkait dikirim ke Kota Chengdu dan ditugaskan untuk menghubungi pihak maskapai penerbangan EVA AIR, yang kemudian berhasil membawa pulang ibu berserta sang anak. Salah satu pihak terkait menyampaikan, berita kepulangan mereka di Taiwan baru diterima pada tanggal 24 Februari 2020 pagi hari. Kepulangan sang anak dari Kota Wuhan tersebut, menjadi keputusan yang diprioritaskan mengingat kondisi kesehatan sang anak.

Jalur penerbangan yang menghubungkan langsung antar kawasan Taiwan dengan RRT, saat ini hanya tersisa 5 rute, meliputi Beijing, 2 bandara Shanghai, Xiamen dan Chengdu. Di tengah status isolasi kota yang hingga hari ini masih berlangsung, membuat orang-orang bertanya-tanya bagaimana sang ibu dan anak dapat keluar dari Provinsi Hubei dan tiba di Kota Chengdu. Hingga berita diturunkan, belum ada jawaban pasti mengenai pertanyaan tersebut.  Sebelumnya, sang ayah dari anak penderita hemofilia tersebut diberitakan sempat mendatangi Kaohsiung Medical University Chung-Ho Memorial Hospital untuk mendapatkan obat-obatan sang anak. Dikabarkan, dosis obat-obatan yang diterima sang ayah tersebut dapat dipergunakan hingga pertengahan bulan Maret mendatang. Namun demikian, proses pengiriman obat ke Kota Wuhan bisa memakan waktu berhari-hari, yang mana akan merugikan keselamatan nyawa dari sang anak. Menurut laporan dari salah satu pihak yang menyampaikan bahwa kesehatan anak sangat bergantung terhadap konsumsi obat-obatan Dan jika kebutuhan akan obat tersebut terputus, maka dapat membahayakan nyawa. Atas pertimbangan kemanusiaan, instansi pemerintah di Taiwan pun segera mencanangkan program kepulangan "khusus", dengan membawa kembali kedua warga Taiwan tersebut ke Taiwan.

Komentar

Terbarumore