Presiden Tsai Kembali Ungkapkan Sikap “4 Harus 4 Hal Yang Diketahui” dalam Sambutan Tahun Baru 2020

  • 01 January, 2020
  • 譚雲福
Presiden Tsai Kembali Ungkapkan Sikap “4 Harus 4 Hal Yang Diketahui” dalam Sambutan Tahun Baru 2020

        (Taiwan, ROC) – Presiden Tsai Ing-wen pada hari Rabu tanggal 1 Januari di depan alun-alun Istana Kepresidenan menyampaikan kata sambutan di hari pertama tahun baru 2020. Dalam kata sambutannya, Presiden Tsai Ing-wen menyebutkan bahwa dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, pihak Daratan Tiongkok terus melakukan serangan yang tiada hentinya terhadap Taiwan, bahkan terus melakukan infiltrasi di berbagai hal, sehingga semakin memperjelas maksud dari sikap yang dilakukan oleh mereka, yakni berupaya untuk memojokkan Taiwan hingga menyerahkan kedaulatan yang dimiliki. Pada awal tahun baru sebelumnya, pimpinan Daratan Tiongkok Xi Jin-ping mengusung program “Satu Negara Dua Sistem”, dan untuk itu Presiden Tsai Ing-wen juga tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Taiwan yang telah memberikan kekuatan besar bagi pemerintah dalam terus menjalankan tugasnya, dan secara tegas memberitahukan kepada masyarakat dunia, bahwa Taiwan tidak menerima program “Satu Negara Dua Sistem”.

        Presiden Tsai Ing-wen menjelaskan bahwa dalam kurun waktu setengah tahun terakhir ini, banyak negara di dunia yang melihat penggunaan “Satu Negara Dua Sistem” di Hong Kong yang berakhir dengan kondisi menyedihkan. Penggunaan otoritas berlebihan oleh pemerintah dalam “Satu Negara Dua Sistem” telah berakhir dengan hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah, demikianlah hal yang terjadi di Hong Kong, menunjukkan bahwa sistem diktator tidak dapat hidup bersama dengan sistem demokrasi di dalam sebuah negara, sehingga “Satu Negara Dua Sistem” juga tidak akan dapat berjalan dengan baik.

        Presiden Tsai Ing-wen menyebutkan bahwa dirinya sempat mengajukan “4 Harus” di tahun sebelumnya, dan mengimbau pemerintah Daratan Tiongkok harus benar-benar melihat kenyataan akan keberadaan Republik Tiongkok, harus menghormati kebulatan tekad terhadap kebebasan demokrasi yang dimiliki oleh lebih dari 23 juta penduduk Taiwan, harus bersikap damai dalam menyelesaikan perbedaan yang ada di antara ke dua belah pihak, haruslah pemerintah atau instansi yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah yang dapat duduk bersama dan melakukan diskusi pembahasan hubungan antar selat. Setahun telah berlalu, sikap Presiden Tsai Ing-wen tidak berubah, dan pada beberapa hari sebelumnya bahkan mengajukan pandangan “4 hal yang diketahui”, menjelaskan jika seluruh masyarakat dan semua partai politik dapat memiliki kesepahaman dalam 4 hal tersebut, maka diyakini jika Republik Tiongkok di Taiwan akan menjadi sebuah kekuatan besar yang tidak ada tandingannya.

        Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Daratan Tiongkok yang kini tengah merusak kondisi di Selat Taiwan, dan bukanlah Taiwan, sehingga takkala pihak Daratan Tiongkok memberikan tekanan kepada kita, maka kita harus memiliki kesatuan dalam bersikap. Yang ke dua, Daratan Tiongkok hendak menggunakan ‘Konsensus 92’, untuk menguras Republik Tiongkok, oleh sebab itu kita harus dapat memperkuat tekad kita, menjaga kedaulatan negara. Yang ke tiga, tidak boleh mengganti kedaulatan dengan keuntungan ekonomi jangka pendek, oleh sebab itu kita seharusnya memiliki sebuah garis batas terendah, guna memastikan diri tidak dijajah. Yang ke empat, harus bersikap waspada akan sikap infiltrasi di segala bidang yang dilakukan oleh pihak Daratan Tiongkok, yang berusaha untuk memecah belah kehidupan sosial masyarakat, oleh sebab itu kita haruslah membangun sebuah sistem untuk melindungi sistem demokrasi yang kita miliki.”

        Presiden Tsai Ing-wen saat menghadiri sebuah kegiatan forum, sempat menyampaikan jika semua pihak internal dapat bersatu, maka dipercayai bahwa pihak Beijing akan baru benar-benar melakukan komunikasi dengan pihak Taiwan. Saat diwawancara oleh media usai upacara kenaikan bendera di awal tahun, Presiden Tsai Ing-wen menjelaskan bahwa bagi setiap pemimpin negara, maka saat menghadapi kondisi yang serba rumit, maka tidaklah mungkin mematok sebuah waktu penyelesaian, karena hal tersebut juga dirasa tidaklah rasional dan bijak. Dirinya berharap agar semua pihak di dalam negeri dapat bersatu padu, dan tidak menggunakan sikap asas praduga terlebih dahulu dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, dan melakukan interaksi pertukaran serta negosiasi secara benar dan bernilai dengan pihak Daratan Tiongkok.

Komentar

Terbarumore